Akhirnya Bapakku Berangkat Pergi “Haji” Mendampingiku
21 Desember 2010
Hampir setiap pagi, sebelum tiba di gedung wakil rakyat di Senayan tempatku bekerja sebagai anggota DPR, aku biasanya menyempatkan diri untuk melihat penjual cermin, yang menjajakan cermin-cermin di sepanjang dekat pagar gedung wakil rakyat yang megah ini. Sesekali aku sempatkan sejenak untuk berhenti, sekedar mencari tahu atau melihat sosok penjual cermin itu. Walau tidak turun dari mobil dinas pemberian Negara, karena tiap pagi dan sepanjang hari, jalan itu sangat macet. Aku pasti sempatkan diri melihat sosok tubuh kurus mengenakan kopiah hitam yang biasanya duduk di rerimbunan pohon sambil memegang seuntai tasbih menunggu cermin-cermin itu laku terbeli. Ya ..sosok pria kurus berkopiah hitam yang biasa memegang tasbih sambil berjualan cermin itu adalah bapakku. Pak Imron namanya. Pria yang selalu menghampiri pengendara mobil ketika berhenti di depan cerminnya.
Bukan kalimat “..silahkan pak..cermin pak !?” tapi kalimat pertama yang diucapkannya ketika menghampiri kendaraan yang berhenti adalah “mohon maaf pak..jika cermin-cermin saya ini mengganggu penglihatan bapak karena pantulan sinar matahari ke mobil bapak”. Itulah Bapakku, beliau tidak pernah berubah sikapnya selama hampir 20 tahun berdagang cermin di depan gedung DPR/MPR ini, yang dulu waktu aku kecil sering mengajakku menemaninya menjual cermin di lokasi ini.
Pagi ini, aku memutuskan untuk menemuinya. Perasaan berdosa semenjak malam tadi- ketika Bapakku hadir dalam mimpiku, selalu menghiasi kepalaku hingga pagi ini. Aku cari-cari kemana bapakku, tapi tidak ada.
Kata penjual lain, “Pak Imron tidak ada, mungkin sakit pak ?”. Sekejab seketika itu perasaan berdosaku bertambah besar kepada Bapakku. “terima kasih pak ! ”. Bergegas aku kembali ke mobil dan meluncur ke gedung DPR. Aku memang berniat nanti malam akan mengunjungi Bapak dan keluargaku di Cawang. Karena jadwal agendaku hari ini begitu padat.
Ya, aku bersalah dan berdosa. Karena semenjak aku dilantik menjadi wakil rakyat, tak satu haripun aku sempatkan diri untuk bersilaturahmi dengan keluarga dan adik-adikku. Lebih dari itu, aku melihat ekspresi Bapakku semalam yang seolah-olah mengatakan aku harus secepatnya pulang menengok beliau. Bahkan lebaran kemarin saja aku tak sempatkan pulang dan malah mudik ke tempat istriku di Padang.
Terputusnya silaturahimku dengannya terjadi ketika ia menolak untuk ku suruh berhenti jualan cermin di tempat itu. Jujur saja, aku menghadapi kejutan budaya ketika harus duduk di gedung megah itu. Terus terang aku memang malu jika banyak yang tahu bapakku berjualan cermin di pagar gedung tempatku bekerja, sementara aku menjadi wakil rakyat di gedung megah itu. Baca entri selengkapnya »
______________________________________________________________________________________________
SUBHANALLAH, Begitu Mulia Wakil Rakyat Kita
4 November 2010
Suparji tampak keliatan lelah, seperangkat alat pembersih masih tergenggam di tangannya. Selepas menunaikan tugasnya pagi itu, di teras gedung wakil rakyat kita nan megah, Suparji celingunkan, melihat kekiri dan kanan. Takut terlihat atasannya. Maklum pagi itu jam masih menunjukkan pukul 10.15, masih terlampau pagi untuk Parji beristirahat. Namun karena hajatan sunatan anaknya semalam, kondisi fisik Parji pagi itu tidak bisa diajak kompromi.
Kemudian tatatapan matanya yang sudah sayu karena capek itu mengarah kepada sebuah pohon besar di pojok belakang gedung. Rimbun dan teduh dengan terpaan semilir angin yang menerpa daun pohon rindang itu. Perlahan tapi pasti, ia mendekati pohon itu, dan merebahkan badanya yang sudah keliatan renta di atas rumput sebagai alas untuk ia sejenak melepaskan lelahnya. Baca entri selengkapnya »
______________________________________________________________________________________________
Terima Kasih Telah Penjarakan Ibu Saya
Linda terlihat masih syok, sesekali koran ibu kota yang ia genggam ia buka, lalu ditutupnya kembali. Seolah ia tak percaya dengan isi berita di koran tersebut. Tanpa terasa air mata Linda pun tumpah dan menetes di atas koran tersebut dan membasahi separuh halaman surat kabar itu.
Headline surat kabar yang ia genggam itu memberitakan bahwa seorang pejabat daerah terbukti bersalah melakukan tindak pidana korupsi dan dijatuhi hukuman selama 5 tahun penjara. Pejabat yang dimaksud tak lain dan tak bukan adalah Ibunda Linda. Seperti diketahui, kasus korupsi yang melibatkan ibunda Linda adalah salah satu kasus yang menghebohkan dan menyedot perhatian media massa nasional. Selama berbulan-bulan, kasus tersebut menjadi topik pemberitaan karena kasusnya di duga melibatkan sejumlah pejabat negara yang tengah berkuasa saat ini.
Kemarin memang adalah sidang terakhir setelah selama 3 bulan Ibunda Linda mendekam dalam tahanan Pondok bambu Jakarta. Pengadilan akhirnya memutuskan bahwa Ibunda Linda yang bernama Ani Rahmawati dinyatakan terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana Korupsi dana APBN terkait sejumlah proyek pemerintah. Baca entri selengkapnya »





















