ANDI TRINANDA

Beranda » PENDIDIKAN » BSI DAN SPIRITUAL MANAGEMENT APPROACH

BSI DAN SPIRITUAL MANAGEMENT APPROACH

Lembaga pendidikan adalah lembaga yang mengemban misi ganda bagi keberlangsungan eksistensi dan kredibilitasnya dimata publik. Ia bukan cuma mengejar profit making agar tetap survive dalam komunitas dunia pendidikan, namun sekaligus mengemban misi sosial. Misi sosial tersebut dapat dicapai manakala lembaga pendidikan memiliki human capital dan social capital yang memadai dan memiliki tingkat keefektifan yang tinggi. Oleh karena itu maka mengelola lembaga pendidikan khususnya pendidikan tinggi, tidak hanya di tuntut untuk mengembangkan dan mengedepankan paradigma profesionalitas saja, melainkan juga mengedepankan dan mengembangkan paradigma religiusitas dan mental spiritual. Dengan demikian harapan untuk mencetak dan memproduksi sumber daya intelektual yang mumpuni dengan sikap moral dan mental yang baik akan menjadi suatu orientasi yang realistis dan urgent untuk saat ini. Sebab hanya dengan paradigma itulah sebenarnya lembaga pendidikan dapat mengeliminasi kesenjangan antara sikap tekhnokratisme berfikir (kapasitas) dengan humanisme sosiologis dalam aktivitas kehidupan sehari-hari. Kesenjangan yang demikian itulah yang biasa kita namakan kesenjangan antara kapasitas dengan kapabilitas.

 

Memang untuk mendorong semangat tersebut tidaklah mudah. Problem pendidikan di Indonesia secara holistik misalnya masih menghadapi problem-problem mendasar seperti filosofi pendidikan yang kurang visioner, sistem pendidikan yang tidak padu, sistem administrasi pendidikan yang terlalu birokratis, pengorganisasian lembaga-lembaga pendidikan yang tidak efektif, format kurikulum yang terlalu padat dan membelenggu kreativitas dan penghayatan pendidik dan peserta didik, pendidik dan penyelenggara pendidikan yang kurang profesional dan budaya masyarakat yang kurang kondusif. Kesemua problem-problem tersebut pada akhirnya berimplikasi atau menyebabkan unsalved problem dalam dunia pendidikan.

Jika kita telaah secara seksama, maka sebenarnya jelas ada korelasi yang signifikan antara faktor pengelolaan human resources dengan lembaga pendidikan itu sendiri secara efektif. Berbagai literatur manajemen modern menyimpulkan bahwa organisasi yang dinamis senantiasa akan berupaya meningkatkan prestasi kerja sumber daya manusianya dengan baik. Oleh karenanya maka mendudukkan sumber daya manusia secara efektif akan penting artinya bagi pencapaian sasaran tujuan dan misi lembaga itu sendiri. Dalam konteks yang demikian itu, maka sumber daya manusia perlu diberikan peran sebagai organisator (the organizer), konseptor berdasarkan nilai (the value based conceptor), humanis, katalis dan rasionalis.

 

Persoalannya adalah model pengelolaan sumber daya manusia yang seperti apa yang cocok saat ini dan mampu mengorientasikan lembaga pendidikan agar oriented pada nilai idealisme pendidikan tersebut ?.

 

Spiritual Management Approach sebagai Solusi

Salah satu jawaban dari problem tersebut diatas adalah dengan melakukan pendekatan manajemen spiritual (spiritual management approach) bagi pengelola pendidikan. Spirit dari pendekatan manajemen spiritual tersebut akan bermuara pada sifat perubahan perilaku dari manusia itu sendiri. Dalam konteks ini berarti karyawan dan dosen sekaligus pengelola (bagian) dari lembaga pendidikan akan nantinya senantiasa mampu mengilhami, membangkitkan, mempengaruhi dan menggerakkan melalui keteladanan, pelayanan dan implementasi nilai dan sifat religiusitas dalam tujuan, proses, budaya dan perilaku kepemimpinan. Dalam perspektif ajaran Islam maka konsepsi pendekatan manajamen spiritual tersebut dapat dilihat dari konsepsi siddiq (righteous) atau kejujuran/kebenaran, amanah (trusworthy) atau dapat dipercaya, fathonah (working smart) atau kecerdasan dan tabligh (communicate openly) atau mensosialisasikan yang mampu mempengaruhi orang lain dengan cara mengilhami tanpa mengindokrinasi, menyadarkan tanpa menyakiti, membangkitkan tanpa memaksa dan mengajak tanpa memerintah.

Jika paradigma tersebut diimplementasikan, maka suatu keniscayaan akan terciptanya suatu perubahan mendasar pada output pengelolaan kegiatan pendidikan yaitu kompetensi sumber daya manusia (baik karyawan, pendidik dan peserta didik).

 

Bagaimana dengan BSI ?

 

Saya tertarik menulis artikel ini, dikarenakan beberapa tahun terakhir ini pimpinan BSI melakukan suatu proses pemberdayaan pengelolaan institusi pendidikannya melalui konsepsi spiritual management approach. Indikator tersebut dapat kita lihat dari berbagai statment dan pandangan berfikir pimpinan lembaga ini kepada para dosen dan karyawan. Itu artinya bahwa sebenarnya pimpinan lembaga ini sudah mengadaptasi betul bahwa problem mendasar mendesain eksistensi dan kredibilitas lembaga ini adalah berawal dari empat sifat konsepsi mengenai spiritualitas yang telah dikemukakan diatas. Jika dimanifestasikan dalam dunia pendidikan, keempat sifat tersebut adalah pertama, kejujuran akademik. Diberbagai kesempatan pimpinan lembaga ini senantiasa mengingatkan dan mengartikulasikan kepada kita semua sifat siddiq ini. Para dosen senantiasa selalu dipupuk untuk berangkat dari faktor kejujuran dan hati nurani dalam melakukan aktivitasnya, karyawan juga di dorong untuk bersikap jujur dalam bekerja baik dilihat dari konteks pekerjaannya, etikanya maupun hasil yang telah dicapainya sebagai karyawan. Dan karyawan-pun dituntut untuk memiliki konsepsi bahwa bekerja adalah ibadah. Kedua, Amanah (kepercayaan dan tanggung jawab). Diberbagai kesempatan pula pimpinan senantiasa memberikan harapan dan kesempatan kepada karyawan agar dapat bekerja berdasarkan hati nurani. Itu artinya bahwa pimpinan lembaga ini telah berusaha memberikan kepercayaan dan apresiasi yang tinggi kepada segenap karyawan dan para dosen agar proses kegiatan pendidikan di Bina Sarana Informatika berjalan sesuai dengan role yang sudah ditentukan. Tinggal memang persoalannya adalah apakah kepercayaan dan apresiasi yang diberikan oleh lembaga kepada karyawan tersebut berimbas kepada munculnya semangat produktivitas dan pemberdayaan diri karyawan untuk terus mengembangkan potensinya sebagai pendidik. Ketiga, bekerja keras dan bekerja cerdas. Diberbagai kesempatan pula pimpinan senantiasa selalu mengingatkan kepada kita semua agar sebagai karyawan kita harus mampu melakukan proses pencerahan dalam diri melalui pemanfaatan medium keilmuan yang kita miliki (fathonah). Dengan demikian kita dapat bekerja secara maksimal sesuai dengan harapan dan keinginan lembaga. Dengan kata lain, konsepsi bekerja keras dan bekerja cerdas tentu akan memberikan proses pendewasaan berfikir dan akan memunculkan bargaining pemikiran, sehingga lembaga merasa kontribusi karyawan menjadi lebih kongkrit dan efektif. Untuk faktor yang ketiga tersebut memang lembaga memiliki tantangan yang tidak ringan. Secara jujur kita dapat menilai bahwa komposisi karyawan secara kuantitatif untuk saat ini memang tidak berbanding lurus dengan kompetensinya secara kualitatif. Secara komparatif kita juga bisa bandingkan dengan komposisi dan kualifikasi dosen profesional di BSI, dilihat dari segi produktifitas dan kinerja, kita juga bisa melihat bahwa terjadi kesenjangan antara kemampuan bekerja dengan konseptualisasi bekerja. Implikasinya dapat kita rasakan bahwa banyak sebagian dari unit kerja yang ada dilembaga ini stagnant, dalam artian sebagian besar karyawan BSI memang pekerja keras, namun terlihat kecenderungan bahwa sebagian besar dari unit-unit kerja tersebut tidak mampu mengorganisasikan bidang pekerjaannya secara konseptual, sehingga berpengaruh kepada  arah pencapaian target dan realisasi lembaga melalui bidang-bidang tersebut, padahal bidang tersebut dibentuk untuk mengkonstruksi tatanan lembaga agar lebih kredibel dimata publik. Itulah tantangan lembaga dan tantangan kita semua yang harus kita sadari sebagai suatu pemicu yang konstruktif bagi perubahan kapasitas dan kapabilitas sumberdaya manusia yang ada di BSI. Keempat, tabligh. Jika kita manifestasikan dalam budaya kerja di BSI bahwa segenap karyawan dan dosen haruslah peka dan responsif terhadap informasi yang menjadi kebijakan lembaga dan harus mampu menjadi sosialisator bagi mahasiswa. Tentu hal ini menjadi amat substansial mengingat  kegiatan pegelolaan pendidikan di Bina Sarana Informatika mengedepankan teknologi informasi sebagai landasan pijak. Bisa kita bayangkan apabila kita sebagai karyawan dan dosen tidak responsif terhadap kebijakan-kebijakan lembaga, tentu akan berdampak secara krusial kepada efektifitas kegiatan belajar mengajar.

 

Berdasarkan konsepsi terebut diatas, kita semua berharap bahwa lembaga ini mampu mengimplementasikan spiritual management approach secara efektif kepada segenap civitas akademika Bina Sarana Informatika. Keyakinan ini tentulah harus menjadi semangat optimisme kita semua mengingat sebenarnya Bina Sarana Informatika beruntung memiliki sumber daya manusia yang tingkat religiusitasnya relatif tinggi. Realitas ini tentulah harus diberdayakan untuk memberikan proses perubahan lembaga kearah yang lebih baik. Oleh karenanya sekali lagi adalah relevan apabila pimpinan lembaga ini melakukan pendekatan religius kepada karyawan untuk mengefektifkan segala bentuk kebijakannya. Dan mudah-mudahan pula kebijakan tersebut dalam perspektif karyawan bukan sebagai justifkasi logis secara efektif untuk mengkooptasi potensi dan pemikiran kritis sumber daya manusia yang ada.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: