ANDI TRINANDA

Beranda » PENDIDIKAN » MEMBANGUN KHASANAH RELIGIUS DI BSI MELALUI KEGIATAN HALAL BIHALAL

MEMBANGUN KHASANAH RELIGIUS DI BSI MELALUI KEGIATAN HALAL BIHALAL

Setiap tahun, pasca hari raya Idul Fitri, Bina Sarana Informatika senantiasa selalu mengadakan halal bihalal. Kegiatan yang rutin dilakukan Yayasan BSI ini dimaksudkan untuk bersilaturrahiim antar karyawan – saling memaafkan atas segala kekhilafan kesalahan yang telah dan selama ini dilakukan, mencairkan kembali suasana dan semangat kekeluargaan dan yang paling penting adalah membangun Ukhuwah Islamiyah-terlebih lebih setelah kita semua melaksanakan Saum Ramadhan dan merayakan hari raya Idul Fitri. Mudah-mudahan hari yang Fitri benar-benar membawa kemaslahatan bagi kita semua tentang peningkatan kualitas keimanan, keislaman, dan kesalehan ritual dan kesalehan sosial.

 

Sambil bersyukur, bersalaman dan bermaaf-maafan melebur segala dosa serta dengan sedikit berpesta, insya Allah HALAL BIHALAL ini menjadi slef activity (aktivitas kedalam/instrospeksi).

 

Hari raya idul Fitri merupakan hari kembali ke kemulusan bayi, ke fitrah yang suci. Ia bukan mahkota yang langsung kita pasang di kepala hari raya kita. Melainkan merupakan petunjuk bahwa hendaknya pada hari itu kita telah berhasil kembali mensucikan diri, membersihkan kotoran-kotoran hidup dan menjadi sosok manusia yang mulus kembali. Proses mencapainya ialah dilaksanakan selama 30 hari puasa : suatu fase katarsis, pembersihan diri, kontemplasi, berusaha mendekatkan diri (taqorrub) kepada Sang pencipta dan kerja rohani yang keras untuk mencari makna dan hikmah kerja puasa. Seorang Muslim hanyalah benar-benar mengalami Idul Fitri apabila ia berhasil mencapai hal itu. Jika tidak, ia hanyalah pejalan tradisi : terlibat acara-acara hari raya seperti halnya setiap rekan muslimnya juga terlibat hari raya.

Itulah logika Idul Fitri, seperti halnya ucapan dalam Qur’an, “Sesungguhnya Shalat itu mencegah perbuatan fakhsya dan mungkar ”.Tidaklah bisa di salahkan shalatnya apabila seseorang yang taat shalat itu tetap jahat dan korup juga. Melainkan sifat dan kadar peribadatan shalatnya, mutu dan intensitasnya, yang musti di tuding. Shalat dan puasa bukanlah minuman yang otomatis memancarkan cahaya kemusliman seseorang. Ia adalah medium dimana manusia merupakan subyek. Ia dan subyek itu berdialog. Seorang muslim mesti kreatif untuk menemukan kualitas dialog itu. Jika tidak, ia hanyalah penjungkar-jungkir lima kali sehari yang sia-sia. Akan hal kepatuhan yang bertambah, indikasi pertamanya ialah makin matangnya penghayatan terhadap keberadaan dan kehadiran Allah SWT, yang dibina lewat penyadaran yang tinggi dan terus-menerus terhadap hidup ini, terhadap alam semesta, terhadap substansi ke-Islaman dan terhadap diri kemakhlukan manusia. Bulan Ramadhan adalah masa yang spesifik dan modus yang unik yang disediakan Allah SWT buat proses kreatif penghayatan tersebut. Bagaimana respons seorang muslim terhadap modus ini menunjukkan sifat dan sikap beragama yang ia miliki. Jika dengan berpuasa ia berhasil meninggikan mutu penghayatannya, maka ia akan sungguh-sungguh menjumpai Idul Fitri dan dengan itu bertambah kepatuhannya, kepasrahannya, kepada Allah Semesta Alam. Pepatah mengatakan besi mesti ditempa selagi panas. Maka momentum Ramadhan kemarin adalah merupakan medan penempaan manusia untuk menjadi makhluk yang memiliki derajat keislaman yang baik atau tidak di mata Allah SWT.

 

Meresonansi peristiwa hari raya Idul Fitri menjadikan kita harus berfikir seperti Rasullullah SAW bahwa hari raya bukanlah milik orang yang baru pakainnya, melainkan milik mereka yang bertambah kepatuhannya. Konsepsi kepatuhan dalam Islam adalah pasrah kepada Allah SWT. Pasrah dalam artian tidak berkonotasi pasif melainkan aktif. Pasrah kepada kehendak Allah SWT ialah keinsyafan terhadap eksistensi nikmat dan anugerah yang diberikan Allah SWT kepada manusia. Konsep kepasrahan itu harus dijalankan terus menerus dengan berusaha meraba, berijtihad, berinovasi mencari makna syukur-nikmat yang diberikan Allah SWT kepada umat-Nya. Ramadhan dan momentum Idul Fitri menjadikan konsep kepasrahan dalam diri kita mudah-mudahan semakin mengkristal.

 

Merayakan hari raya Idul Fitri melalui acara Halal Bihalal sebagai khasanah religius ini sekali lagi adalah merupakan salah satu momentum penting bagi kita untuk memaknai arti perjalanan Ramadhan. Sudah siapkah kita dengan legitimasi baru sebagai manusia yang bertambah tingkat Keislamannya, baik secara ritual maupun secara sosial ? Wallahualam Bisawab.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: