ANDI TRINANDA

Beranda » ARTIKEL » AKSI MAHASISWA : KONTRA PRODUKTIF ?

AKSI MAHASISWA : KONTRA PRODUKTIF ?

Melihat bebarapa aksi mahasiswa yang dilakukan oleh gerakan atau elemen mahasiswa akhir-akhir ini, saya dan mungkin masyarakat lain turut prihatin. Mengapa setiap aksi yang dilakukan oleh elemen-elemen mahasiswa-cenderung berakhir dengan anarkisme dan holiganisme?. Melihat centang perenangnya ekspresi berdemokrasi di Indonesia tersebut, maka tidaklah salah apabila kita semua terutama khususnya mahasiswa sebagai intelektual muda-juga perlu menelaah tentang nilai susbtansi sebuah gerakan dalam perspektif melihat arah dan tuntutan kemurnian aksi mahasiswa. Terutama sekali menyangkut manajemen aksi yang berimplikasi pada nilai gerakan mahasiswa itu sendiri sebagai agent of change.

 

Saya adalah orang yang termasuk masih optimis tentang kemurnian gerakan mahasiswa sebagai suatu kekuatan moral yang mampu mendorong akselerasi kepentingan publik agar memiliki posisi tawar vis a vis kepada negara (kekuasaan). Namun demikian mahasiswa juga perlu menyadari bahwa gerakan mahasiswa adalah pintu masuk yang paling mudah dan elementer bagi siapapun pihak yang memiliki korelasifitas terhadap kepentingan. Dengan demikian, gerakan mahasiswa adalah tandem efektif bagi siapa saja yang mampu mengemas momentum menjadi opportunity yang instant bagi tujuan kelompok tertentu yang inheren namun psudo dengan justifikasi kebenaran, keadilan dan kepentingan rakyat. Dalam konteks yang demikian itu maksud saya adalah tidak ada salahnya elemen mahasiswa dan gerakan mahasiswa lebih perlu merapatkan kembali barisan dan subatansi gerakan. Tidak ada salahnya untuk menelaah dan merespons keprihatinan masyarakat yang pesimis terhadap gerakan mahasiswa saat ini dan tidak ada salahnya pula mahasiswa juga perlu melakukan instrospeksi diri-terutama pada implementasi praktis dilapangan dalam mengelaola sebuah aksi agar gerakan mahasiswa tidak mudah di fait a compli oleh unsur-unsur lain di luar gerakan mahasiswa yang memanfaatkan momentum aksi bagi kepentingan kelompoknya.

 

Kekhawatiran banyak pihak tentu saja beralasan. Dengan melihat fakta bahwa aksi mahasiswa diwarnai oleh persiapan radikalisme aksi (bambu/ kayu bendera yang ujungnya dibuat sangat runcing: mirip dengan senjata, bom Molotov, ban mobil yang siap dibakar ditengah jalan, bahkan yang paling ekstrem adalah memblokade jalan sehingga masyarakat umum menjadi sangat terganggu dengan aksi mahasiswa) dan jika kita merefleksi gerakan mahasiswa akhir-akhir ini dengan melihat konstalasi dan perkembangan demokrasi di Indonesia, saya menilai boleh jadi aksi yang dilakukan oleh mahasiswa sudah mulai terdegradasi dari semangat memuntahkan energi intelektual yang jauh dari semangat dan retorika yang elegan dan nilai-nilai kesantunan. Dengan melihat kondisi yang demikian itu pula saya khawatir bahwa gerakan mahasiswa, aksi-aksi yang dilakukan oleh mahasiswa yang sejatinya adalah sebagai bagian dari desah nafas keinginan dan harapan kita semua tentang banyak hal, yang seharusnya produktif dan efektif menciptakan pola dan akselerasi maturaty berdemokrasi-menjadi malah tidak produktif. Dan dengan demikian malah menjadi justifikasi logis bagi penguasa dan aparat untuk melakukan stabilisasi dengan cara merepresi aksi-aksi yang diusung mahasiswa.

 

Oleh karenanya sudah seharusnya semua elemen mahasiswa mulai kembali menelaah dan mengelaborasi perspektif gerakan mahasiswa masa depan yang lebih elegan, santun, konstruktif dan santun tanpa mengeliminasi semangat dan energi inetelektual kaum muda yang kritis dan reaktif. Saya sebagai orang awam, sebagai masyarakat kebanyakan mungkin juga merindukan suatu pola atau trend baru dari gerakan mahasiswa yang lebih progresif tanpa menegasikan semangat sebagai agent of change (agen pembaharu) yang tidak melulu kental pada target chaos disetiap aksi, symbol-simbol anarkisme, retorika aksi yang humanis dan dan sebagainya. bagi saya amatlah naïf bahwa sebuah gerakan hanya ibarat sebuah pementasan aksi-aksi yang cenderung mengendepankan symbol-bukan substansi. Mengapa karena semua pihak siapapun ia, mahasiswa, aparat, kepolisian, pengamat politik, partisan dan akademisi berhak mengklaim dirinya  atas nama rakyat, atas nama kebenaran, atas nama keadilan dan seterusnya……dan untuk mahasiswa Indonesia, saya percaya bahwa setiap generasi melahirkan dinamikanya sendiri-sendiri. seperti generasi mahasiswa 1908, 1928, 1945, 1966, 1974, 1978, 1998. sekali lagi saya masih optimis bahwa gerakan masiswa Indonesia saat ini masih memiliki energi, warna dan romantisme gerakan yang sejatinya bisa lebih progerss dan inovatif sesuai dengan kondisi dan dinamika demokrasi dan demokratisasi di Indonesia. semoga….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: