ANDI TRINANDA

Beranda » ARTIKEL » Education Wisdom » DAS SOLEN DAN DAS SEIN SEORANG DOSEN

DAS SOLEN DAN DAS SEIN SEORANG DOSEN

 

 

Profesi dosen (seperti halnya guru) bagi sebagian masyarakat memang adalah sebuah profesi yang kredibel – dihormati. Profesi seorang dosen memang selayaknya ditempatkan pada spektrum mulia di ranah kehidupan pekerjaan seseorang. Keniscayaan ini haruslah senantiasa kita pupuk bersama, mengingat tanggung jawab profesi kita (sebagai dosen) adalah (juga) melahirkan dan memberikan kontribusi proses perubahan bagi kualitas sumber daya manusia – apakah menjadi sumber daya manusia yang mumpuni atau tidak bagi keberlangsungan eksistensi kehidupan mereka (mahasiswa) dikemudian hari. Dengan kata lain dosen punya andil membentuk caracter building  mahasiswa untuk berhadapan dengan realitas kehidupan yang penuh dengan kompetisi dan persaingan, khususnya persaingan di ranah pekerjaan dan profesi mahasiswa itu dikemudian hari. Oleh karena itu maka menggagas peran dosen sebagai kontributor penting sebagai salah satu mata rantai membangun kualitas sumber daya manusia menjadi sesuatu yang amat substansial untuk ditelaah – mengingat tantangan dan harapan bagi masyarakat begitu besar – sebesar harapan mereka juga terhadap institusi yang membangun dan mendesain konsep kualitas kegiatan belajar mengajar.

 

Das Solen (idealnya) seorang dosen

Banyak pakar mengatakan bahwa dosen yang ideal adalah dosen yang kompetensinya dapat dipertanggung jawabkan secara moral. Tanggung jawab moral inilah yang secara institusional oleh lembaga di perguruan tinggi di manifestasikan sebagai suatu medium pemikiran untuk menelurkan kebijakan-kebijakan yang secara konsepsional menjadi arah bagi standard pengelolaan pendidikan. Pertanyaanya adalah “siapa dosen yang kompetensinya dapat dipertanggung jawabkan secara moral itu ?”. Menjawab pertanyaan tersebut memang tidaklah mudah. Tidak ada suatu terminologi manapun yang mampu mendefinisikan dosen yang ideal itu. Kita hanya dapat memberikan tolok ukurnya saja bahwa dosen yang ideal itu adalah dosen yang memiliki kriteria sebagai berikut : pertama, produktif secara intelektual, kedua, korelatif dengan kemampuan dan latar belakang pengetahuan yang dimiliki dan ketiga¸ memiliki sikap yang baik dan menjadi tauladan bagi para mahasiswanya dalam berperilaku.dan keempat yang paling penting adalah dosen yang ideal adalah dosen yang berperan sebagai pendidik sekaligus pengajar bagi peserta didiknya sesuai dengan ketentuan dan harapan masyarakat.

 

Produktif secara intelektual berarti seorang dosen adalah orang yang mampu mengimplementasikan tri dharma perguruan tinggi (pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat) dengan baik. Dalam konteks pengajaran – misalnya, seorang  dosen haruslah mampu menelaah relevansi materi bahan ajar seobyaktif mungkin untuk dapat ditransformasikan kepada mahasiswa secara up to date. Dengan kata lain dosen yang ideal adalah dosen yang mampu memberikan pengetahuan kepada mahasiswa secara aktual.dan otentik berdasarkan metodologi ekplorasi penggalian pengetahuan tersebut. Dengan demikian mahasiswa memiliki persepsi bahwa dosen adalah salah satu sumber referensi intelektual dalam perjalanan akademisnya. Dosen dengan prototipe seperti itulah sejatinya yang menjadi indikator penting kualitas content kurikulum suatu perguruan tinggi. Dalam konteks penelitian dan pengabdian – misalnya seorang dosen seharusnya mampu dan berani mengeluarkan berbagai gagasan-gagasan akademis baik melalui lisan dan tulisan yang ditelaah berdasarkan perspektif pemikiran ilmiah dengan metodologi yang relevan secara akademis sehingga memberikan kontribusi informasi bagi orang lain.

 

korelatif dengan kemampuan dan latar belakang pengetahuan yang dimiliki berarti seorang dosen disamping memiliki tingkat pendidikan yang sesuai dengan jenjang keilmuan yang diajarkannya, juga perlu ditopang oleh pengalaman mengajar yang progresif. Pengalaman mengajar yang progresif inilah yang memberikan proses kematangan mengatasi dinamika psikologi pendidikan yang banyak menuntut upaya toleransi pemikiran dan strategi pola pembelajaran kepada mahasiswa. Dengan demikian kita bisa berkeyakinan bahwa indikator penting kematangan seorang dosen adalah salah satunya terletak pada proses pengejewantahan empiris dinamika mendidik dan mengajar selama kurun waktu tertentu. Proses pendewasaan mengajar inilah yang menjadi salah satu persyaratan bagaimana suatu konsepsi kurikulum diperguruan tinggi nantinya bisa survive pada tataran pemahaman dosen tantang cara efektif untuk mentransformasikan keilmuan pada konteks-konteks yang bersifat praktis dan akademis.

 

Kriteria dosen yang ideal berikutnya adalah memiliki sikap yang baik dan menjadi tauladan bagi para mahasiswanya dalam berperilaku. Pepatah mengatakan “guru kencing berdiri- murid kencing berdiri”.  Hal tersebut menjadi refleksi bahwa setiap tindak-tanduk seorang dosen biasanya menjadi cermin bagaimana sikap mahasiswa terhadap dosennya. Apabila seorang dosen penuh disiplin, punya integritas yang tinggi, bertutur kata dan berperilaku baik dan sebagainya, maka biasanya kesemua itu menjadi adaptif bagi perlaku mahasiswa.

 

Kriteria yang keempat dan yang paling penting bagi seorang dosen adalah  dosen yang yang mampu berkomunikasi dan berperan sebagai pendidik sekaligus pengajar bagi peserta didiknya. Dosen bukan cuma punya tanggung jawab mentransformasikan ilmu sesuai dengan bahan ajar materi perkuliahannya dengan sasaran agar mahasiswa menjadi paham dan mengerti, dosen juga memiliki tanggung jawab besar dalam memberikan pondasi nilai bagi eksistensi mahasiswa dikemudian hari. Konsepsi mendidik karakter mahasiswa dan membentuk proses pendewasaan berfikir dan bersikap mahasiswa  melalui pendidikan nilai yang dikembangkan dosen itulah yang seharusnya ada dalam setiap dosen. Dalam konteks itulah peran seorang dosen dituntut orientasinya dalam setiap pertemuan atau tatap muka dengan para mahasiswa.

 

 


Das Sein (Realitas) Dosen

Konsepsi ideal memang menjadi pegangan penting bagi dosen dalam beraktivitas seuai dengan standard etik profesinya. Harapan kita semua adalah kita menjadi dosen dengan standard das solen tersebut. Namun terkadang realitas yang dihadapi oleh seorang dosen pada akhirnya menjadikan dosen menghadapi tantangan untuk menjadikan dosen yang berorientasi das solen tersebut. Tantangan-tantangan tersebut adalah tantangan berupa misalnya ketidakcakapan seorang dosen dalam mentransformasikan materi perkuliahannya. Ketidakcakapan tersebut timbul dikarenakan bukan karena dosen tersebut bukan tidak menguasai materi keilmuan yang diajarkan, namun biasanya lebih pada pola komunikasi dan metode belajar mengajar yang diterapkan tidak efektif menembus semangat dan motivasi belajar mahasiswa. Implikasinya mahasiswa menjadi tidak allout  dalam mengejar orientasi belajarnya. Realitas lainnya yang biasa terjadi pada seorang dosen adalah  terkadang seorang dosen tidak fokus pada materi perkuliahan yang diajarkannya. Hal tersebut terjadi karena dosen mengajar lebih dari satu displin ilmu disetiap semesternya dengan intensitas beban volume jam mengajar yang begitu tinggi. Implikasinya adalah secara metodologis eksplorasi keilmuannya, dosen terkadang menjadi sulit untuk mempersiapkan diri secara maksimal dan sulit berorientasi pada standard tinjauan instruksional umum dan khusus yang harus di capai disetiap pertemuannya kepada peserta didik. Persoalan lain yang lebih krusial adalah terkadang ada dosen yang tidak menunjukkan perilaku sebagai pendidik dengan menegasikan kaidah-kaidah normatif dunia pendidikan. Dampak dari keadaan yang demikian itulah akhirnya yang menimbulkan proses pendegradasian kualitas pendidikan dan tereleminasinya mainstream kredibilitas profesi dosen, yang pada akhirnya berpengaruh juga pada kultur akademik secara keseluruhan. Tentu masih banyak tantangan-tantangan lainnya yang menjadi realitas eksistensi seorang dosen, termasuk problem legitimasi keilmuan bahkan legitimasi profesinya. Namun demikian upaya untuk menjadikan profesi dosen tetap memiliki nilai di mata masyarakat harus menjadi semacam tolak ukur untuk paling tidak kita bisa memberikan yang terbaik untuk kualitas sumber daya manusia sebagai peserta didik.

Idealitas dan realitas seorang dosen hanyalah merupakan suatu stigma berfikir yang komparatif untuk kita jadikan semacam catatan bahwa untuk menjadikan peserta didik kita berkualitas, maka sudah seharusnya kita sebagai dosen juga berkualitas. Dan untuk mewujudkan kualitas tersebut,  tentu dibutuhkan suatu proses yang terus-menerus yang sistemik dengan mengacu kepada standard baku yang sudah ditentukan secara mondial oleh komunitas dunia pendidikan, yaitu kompetensi dosen itu sendiri, kurikulum dan kegiatan akademik sebagai penunjang esensi nilai transformasi dan yang paling penting adalah political will dari institusi pendidikan itu sendiri untuk menjadikan peserta didik sebagai orietasi subyek pengelolaan pendidikan – bukan menjadi obyek orientasi pengelolaan pendidikan.



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: