Beranda » ARTIKEL » Education Wisdom » AKREDITASI : LEGITIMASI EKSISTENSI PERGURUAN TINGGI

AKREDITASI : LEGITIMASI EKSISTENSI PERGURUAN TINGGI

Apapun bentuk suatu komunitas, apalagi komunitas tersebut memiliki kepentingan dengan masyarakat luas misalnya dalam konteks ini adalah komunitas ilmiah (institusi pendidikan), maka legitimasi menjadi salah satu indikator penting bagaimana suatu eksistensi institusi pendidikan memahami kehidupan mondial dunia pendidikan secara komprehensif. Apapun justifikasi untuk meredusir pemahaman tersebut, sangatlah tidak relevan untuk kita pahami sebagai suatu pandangan berfikir yang ilmiah sebab justru kita berada pada kultur masyarakat ilmiah. Sehingga dengan demikian kita juga menjadi abai atas pemahaman obyektif yang sesungguhnya tentang eksistensi dan legitimasi tersebut. Salah satu bentuk legitimasi yang menjadi tolok ukur standard pengelolaan akademik sebagai suatu bentuk kredibilitas institusi pendidikan di mata publik yang harus kita pahami secara obyektif adalah penilaian yuridis pemerintah tentang mutu atau kualitas penyelenggaraan program studi yang dilakukan oleh perguruan tinggi (baca : akreditasi pendidikan).

 

Fakta Empiris dan Kecenderungan Realistis

Sebagai suatu ilustrasi, belakangan ini mulai muncul trend atau ada kecenderungan para alumni suatu Perguruan Tinggi baik Perguruan Tinggi Negeri maupun Perguruan Tinggi Swasta mendatangi lagi lembaga almamaternya-bukan untuk sekedar melepas rasa kangen terhadap adik-adik kelasnya maupun sekedar bertemu dengan dosen-dosen waktu semasa kuliah dulu, namun untuk suatu kepentingan mendapatkan informasi tentang peringkat akreditasi almamaternya. Informasi ini sangat diperlukan karena beberapa perusahaan atau institusi yang menampung para lulusan perguruan tinggi saat ini telah menjadikan peringkat akreditasi sebagai salah satu indikator melihat kualitas pencari kerja yaitu dengan melihat kondisi riel almamaternya terlebih dahulu. Saat wawancara pelamar disuruh mencari informasi ke almamaternya berkaitan dengan peringkat akreditasi yang telah diraih serta menyerahkan hasil tersebut ke tempat dimana pelamar mau bekerja.


Dari kecenderungan fenoma tersebut diatas muncul pertanyaan sebegitu pentingkah nilai akreditasi tersebut bagi lulusan perguruan tinggi? Bukankah kompetensi menjadi pilihan  utama bagi perusahaan atau institusi yang ingin memanfaatkan lulusan perguruan tinggi ini.


Akreditasi merupakan salah satu bentuk sistem jaminan mutu eksternal yaitu suatu proses yang digunakan lembaga yang berwenang dalam memberikan pengakuan formal bahwa suatu institusi mempunyai kemampuan untuk melakukan kegiatan tertentu. Dengan demikian, akreditasi melindungi masyarakat dari penipuan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Ciri akreditasi adalah penilaian yang dilakukan oleh pakar sejawat dari luar institusi terkait (external peer reviewer), dan dilakukan secara voluntir bagi perguruan tinggi yang menyelenggarakan suatu program studi.. Kegiatan ini diawali dengan melakukan kegiatan evaluasi diri (self evaluation) terhadap berbagai/ komponen dari masukan, proses dan produk perguruan tinggi yang menyelenggarakan program studi tersebut dan mengirimkan laporannya ke lembaga asesor.

 

Selanjutnya berdasarkan laporan evaluasi tersebut pihak lembaga asesor mengirim beberapa pertanyaan (borang) untuk diisi dan berdasarkan isian tersebut dilakukan kunjungan lapangan (site visit) oleh asesor sebagai tindakan validasi. Dengan kata lain Akreditasi sama dengan status dan proses. Status disni dalam konteks perguruan tinggi yang menyelenggarakan program studi terakreditasi telah memenuhi standar mutu yang telah ditetapkan, sedangkan Proses dalam konteks ini maksudnya adalah proses kegiatan akademik telah dilakukan memenuhi standar mutu dan kecenderungan melakukan perbaikan secara berkesinambungan melalui evaluasi diri.

 

Bagi perguruan tinggi yang menyelenggarakan program studi yang tidak berkeinginan untuk melaksanakan evaluasi diri (penjamin mutu internal) dengan sendirinya tentu belum ingin dinilai pihak eksternal dan sekaligus peringkat akreditasi tidak akan pernah diraih. Berdasarkan hal inilah masih banyak perguruan tinggi yang menyelenggarakan program studi belum memperoleh akreditasi dari lembaga yang berwewenang (seperti Badan Akreditasi Nasioal Pendidikan Tinggi/ BAN-PT) karena belum melakukan kegiatan evaluasi diri sebagai langkah awal untuk mendapatkan sertifikat akreditasi. Menurut BAN-PT akreditasi ini bertujuan untuk: (1) Menjamin mutu program studi/ institusi perguruan tinggi telah memenuhi standar yang ditetapkan (2) Mendorong perbaikan mutu program/ institusi secara berkelanjutan (3). Hasil akreditasi digunakan untuk berbagai hal seperti alokasi dana atau bantuan dari pihak luar.


Saat ini untuk perguruan tinggi yang mengurus akreditasi dilakukan oleh lembaga BAN-PT di bawah Dirjen Pendidikan Tinggi. Terdapat sekitar 14 point yang dinilai oleh lembaga ini terhadap suatu perguruan tinggi yang menyelenggarakan program studi yang berkeinginan untuk diakreditasi antara lain Eligibilitas/ Integritas/ Visi/ Misi/ Sasaran/ Tujuan, Mahasiswa/ Dosen/ Tenaga Pendukung, Kurikulum, Sarana dan Prasarana, Keuangan/ Pendanaan, Tata Pamong (Governance), Pengelolaan Program, Proses Pembelajaran, Suasana Akademik, Sistem Informasi, Sistem Jaminan Mutu, Lulusan, Penelitian/ Publikasi/ Skripsi/ Tugas Akhir, dan Pengabdian pada masyarakat/Keluaran lainnya. Begitu banyak dan rumitnya yang dinilai untuk setiap perguruan tinggi yang menyelenggarakan program studi maka wajarlah para stakeholder menggunakan hasil akreditasi ini sebagai dasar untuk melihat kualitas alumninya.

 

Konsepsi Yuridis – Normatif Akreditasi Perguruan Tinggi

Konsepsi yuridis Akreditasi Program Studi memang tidak mengatur secara tegas ketentuan mengenai standard mutu baku pendidikan di Indonesia yang menyatakan secara langsung wajib bagi suatu perguruan tinggi yang menyelenggarakan program studi atau jurusan melakukan akreditasi. Namun beberapa pasal dari Undang-undang (UU) dan Peraturan Pemerintah (PP) membahas pentingnya suatu perguruan tinggi yang menyelenggarakan program studi untuk melakukan akreditasi agar ingin berkembang secara berkesinambungan (countinous improvement). Implikasi dari pasal-pasal ini mau tidak mau PS harus melakukan kegiatan akreditasi. Pasal-pasal PP/ UU yang membahas tentang akreditasi tersebut diantaranya, Pasal 60 dan Pasal 61 (2) UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional serta Pasal 86 Peraturan Pemerintah R.I.Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.

 

Pada Pasal 60 Peraturan Pemerintah tersebut dinyatakan, kelayakan suatu program studi pada suatu perguruan tinggi dapat dilihat dari capaian akreditasi masing-masing Perguruan tinggi tersebut. Oleh karena itu relevan sekali bagi stakeholder menanyakan status akreditasi perguruan tinggi asal alumni kepada sang pelamar bila ingin mendapatkan suatu pekerjaan. Pasal 61 di atas juga mensyaratkan bahwa yang berhak mengeluarkan ijazah kepada peserta didik adalah satuan pendidikan yang terakreditasi. Pertanyaannya sekarang, apakah setiap perguruan tinggi yang mewisudakan lulusannya telah memiliki status akreditasi seperti yang dinyatakan oleh UU di atas? Apakah anggota masyarakat yang telah menamatkan pendidikannya di suatu perguruan tinggi pernah menanyakan peringkat akreditasi almamaternya? Apakah pers yang telah meliput acara wisuda suatu PT menyorot capaian akreditasinya ?

 

Epilog

Sebagai suatu kongklusi, sebaiknya kita sebagai masyarakat ilmiah harus lebih concern memahami pentingnya eksistensi legitimasi dalam bentuk akreditasi sebagai suatu yuridiksi formal bagi penilaian mutu pendidikan yang kita bangun. Akreditasi sejatinya menunjukkan kemapanan manajemen di perguruan tinggi tersebut. Bagi perguruan tinggi yang belum melakukan kegiatan akreditasi sebenarnya akan mengalami beberapa ketidakberuntungan seperti tidak menerima berbagai bantuan dari pihak lain dan juga akan memberikan keterbatasan bagi lulusannya mencari pekerjaan. Oleh karena itu ke depan akreditasi bagi perguruan tinggi perlu diraih oleh setiap perguruan tinggi yang menyelenggarakan program studi sebagaimana yang dimaksudkan oleh peraturan/UU di atas.

About these ads

16 Komentar

  1. forex mengatakan:

    thx utk artikelnya

  2. massigit mengatakan:

    Saya sdang cari informasi “seberapa pentingkah akreditasi perguruan tinggi”. Mohon ijin copy tulisan (oiya, sumber tulisan juga saya tulis).
    Matur nuwun.

  3. trinanda mengatakan:

    silahkan mas sigit…..saya senang sekali opini dan artikel saya bisa membantu tugas2 mas sigit.. mudah2an menjadi informasi dan wacana yang konstruktif ya..

  4. Rizal chal mengatakan:

    Mb.sekarang saya lagi bingung…. Kalau boleh saya meminta saran dari mb.

    ini masalah akreditasi
    fakultas yang saya jalani memiliki akreditasi C,Dan sempat 2x melakukan akreditasi ulang dan hasilnya tetap C,dan permasalahanya saya akan lulus tahun depan 1tahun lagi,
    dan saya berencana untuk Tranfer ke PT yg memiliki akreditasi B atau A,ini mungkin sulit…..

    pentingkah akreditasi buat dunia kerja?satau saya,seperti kejaksaan,kepolisian,kehakiman,departemen2 pemerintahan lainya biasanya jika mengadakan CPNS syarat utmanya harus dri akrditasi Minimal B,bahkan ada yang A,trus yg C Mu kemana???

    jangka waktu akreditasi ulang dpat dilakukan berapa tahun?dan hasil atau pengumumannya dapat dilihat berapa hari atau bulan?dari hari H pengakreditasian ulang.

    help me…. who_ichal@yahoo.com krim via email juga jawaBanya ya mb.

  5. jefri mengatakan:

    mas ,,
    saya lagi binggung soalnya saya kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta d padang
    ada beberapa fakultas yg telah d akreditasi dan saya berada dalam satu falkutas yang belum terakreditasi
    udah 8 tahun kami tidak mendapatkan hak kami di sana seperti labor dan belum adanya dosen tetap di fakultas ini..
    apa yang harus kami lakukan sebagai mahasisswa yg di rugikan ini..????
    sedangkan kami udah mengadakan rapat besar pada rektor dan dekan kami>>
    yang ada cuma janji-janji palsu saja mas..
    dan apakah pihak propetis akan menolong kami bila kami melaporkan masalah in bang????

    • andi trinanda mengatakan:

      Untuk mas Jefri, pertama-tama saya ikut prihatin dengan situasi dan kondisi iklim akademik di kamous anda. seperti yang sudah sy sampaikan dalam artikel sy, baik secara yuridis maupun normatif eksistensi dan legitimasi perguruan tinggi di Indonesia haruslah tetap mengacu kepada ketentuan baku dan statuta yang diatur pemerintah. pemerintah melalui Kopertis akan terus menyediakan kesempatan bagi perguruan tinggi ybs untuk melakukan proses pencapaian standarisasi tersebut. tentu saja ada implikasi yang akan muncul dikemudian hari jika kebijakan pemerintah ini tidak dijalankan oleh perguruan tinggi. Misalnya saja ketentuan umum mengenai syarat menjadi PNS yg memberikan ketegasan bagi calon PNS yg harus berasal dari PTS yang terakreditasi, kebanyakan perusahaan saat ini juga menyertakan itu di dalam proses rekrutmennya. persoalannya adalah bukan pada diakui atau tidak proses hasil studi dan jenjang akademik mhs. pengakuan tersebut tetap berlaku dan menyematkan anda sebagai seorang sarjana. namun sekali lagi masalahnya adalah lingkungan di luar komunitas akademik juga memiliki parameter dalam “mengakui” eksistensi sebuah perguruan tinggi, dan salah satu parameter tersebut mengacu kepada ketentuan yuridis yang diatur oleh pemerintah. Saran saya, terus memperjuangkan masalah ini secara konstruktif dengan pihak rektorat. jika pihak memiliki political will dan memiliki orientasi mengembangkan kultur akademiknya, maka insya Allah proses ini akan mendapat hasil yang maksimal. biasanya faktor-faktor yang mempengaruhi tidak rensponsifnya perguruan tinggi disebabkan oleh infrastruktur dan suprasutruktur perguruan tinggi yang belum memiliki standarisasi. infrastruktur itu misalnya jumlah dosen tetap dan tidak tetap, dosen kepangkatan yg dimiliki, rasio jumlah mahasiswa, kontinuitas laporan hasil akademik perguruan tinggi kepada kopertis. sementara suprastruktur terdiri dari kapasitas ruang kuliah, kelengkapan penunjang studi (laboratorium, lembaga internal yang dimiliki misalnya lembaga pengkajian, pengabdian, organisasi kemahasiswaan, perpustakaan dan sebagainya. sekali lagi saran saya terus berjuang jika perlu melibatkan institusi2 di luar kampus yang relevan sebagai media pressure untuk mendorong perguruan tinggi memiliki responsibilitas memadai dalam mengemban tanggung jawabnya kepada mahasiswa. semoga perjuangan mas jefri tidak sia-sia. amin.

  6. winner fransisca manik mengatakan:

    ka, mohon sarannya =(
    saya baru saja mendaftar di salah satu universitas swasta di jakarta, untuk jurusan yang belum mendapatkan akreditas.
    yang mau saya tanyakan,
    1) berapa lama jangka waktu universitas untuk mendapatkan akreditas?
    2) jurusan ini baru dibuka tahun 2007 lalu, apakah ada kemungkinan untuk mendapatkan akreditas di 3 tahun mendatang?
    3) atau saya mencabut pendaftaran saya dan mendaftar di universitas lain?
    saya sangat mengharapkan masukan dari Anda.
    terima kasih sebelumnya =)

  7. winner fransisca manik mengatakan:

    saya tunggu response nya =)
    terima kasih

  8. andi trinanda mengatakan:

    to:fransisca
    sebelumnya sukses atas kelulusan anda. seperti yg sudah saya sampaikan diatas di komentar tulisan ini, akreditasi sangat penting. jika ada pilihan lain, tentunya lebih baik anda pilih saja PT yg sudah terakreditasi. berapa lama perguruan tinggi tersebut terakreditasi, bukan menjadi domain kita. Itu ada pada political will lembaga perguruan tinggi. Jika hanya tinggal jurusan anda saja yg belum sementara jurusan2 lain sudah terakreditasi, boleh jadi PT tersebut memiliki keinginan baik untuk juga nantinya mengusahakan jurusan yg anda masuki tersebut diurus akreditasinya, tapi kalo jurusan lain pun sama saja, .. saya tidak mau berfikiran negatif terhadap perguruan tinggi tersebut. Sebaiknya anda mencari alternatif perguruan tinggi lain saja. itu lebih baik buat anda.

  9. Aswad's Room mengatakan:

    info menarik pak. kebetulan barusan mahasiswa saya menanyakan tentang hal itu.
    ijin copas link tulisan bapak ke tulisan saya. terimakasih sebelumnya.

  10. Aswad's Room mengatakan:

    […] well,,,setelah cakar sana cakar sini, akhirnya ketemu juga tulisan yang paling tidak memberikan sedikit pencerahan tentang bagaimana dan berapa lama sebenarnya status akreditasi sebuah perguruan tinggi itu ada. silahkan langsung ke sini. […]

  11. […] well,,,setelah cakar sana cakar sini, akhirnya ketemu juga tulisan yang paling tidak memberikan sedikit pencerahan tentang bagaimana dan berapa lama sebenarnya status akreditasi sebuah perguruan tinggi itu ada. silahkan langsung ke sini. […]

  12. Diian nichlanny mengatakan:

    Ku mw tnya doong ka’, aku udh dftar kuliah d prguruan tinggi swasta, aku mw ambil akuntansi tp kt tmn2 aku minimal akreditasi ajja B,sdangkan yg jurusan akuntansi C,apa itu berpengaruh kl aku nglamar kperusahaan ka’? Setau aku bukannya yg pling pngaruh tu IPK yah ka’? Mohon informasinya yah ka’, replies ke email aku ajja dianie.adeean.astria@gmail.com, makasih ka’

  13. muzakir.az mengatakan:

    kak numpang nanyak kak…tapi sebelumnya terima kasih banyak tulisannya kak….! jadi begini kak….saya salah satu mhs di universitas yg alhamdulillah negeri..tapi masalahnya jurusan yg salah masuk tersebut merupakan satu2nya jurusan yg tdk terakreditasi di fakultas kami…., yg ingin saya tanyakan apakah ada harapan jurusan ini terakreditasi…? soalnya jurusan ini sudah 7 tahun berdiri tapi belum terakreditasi…., dan apa yg harus kami lakukan kak…? makasih kak…

  14. bob kolose mengatakan:

    mas ,,
    saya lagi binggung soalnya saya kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta d sumatra utara, di jurusan saya blm ada surat izin akreditasiny & akreditasi nya blm ada sama sekali! jurusan kmi d buka pada tahun 2010 & blm menamat kn alumni.
    & saya masuk pada tahun 2012,
    apa yang harus kami lakukan sebagai mahasisswa yg di rugikan ini..????
    sedangkan kami udah mengadakan rapat besar pada rektor dan dekan kami,
    yang ada cuma janji-janji palsu saja mas..
    dan ternyata sampe saat ini, pihak dikti sudah menutup surat izin akreditasi,& akan dibuka 5tahun lagi. dan kami akan melakukan audiensi pad tgl 4desember 2013,
    tujuan saya strategi apa yg kmi lakukan mas pada saat audiensi berlangsung.
    mohon solusi nya mas…:-)
    replies k email aku aja mas bobkolose@rocketmail.com

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 1.834 pengikut lainnya.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.834 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: