ANDI TRINANDA

Beranda » ARTIKEL » Education Wisdom » BUDAYA ILMIAH DALAM KOMUNITAS ILMIAH

BUDAYA ILMIAH DALAM KOMUNITAS ILMIAH

 

 

Komunitas jika diartikan secara sederhana adalah sekelompok orang yang berkumpul. Ketika menjadi sebuah identitas barulah dikatakan sebagai suatu organisasi, yang apapun dan dalam bentuk apapun menghadirkan suatu ciri dan karakteristik tertentu dalam suatu organisasi. Boleh jadi memang pengertian yang saya pahami tersebut terlalu sempit dan teknis. Tapi itulah sebenarnya deskripsi yang simplistis (sederhana) kalau kita mau pahami esensi manusia sebagai makhluk zon politicon.

 

Kalau kita telaah pemikiran Abraham Maslow, bahwa salah satu sebab mengapa seseorang diakui eksistensinya di tengah suatu komunitas adalah apabila ketika ia mulai dapat membuktikan apa yang menjadi keunggulan komparatifnya dengan orang lain. Dalam banyak hal jika kita berbicara soal eksistensi, maka sebenarnya ia akan berhubungan dengan sejauhmana seseorang sebetulnya memiliki kontribusi buat organisasi.

 

Kampus adalah lembaga ilmiah. Di dalamnya terdapat komunitas ilmiah yang kita sebut sebagai civitas akademika. Perkataan “ilmiah” dibelakang kata “komunitas” sebagai suatu identitas kampus menunjukkan bahwa apapun interaksi yang ditimbulkan oleh dinamika yang terjadi ditengah-tengah kampus, termasuk di dalamnya adalah yang menyangkut pergulatan pemikiran dari para dosen, seyogiayanya mengandung bobot dan takaran obyektif. Dalam konteks ini artinya masyarakat ilmiah harus marfum bahwa setiap pendapat yang menyangkut ide, gagasan dan apapun bentuknya, haruslah diwarnai oleh yang namanya telaah ilmiah (baca : intelektual – kontekstual) yang memiliki bobot dan tendensi yang solutif. Jika prasyarat tersebut tidak terpenuhi, maka sebenarnya konsep Tri Dharma sebagai ibu kandung dari civitas akademika hanya sekedar utopia belaka. Paradigma inilah sebenarnya yang senantiasa harus terus dikampanyekan. Sebab berdayanya suatu kampus berkorelasi dan berinterelasi dengan sejauhmana intensitas pergulatan pemikiran yang terjadi.  Jika kondisi ini terjadi maka komunitas ilmiah akan menjadi budaya ilmiah yang melembaga.

 

Dalam konteks kegiatan belajar-mengajar mungkin para dosen sudah dan telah mempraktekkannya, namun dalam konteks yang lain saya kira kita masih perlu banyak belajar untuk konstruktif memahami budaya ilmiah. Terlebih-lebih sebenarnya budaya ini lahir dari rahim steakholders. Apakah melahirkan proses pembelajaran  yang kondusif atau tidak. Hal tersebut sangat penting sebagai bentuk keniscayaan terbentuknya budaya ilmiah yang menjadi ciri  dari suatu masyarakat ilmiah. Kristalisasi konsep budaya ilmiah sebagai suatu proses pembelajaran yang diciptakan lembaga (baca : kampus) sejatinya akan menumbuh kembangkan daya guna bagi civitas akademika untuk memberikan kontribusinya sesuai dengan warna lembaga. Persoalan ini menjadi penting untuk diangkat ketika budaya ilmiah korelasinya dengan komunikasi ilmiah terdistorsi oleh subyektifisme berfikir yang diartikulasikan oleh mereka ( baca : civitas akademika – termasuk oleh para dosen). Subyektifisme berfikir lahir dari suatu keadaan dimana eksistensi dan kontribusi seseorang teromantisasi dan terdramatisasi oleh kepentingan yang menyertainya. Ketika itu kegelisahan eksistensi menjadi suatu atribusi yang melekat, yang pada akhirnya mempengaruhi kondisi obyektif dari suatu realitas yang sesungguhnya terjadi. Paradigma berfikir seseorang lebih diwarnai oleh suatu asumsi untuk membuat aman eksistensinya dalam suatu komunitas. Alhasil orang tersebut dikatakan sebagai orang yang “pintar” cari “perhatian” dan bahkan “pintar” cari selamat. Fenomena ini memang biasa terjadi dan pasti selalu ada dalam suatu organisasi. Namun menjadi tidak biasa ketika kondisi ini menjadi budaya yang melembaga. Contoh yang sering terjadi dalam konteks ini adalah misalnya “ketika asumsi dan persepsi individu menjadi indikator munculnya like or dislike dalam proses pengambilan keputusan. Keputusan apapun yang berangkat dari pandangan empirik berdasarkan asumsi tersebut, jelas akan mempengaruhi esensi budaya ilmiah dalam suatu lembaga. Fenomena ini jelas mendangkalkan nilai dialogis yang menjadi ciri budaya organisasi, dan jika hal ini dibiarkan, maka ia akan menjadi kangker organisasi yang cepat atau lambat akan menggerogoti budaya komunikasi organisasi. Maka (meminjam istilah Tata Sutabri) lembaga atau organisasi perlu concern melakukan tindakan preventif untuk menghindari adanya penyakit dalam budaya komunikasi yang yang disebabkan karena adanya kegelisahan eksistensi tadi, yaitu 4– Si (korupsi, kolusi, arogansi, jealousi).

 

Contoh kongkrit yang paling sedehana dalam menggambarkan adanya kegelisahan eksistensi dalam suatu organisasi adalah ketika ada orang ingin populer  (baca : cari perhatian) dimata lembaga (terutama pimpinan) yang seolah-olah lembaga kemudian menilai orang tersebut “besar kontribusinya” namun apa yang dilakukan sebenarnya tidak dengan cara-cara elegan bahkan menegasikan kontribusi dan kepentingan orang lain, adalah salah satu bentuk realitas yang sekali lagi mendangkalkan proses budaya ilmiah dalam suatu organisasi. Apalagi organisasi tersebut adalah kampus sebagai komunitas ilmiah. Contoh lain dari banyaknya kasus yang sering dihadapi oleh organisasi adalah misalnya ketika budaya komunikasi dalam organisasi, dalam rapat – misalnya, dimanfaatkan hanya untuk membuat apology ketidak berhasilan pekerjaan yakni melakukan pembelan diri dengan menjustifikasi pendapat dirinya, kemudian mencari kesalahan orang lain sebagai penghambat produkitivitasnya. Gambaran kondisi aktual inilah yang sebenarnya menegasikan unsur-unsur dari budaya ilmiah.

 

Contoh diatas adalah hanya salah satu dekskripsi penyakit budaya komunikasi horizontal yang banyak dialami oleh seseorang dalam level yang sama misalnya dengan sesama rekan kerja/ sesama anggota) dalam suatu organisasi. Contoh lain yang juga menjadi persoalan dalam budaya komunikasi adalah sering terjadinya kesenjangan komunikasi secara vertikal dan dialogis antara karyawan atau anggota dengan pimpinan atau pejabat dalam suatu organisasi. Implikasi dari timbulnya kesenjangan ini secara sosiologis adalah munculnya kekhawatiran yang dipolitisasikan berdasarkan apresiasi personality masing-masing pihak. Ketika ada suatu proses artikulatif dalam bentuk ide, gagasan atau bahkan sharing knowledge dari karyawan kepada pimpinan, kadang suasana forum berubah menjadi sesuatu yang dikotomis dalam bentuk pemahaman apresiasi dan persepsi mengenai masalah. Perbedaan perspektif kadang kala menjadi kerikil yang dapat menyebabkan karyawan justru menjadi ragu tentang niat sesungguhnya, yakni menyumbangkan kontribusinya sebagai bentuk sense of belonging dan sprit de corps-nya terhadap lembaga. Hal tersebut bisa saja terjadi manakala kontribusi kontruktif dari anggota atau karyawan dipahami sebagai suatu argumentasi destruktif oleh organisasi. Fenomena ini bisa saja terjadi dan dirasakan oleh anggota atau karyawan ketika menghadiri rapat-rapat formal yang diadakan lembaga. Psudo egaliter dalam forum yang ditawarkan lembaga justru disikapi dengan cara defensif ketika ada dinamika yang muncul dan berkembang di tengah forum. Akibatnya ketika dihadapi kondisi yang demikian itu banyak diantara karyawan akhirnya urung untuk menyampaikan gagasannya. Sebaliknya, sikap urung tersebut dipahami sebagai bentuk sikap apatis karyawan dalam menyikapi kebijakan dan persoalan-persoalan lembaga.

 

Fenomena diatas adalah suatu deskripsi bahwa budaya ilmiah dalam komunitas ilmiah kadang juga terdistorsi oleh suatu mekanisme berfikir yang sempit yang justifikasi dari kesempitannya berfikir tersebut didasari oleh faktor atribusi personal dirinya. Psudo Egaliter yang saya kemukakan diatas maksudnya adalah bahwa kadang orang (pimpinan dalam berbagai level – misalnya) mengajak kita untuk berfikir dan menciptakan iklim yang demokratis namun sejatinya orang tersebut justru mempraktekkan hal-hal yang mengaburkan esensi demokrasi tersebut. Dengan kata lain orang ini biasa kita sebut dengan istilah pura-pura demokratis-padahal sebenarnya otoriter atau minimal otokratik pragmatis.

 

Budaya ilmiah sekali lagi adalah budaya yang mengedepankan suatu proses obyektifitas yang tumbuh dan lahir dari rahim organisasi yang membiasakan komunitasnya berkomunikasi secara sehat dan konstruktif  yang tendensi pergulatan pemikirannya sangat dipengaruhi oleh khasanah yang ilmiah (rasional, aktual, faktual dan obyektif).

sebagai catatan akhir, mungkinkah budaya ilmiah berevolusi pada tatanan dan struktur organisasi sehingga proses apapun dalam upaya pengambilan keputusan organisasi berimbas pada budaya yang melahirkan kemaslahatan bagi  anggotanya  ? Walhualam Bisawab



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: