ANDI TRINANDA

Beranda » PENDIDIKAN » EKSISTENSI KOORDINATOR CABANG DAN BACK OFFICE DI SETIAP KAMPUS BSI

EKSISTENSI KOORDINATOR CABANG DAN BACK OFFICE DI SETIAP KAMPUS BSI

Mulai akhir bulan September 2005, BSI menunjuk beberapa karyawan yang memiliki potensi untuk menjadi koordinator cabang dan back office di hampir setiap kampus di seluruh BSI baik di Jakarta maupun di luar Jakarta-melalui proses verifikasi dan seleksi dari sekitar kurang lebih 40-an karyawan (staf akademik, instruktur dan bagian administrasi) yang dipilih dan mengikuti proses brand storming selama kurang lebih dua hari diluar kota.

 

Tugas penting koordinator cabang dan back office nantinya merupakan kepanjangan tangan lembaga dalam upaya mentransformasikan dan mensosialisasikan sekaligus mengartikulasikan kondisi obyektif yang terjadi disetiap cabang. Koordinator cabang bertugas melakukan proses manajerial dalam seluruh aktivitas cabang-termasuk hubungannya dengan pihak-pihak diluar BSI, sementara back office bertugas mengatur kegiatan administratif yang terdapat di cabang bersangkutan. Keduanya berkoordinasi dan bersinergi membangun kerjasama yang baik sehingga eksistensi cabang BSI kedepan nantinya menjadi lebih baik dan mampu mengatasi berbagai kendala dan mengantisipasi berbagai hal secara lebih otonom. Dengan kata lain secara umum keduanya sudah mengetahui betul bagaimana mekanisme job discription dan sejauhmana kewenangan yang dipikulkan dipundaknya. Dengan demikian nantinya melalui koordinator cabang dan back office ini, proses kegiatan akademik dan kegiatan lainnya berjalan kondusif sesuai dengan kerangka dan aturan kebijakan lembaga.

 

Penunjukkan koordinator cabang dan back office ini merupakan terobosan konstruktif lembaga dalam upaya melakukan fungsi manajemen pengelolaan kelembagaanya, mengingat eksistensi BSI sudah semakin besar-sementara rentang kendali dalam struktur organisasi yang dimilikinya cenderung semakin tidak akomodatif lagi untuk melakukan efektifitas kontrol dan pengendalian terhadap berbagai kebijakan dan hal-hal yang berhubungan dengan aktivitas dan eksistensi kelembagaan. Hal tersebut mengingat cabang-cabang yang ada semakin banyak dan tersebar baik di Jabodetabekrang (Jakarta, Bogor, Depok, Tanggerang, Bekasi, Cikarang dan Karawang) juga tersebar dibeberapa wilayah dipulau Jawa. Maka keberadaan koordinator cabang dan back office menjadi relevan dan merupakan pilihan logis yang memang urgen untuk diterapkan dalam mengatasi berbagai kendala dalam melaksanakan fungsi manajemen tadi yakni kontrol dan koordinasi serta pengendalian.

 

Walaupun secara organisatoris keberadaan koordinator cabang dan back office (Disingkat : Korcab dan BO) ini bukan merupakan bagian dari pengembangan eksistensi struktur organisasi BSI, karena memang selama ini sudah ada Contact Person dan penanggung jawab administrasi disetiap cabang. Jadi dengan kata lain istilah koordinator cabang (bukan pimpinan cabang) barangkali menjadikan posisi ini sinonim (sama saja) dengan koordinator ujian, koordinator tugas akhir dan sebagainya. Namun barangkali mengingat penunjukkan beberapa karyawan tersebut dilakukan secara lebih selektif dan ekslusif, hal ini sudah menunjukkan ada kemajuan berarti bagi proses peningkatan karir dan kepercayaan dalam bentuk otonomi dan tanggung jawab kepada karyawan. Dan tentu mudahan-mudahan pula hal ini juga dibarengi dengan konsep hubungan kausalitatif yang konstruktif, yakni karyawan memberikan semangat tanggung jawab berupa produktifitas dan kinerja, lembaga memberikan reward, berupa sesuatu yang lebih riel ketimbang prestise personal karena posisi atau bagian yang dikelolanya.

 

Dalam tataran implementasinya dilapangan eksistensi koordinator cabang dan back office nantinya diharapkan menjadi bagian dari sistem birokrasi yang memungkinkan pengambilan keputusan mengenai rumah tangga kampus disetiap cabang menjadi lebih cepat, praktis, efisien dan adaptif pada situasi dan kondisi. Hal ini penting untuk memberikan gambaran kepada segenap karyawan dan dosen bahwa koordinator cabang dan back office adalah inheren dengan pimpinan cabang, oleh karena itu maka segala bentuk dan pola komunikasi yang dibangun dan dikembangkan oleh keduanya (Korcab dan BO), sudah sepatutnya dipahami secara proporsional dan profesional, tidak memandang segi-segi senioritas dan junioritas. Hal ini penting untuk menjaga kewibawaan dan kemandirian eksistensi suatu cabang yang dipimpin oleh koordinator cabang. Analogi untuk posisi tersebut barangkali perlu disetarakan dengan konsep struktur pada organisasi bank yang memiliki kantor cabang dan kantor cabang pembantu. Maka setiap cabang memang ditunjuk pimpinan cabang yang memang bertanggung jawab memimpin organisasi di tingkat cabang yang berimplikasi kepada tingkat kemajuan atau kemunduran bank tersebut di tingkat cabang. Sementara back office bertanggung jawab menjaga kontinuitas jumlah nasabah, melakukan klasifikasi dan pengaturan tentang komponen dana nasabah secara administratif apakah dana tabungan, dana deposito dan pinjaman (kredit nasabah). Sepertinya memang analogi tersebut diatas identik dengan pola dan penerapan organisasi koordinator cabang yang BSI terapkan, cuma barangkali terdapat perbedaan secara signifikan pada produk dan nilai eksistensi posisi.

 

Namun demikian, Apapun proses dan mekanisme yang melatarbelakangi terbentuknya koordinator cabang dan back office ini, lembaga pasti memiliki orientasi positif untuk membangun dan mengembangkan nilai eksistensi kampus-kampus BSI yang tersebar di semua wilayah. Orientasi positif tersebut salah satunya adalah pertama, kondusifnya iklim kegiatan akademik yang timbul karena adanya efektifitas implementasi kebijakan yang dibuat lembaga dengan intepretasi dan sosialisasi yang dilakukan oleh koordinator cabang dan back office. Kedua, Konstruktifnya hubungan antara lembaga dengan karyawan dan antar karyawan dengan karyawan lainnya akibat ruang kendali koordinasi dan pengendalian perilaku dilakukan sepenuhnya melalui tanggung jawab koordinator cabang dan back office. Ketiga, kontrol lembaga terhadap perilaku atau aktivitas karyawan juga semakin tinggi dengan tujuan mengeliminir ketidakefisienan dan ketidakkonsistenan karyawan terhadap implementasi kebijakan lembaga. Sekali lagi sukses kepada karyawan yang terpilih menjadi koordinator cabang dan back office. Semoga dedikasi dan tanggung jawabnya dapat meningkatkan kualitas dan pemberdayaan eksistensi Bina Sarana Informatika ke depan.

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: