ANDI TRINANDA

Beranda » ARTIKEL » Education Wisdom » ESENSI KURIKULUM DALAM PERSPEKTIF DINAMIKA KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR

ESENSI KURIKULUM DALAM PERSPEKTIF DINAMIKA KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR

 

Dunia pendidikan kita terus berkembang sesuai dengan dinamikannya. Ketika pemerintah sudah melakukan ambivalensi dalam dualisme kebijakannya yaitu deregulasi sekaligus melakukan regulasi dalam dunia pendidikan dengan menempatkan lembaga pendidikan lebih otonom dalam mengatur rumah tangganya-namun tetap pemerintah mengatur segi-segi otoritas berupa standard nilai dan legitimasi yang mengacu kepada sistem pendidikan lokal (an-sich) serta berbagai regulasi lainnya, maka nilai eksistensi dan kompetensi lembaga pendidikan menjadi satu-satunya garansi, apakah lembaga pendidikan tersebut bisa survive atau tidak dalam iklim persaingan pasar pendididikan kita yang sekarang ini semakin ketat dan kompetitif. Dengan demikian hanya lembaga pendidikan yang mampu membangun kompetensi keilmuan (kurikulum, SDM/dosen, dan regulasi akademis yang dibuat lembaga) dan kredibilitas akademis (baik infra maupun suprastruktur pendidikan) yang akan direspons pasar secara memadai.

Salah satu variabel dari kompetensi tersebut adalah menyangkut masalah kurikulum yang senantiasa tetap substansial dan favorable untuk dikaji dan dianalisa segi-segi otentitas dan kualitasnya. Sebab salah satu indikator sukses tidaknya keberhasilan dalam dunia pendidikan yang diterapkan dalam lingkungan akademis adalah menyangkut kualitas kurikulum dan implementasinya dalam kegiatan belajar mengajar.

Kurikulum memiliki peranan penting dalam upaya mengarahkan dan memberikan persepsi serta ruang lingkup kajian mengenai standard dan orientasi kegiatan belajar mengajar. Oleh karenanya kurikulum dalam suatu pendidikan kerap dijadikan barometer penting suatu eksistensi lembaga pendidikan dalam melihat otentitas budaya dan trend akademis yang terus menggejala dinamis dalam dunia pendidikan kita. Lembaga pendidikan yang senantiasa selalu progress dan terus menerus meng-apdate kurikulumnya – berarti lembaga pendidikan tersebut memiliki sinergitas kuat dengan relevansi dunia pendidikan dalam melihat tuntutan riel dalam masyarakat (contoh dalam konteks ini adalah kurikulum = korelasinya dengan kebutuhan riel dalam dunia usaha).

Dalam konteks yang demikian itulah maka momentum menelaah kurikulum yang berisi konstruksi keilmuan adalah tanggung jawab kita semua sebagai dosen. Kontribusi dosen di lingkungan lembaga pendidikan – dalam hal ini menjadi salah satu cermin bagaimana konseptualisasi dan implementasi materi di dalam kurikulum dbuat dan diaplikasikan berdasarkan komposisi dan kolektivitas paradigma dosen secara akademis yang memadai-yang memungkinkan daya takar akademis dilakukan secara komprehensif dan mondial sebelum sebuah materi keilmuan di berikan kepada mahasiswa. Dengan demikian dosen memiliki persepsi tentang orientansi, metodologi dan pendekatan kualitatif lainnya dalam kegiatan belajar-mengajar untuk materi yang diajarkannya. Sebab kerap terjadi pula materi di dalam kurikulum didesain oleh hanya seorang dosen saja (atau oleh pejabat dalam suatu lembaga pendidikan) tanpa melalui proses pengkajian dan pendalaman secara akademis yang memadai yang pada akhirnya justru akan menimbulkan personalisasi akademis dalam lingkup penyusunan kurikulum. Sementra tugas dosen pengajar untuk materi dalam kurikulum tersebut hanya berfungsi dan berperan sebagai technical teaching semata.

Dalam konteks yang lain juga kerap terjadi kurikulum dibuat hanya berdasarkan randomisasi materi yang diunifikasi. Misalkan saja, dalam konteks ini kurikulum cenderung dibuat secara parsial dengan hanya merujuk pada segi kuantitas referensi yang mengakomodasi bangunan jumlah pertemuan pada kurun waktu satu semester. Dengan demikian Implikasinya materi di dalam kurikulum cenderung hanya mengejar aspek retoris saja dalam suatu tatap muka. Padahal sejatinya kurikulum haruslah mengakomodasi bangunan struktural pemikiran mahasiswa dalam perspektif pendekatan pengajaran yang berorientasi pada nilai-nilai pendidikan yang otentik – yang market driven bagi kebutuhan mahasiswa kelak. Misalkan saja trend kurikulum sekarang ini adalah kurikulum yang berorientasi pada research value, yang mendorong mahasiswa atau peserta didik tidak lagi memiliki persepsi bahwa dosen atau pengajar adalah satu-satunya nara sumber kelilmuannya, melainkan sebagai hanya stimulator dan motivator atau hanya sebagai pembuka jendela cakrawala berfikir mahasiswa. Dosen harus mampu mengajak dan bersama-sama mahasiswa melakukan observasi, pengkajian dan pendalaman serta membangun kongklusi terhadap materi keilmuan yang terdapat dalam suatu kurikulum pendidikan. Dengan demikian peserta didik dalam hal ini (baca : mahasiswa) dapat merasakan adanya suatu proses yang growwing up mengenai suatu materi keilmuan. Inti dari semua itu adalah kurikulum yang baik-sebelum dipraktekkan, ia harus melewati khasanah akademis yang bersifat presentatif dan dialogis untuk mendapatkan kualitas daya takar akademis (yakni : competency advantage & comparatif advantage) secara akademis pula. dan itu dilakukan pada momentum sharing knowledge antar dosen yang mengajar pada materi (mata kuliah) tersebut.

Namun demikian sebaik apapun sebuah kurikulum, ia tidak akan banyak gunanya bila tidak dimanfaatkan secara benar oleh seorang dosen. Sebaliknya, dosen yang kreatif akan senantiasa dapat memanfaatkan kurikulum atau menyesuaikan bahan-bahan dari kurikulum tersebut sesuai dengan konteks dan kondisi kognitif, afekif, dan konatif mahasiswa yang sedang dilayaninya.  Oleh karena itu maka memahami isi kurikulum bukan berarti kita sebagai dosen menjadikan kurikulum baku pada tataran tekstualnya saja. Yang terpenting adalah bagaimana seorang dosen membangun relevansi bahan ajar yang tersedia dalam sisi kurikulum dengan realitas yang terjadi di tengah lingkungan masyarakat.

Barangkali disitulah problem mendasar mengapa sebaik apapun kurikulum, namun tetap saja kualitas pendidikan kita stagnan dalam format dan budaya akademis yang baku dan tekstual saja. Apalagi ditambah bahwa kita (para dosen) tidak akan pernah dapat memprediksi bagaimana kondisi dan suasana kelas pada saat kita mengajar.  itulah sebabnya mengapa kerap terjadi walaupun materi kurikulumnya baik, disusun oleh tim penyusun kurikulum yang paling kompeten sekalipun, dosen yang mengajar memiliki kompetensi, namun tetap saja kondisi obyektif kegiatan belajar mengajar dikelas tetap unpredictable. Itulah salah satu problem mendasar kegiatan belajar-mengajar dalam dunia pendidikan kita. Dan kita (para dosen) terkadang terkooptasi dan kurang kreatif dan tidak memiliki keberanian untuk berimprovisasi dalam mengapresiasi materi di luar materi kurikulum yang sudah tersedia. pada akhirnya kita menegasikan itu semua. Sebab percuma apa yang kita sampaikan tidak akan keluar dalam hasil evaluasi mahasiswa nanti. Pandangan yang demikian itulah yang sejatinya telah mencederai semangat kultural mengajar kita. Dengan demikian pada akhirnya pula kita benar telah melanggengkan budaya text book thiniking kepada mahasiswa kita. Mudah-mudahan  deskripsi tersebut diatas dapat menstimulasi kita untuk menelaah kembali pandangan kita tentang esensi kurikulum dalam perspektif dinamika kegiatan belajar-mengajar kita.

* ADT (penulis tergabung dalam Care Education Community)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: