Pepatah Jawa mengatakan “tresno soko jalaran sokokulino”. Yang artinya cinta bersemi karena sering bertemu. Bagi kebanyakan orang, ungkapan tersebut adalah sebuah keniscayaan atau sebuah kelaziman, bahwa apapun situasi dan kondisinya, dimanapun ia berada, maka sebuah kisah asmara atau percintaan akan lahir, bersemi dan bersemayam di dasar hati dua insan manusia. Ketika rasa itu datang, ia tidak akan mengenal tempat, ruang dan waktu. Semua membatu dan menjadi peristiwa kultural dalam oase kalbu yang bergayut rindu dalam samudera waktu.
Itulah sebuah peristiwa asasi dalam fitrah manusia. Sebuah peristiwa ketika dua insan melakukan proses interaksi dan komunalisme personal. Ketika momentum dan pertautan jiwa menemukan ranahnya untuk menuai kisah integrasi dua perasaan yang saling menemukan pertaliannya.
Dalam keadaan itu, siapapun tak akan bisa melerai dan mengekang terjadinya kristalisasi dua perasaan yang memiliki kesamaan untuk menikmati dan memiliki dermaga hatinya. Tanpa terkecuali, siapapun tak bisa pula memiliki penilaian tentang maksud dan motivasi tersirat kedua insan yang sedang dimabuk kepayang tersebut akan orientasi hubungan yang dilakoninya. Orang lain barangkali hanya sanggup memberikan persepsi dan intepretasi subyektif.
Keunikan berseminya cinta itulah yang membuat peristiwa yang mendampingi atmosfir asmara tersebut menjadi layak untuk di cerna sebagai sebuah sketsa bagi orang lain untuk menilai, tanpa bisa menghakimi. Sebab yang tahu proses dan persemaian motivasi hubungan cinta itu adalah menjadi hak prerogatif dua insan yang menjalaninya.
Sekali lagi apapun peristiwa dan momentumnya. Persoalan cinta memang sulit untuk diintepretasikan. peristiwa apapun baik terduga maupun tak terduga. Ia menjadi hak si pelakon cinta. Termasuk peristiwa hukum dan politik. Ia bisa menjadi latar tumbuhnya aroma cinta itu.
Belum lama ini hembusan aroma cinta datang dari gedung KPK. Gedung yang “menakutkan” bagi para pelaku kourpsi. Ditengah hiruk pikuk skandal besar mega korupsi wisma Atlet yang bersinggungan dengan para tokoh elit partai politik yang diungkap oleh Nazarudin dan Mindo Rosalina Manulang, muncul nama Angelina Sondakh, Andi Malarangeng, Anas Urbaningrum, Wafid Muharram, dan lain-lain yang diduga terkait masalah-masalah skandal korupsi Wisma Atlet dan Hambalang tersebut. Baca entri selengkapnya »
Ditulis oleh andi trinanda 




















