Skenario Duet Dahlan-Hatta 2014, Blunder Partai Demokrat?

Beberapa waktu lalu, tepatnya dalam sarasehan partai demoktrat di Kemayoran 12 Desember 2011, Presiden Yudhoyono selaku ketua dewan pembina partai Demokrat mengemukakan, bahwa hingga kini partainya belum menentukan siapa figur yang akan diusung untuk 2014 mendatang. Bagi Yudhoyono menentukan siapa calon presiden di 2014 mendatang bukan saja harus melalui proses komunikasi panjang dengan ketua umum partai dan jajaran pengurus partai lainnya baik dipusat maupun didaerah. Namun yang jauh lebih penting adalah menjadi presiden perlu dukungan rakyat. Bukan sekedar kemauan politik partai. Nanti jika saatnya tiba partai Demokrat akan mengumumkan siapa calon presiden yang akan diusungnya.

Konteks pernyataan Yudhoyono yang menyatakan bahwa partainya masih perlu mengkaji dan menganalisis secara mendalam berbagai aspirasi masyarakat yang berkembang, tentang siapa yang paling layak menjadi calon presiden pilihan partai pada 2014 mendatang, harus dicermati sebagai sebuah isyarat komunikasi politik seorang politisi. Bahwa sejatinya memang partai demokrat ternyata sudah boleh membicarakan calonnya sejak dini. Sejak sekarang.

Ketika Yudhoyono menyatakan bahwa partai demokrat masih perlu mengkaji lebih dalam dan menganalisis berbagai masukan baik dari parpol maupun dari masyarakat tentang siapa calon presiden mendatang, maka, masyarakat jangan keliru menafsirkan pernyataan tersebut. Bahwa partai demokrat justru akan menimbangnya sekarang.

Barangkali itu yang dipahami para kadernya di partai. Hal tersebut bukanlah ketidakkonsistenan antara komitment ketua dewan pembina selaku pemimpin partai dengan masyarakat. Tapi justifikasi imajinasi politik akan menegasi opini ketidakonsistenan komitmen politik tersebut menjadi sebaliknya, yakni keharusan segera mengimplementasikan sinyal politik dewan pembina sebagai sebuah intepretasi logis yang harus segera direalisasikan ditengah publik.

Itulah yang kerap dilakukan partai demokrat selama ini. Yang paling aktual adalah tentang wacana calon presiden di 2014 mendatang. Ketika dewan pembina mengatakan masih perlu melakukan proses politik panjang terkait langkah-langkah sistematis dan organisatoris mengenai calon presiden yang diharapkan bukan saja pilihan partai, tapi memang sejatinya representasi pilihan rakyat, Namun kenyataanya, tidak berselang satu bulan, kader politik partai mengemukakan wacana tentang calon presiden. Partai politik lain yang diklaim kebelet untuk tidak sabar menunggu 2014 yang kenyataannya malah hingga kini belum mewacanakan capresnya, namun justru partai demokratlah duluan memiliki syahwat tinggi untuk mendiskursuskannya.

Sebagai buktinya, salah seorang elit partai demokrat Ulil Abshar secara serius memunculkan nama baru untuk capres mendatang. Ulil memunculkan nama Dahlan Iskan untuk maju di 2014. Dahlan akan berduet dengan Ketum PAN Hatta Rajasa. Wacana yang disampaikan Ulil bukan main-main. Dia serius akan menindaklanjuti usulnya ke DPP PD.

Menurut Ulil, sosok Dahlan adalah figur yang unik dan menarik. Dengan situasi Indonesia saat ini, tentu akan menarik kalau Indonesia dipimpin oleh orang yang unik. Apalagi selama ini Dahlan sudah membuat sejumlah gebrakan bagus. Dahlan juga menurut Ulil memiliki karakter kepemimpinan yang kuat, praktis dan tidak macam-macam. Untuk sosok cawapres, Ulil melirik nama Hatta Rajasa. Saat ini, dengan kapasitas yang dimiliki, Hatta merupakan tokoh yang bisa menemani Dahlan. Walaupun Hatta diusung PAN jadi Capres.

Dalam konteks komunikasi politik, pernyataan Ulil sejatinya memiliki dua episentrum politis yang harus dicermati dalam berbagai makna simbolik. Makna pertama, ia ingin memberikan positioning kembali akan citra partainya yang makin tergerus karena berbagai kasus yang dialami oleh para kadernya. Publik meyakini bahwa citra partai demokrat saat ini memang terjun bebas karena tidak mampu menjaga momentum dan positioning pasar politiknya.

Ulil ingin mengembalikan positioning partai demokrat dengan membangun korelasi, bahwa figur Dahlan Iskan sejatinya inheren dengan content wajah partai demokrat. Dengan meminjam sekaligus memanfaatkan sosok Dahlan Iskan, Demokrat ingin mengembalikan kepercayaan masyarakat yang mulai degradatif terhadap image partai.Dengan mendorong Dahlan, publik akan dilenakan dengan kemasan baru partai. Harapannya dengan kemasan baru, ibarat sebuah produk, partai demokrat akan kembali menjadi partai yang tidak akan ditinggalkan pelangganya..

Teori politiknya sederhana, ketika political life cycle partai politik mengalami konjungtur, maka proses diversifikasi partai harus menjadi pilihan yang paling urgen dan rasional. Dan diversifikasi tersebut dilakukan dengan meminjam sosok Dahlan yang dimata publik merupakan sosok dengan oase ditengah gurun kelangkaan mencari figur pemimpin masa depan. Dalam konteks ini Ulil memang mencoba membangun public understanding dan public confidence kepada rakyat tentang quo vadis partai demokrat di masa depan yang dipimpin oleh seorang dengan karakter seperti Dahlan.

Makna yang kedua, Ulil ingin memastikan determinasi politiknya direspons oleh publik untuk menakar kedalaman kemauan publik akan kriteria sosok Dahlan dan Hatta Rajasa. Memadukan Dahlan dengan Hatta, atau sebaliknya Hatta dengan Dahlan menunjukkan bahwa partai demokrat ingin mengenang zaman keemasan masa lalu. Dimana saat itu Yudhoyono dan Yusuf Kalla menjadi sosok alternatif ditengah kekakuan kekuasaan politik Megawati. Dan duet Dahlan – Hatta diarahkan untuk menciptakan kemasan baru demokrat untuk promosi di 2014 mendatang.

Melalui wacana duet capres ini, sejatinya publik ingin diarahkan agar sosok atau figur Dahlan menjadi instrumen syarat bagi demokrat untuk kembali mengambil simpati publik. Walaupun berbeda momentum dan perspektifnya. Jika dulu momentum dan peristiwa lahirnya Yudhoyono sebagai Presiden karena “citra terzolimi”, Saat ini momentumnya memang karakter dan perilaku langka pemimpin yang menjadi favorit masyarakat. Seperti yang kerap dilakukan oleh Dahlan menjadi magnet yang sejak dini harus disuguhkan kepada masyarakat.

Dalam konteks ini jelas, kesamaanya adalah partai demokrat ingin memanfaatkan momentum untuk memproduksi citra. Namun berbeda konteks. Dulu citra negatif yang diproduksi oleh Yudhoyono pribadi dan partai demokrat belum tampak, yang tampak adalah citra positif sebagai sosok pemimpin alternatif yang sabar karena terzolimi.

Saat ini, baik citra partai maupun citra Yudhoyono sendiri sudah terbentuk, baik positif maupun negatif dimata publik. Dalam konteks menimbang kembali strategi politik Ulil, maka tentu masyarakat akan menelaah secara rasional, quo vadis keseriusan Ulil dalam konteks mewacanakan capres dengan menduetkan Dahlan dengan Hatta Rajasa. Sekaligus wacana ini juga memberikan ruang yang lebih terbuka bagi opini masyarakat untuk menimbang Hatta yang notabene sudah menjadi representasi wajah PAN sekaligus wajah partai Demokrat karena Yudhoyono dan dirinya telah menjadi “besan politik”.

Yang perlu dicatat adalah barangkali publik tidak akan terkecoh dengan kemasan “baru” yang ditawarkan Ulil kepada publik tentang wajah partai demokrat. Sosok Dahlan adalah memang representasi kelangkaan menemukan sosok pemimpin yang diidamkan masyarakat. Sederhana, tegas, punya karkater namun tidak dibuat-buat.

Ulil mungkin keliru, bahwa sejatinya yang perlu ditawarkan kepada publik adalah bukan sekedar kemasan, tapi juga content . Dan merubah content partai demokrat sepertinya tidak akan cukup memadai untuk menjadi opportunity sekaligus nilai jual efektif kepada rakyat mengingat sejumlah realitas yang diproduksi partai politknya dimata rakyat yang telah kecewa atas kinerja dan perilaku para kadernya sendiri.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.