ANDI TRINANDA

Beranda » ARTIKEL » KEMANA PEMIMPIN MUDA ?

KEMANA PEMIMPIN MUDA ?

Bung karno diakui dunia melalui pledoi politiknya yang berjudul “Indonesia Menggugat” di Pengadilan Hindia Belanda kira-kira berumur 30 tahun. Ketika menjadi Presiden ia berumur sekitar 40-an tahun, Muhammad Hatta juga kira-kira berumur 40-an, Sutan Syahrir menjadi Perdana Menteri di umur 39 tahun, Burhanudin Abdullah, Amir Syarifuddin menjadi Perdana Menteri juga berumur kurang lebih 40 tahun. Begitu pula Suharto, menjadi Presiden di umur 47 tahun. Setelah lebih tiga dasa warsa merdeka Indonesia melahirkan Presiden Habibie dengan umur lebih 62 tahun, Gus Dur 63 tahun, Megawati 59 tahun, dan Susilo Bambang Yudhoyono saat ini sudah berumur 60-an tahun. Dan jika kita prediksi dengan melihat calon presiden yang sudah siap maju untuk pemilu 2009 nanti, kira-kira konstalasinya adalah sebagai berikut : Sutiyoso sudah 67 tahun, Amin Rais juga hampir 70 tahun, Gus Dur, 70 tahun, Megawati 65 tahun, SBY lebih 60 tahun, Wiranto yang sudah berumur diatas 65 tahun, dan Sri Sultan Hamengkubowono X kira-kira juga sudah hampir 70 tahun. Dari komposisi capres yg sementara ini ada, hanya Prabowo Subiyanto dan Yusril Ihza Mahendra yang relatif jauh lebih muda, yakni 50-an tahun. 

Melihat konstalasi umur pemimpin bangsa kita, anda bisa tebak sendiri-bahwasanya disadari atau tidak- diakui atau tidak ternyata benar bahwa sejatinya realitas peran kaum muda telah terdeviasi oleh kuatnya demarkasi pemimpin “tua” yang mengkanalisasi budaya dan akses kepemimpinan ke ruang publik secara terbuka. Padahal boleh jadi bahwasanya gelombang dinamika di era demokrasi dan demokratisasi di Indonesia saat ini sangat diwarnai oleh paradoksal pemikiran dalam melihat perspektif arah masa depan bangsa melalui determinasi cermin pandang generasi yang berbeda. Saya pribadi melihat diskursus dikotomi kaum muda dan kaum tua saat ini terjadi bukan pada konteks persoalan kompetensi kepemimpinan dan pengalaman memimpin tapi sekali lagi pada performance dan minimnya akses baik secara struktural maupun kultural yang menempatkan anak muda pada ranah yang mampu melegitimasikan eksistensinya di kancah piramida kepemimpinan nasional. Padahal saya sangat percaya dengan potensi kaum muda yang saat ini tersedia untuk mengisi berbagai tatanan strategis dalam konstalasi ketatanegaraan Indonesia. Mereka-mereka yang sudah memimpin bangsa ini seharusnya juga mulai membuka demarkasinya untuk kaum muda tanpa reserve dan retorika. Berikan kepada kaum muda jalan sistemik mekanisme kepemimpinan tersebut, baik melalui partai politik atau melalui jalan alternatif lain yang menyediakan kesempatan bagi kaum muda untuk mendorong dirinya secara alamiah dan ilmiah agar tampil ke muka publik sebagai pemimpin alternatif masa depan. Bagi kaum muda, ketersediaan jalan tersebutlah yang memberikan orientasi elementer bagi mereka dalam menelaah experience dan relationship serta menjadikan knowlegde dari apa yang sudah dilakukan oleh pemimpin-pemimpin sebelumnya. Sebab saya adalah salah seorang yang meyakini apabila pada pemilu 2009 nanti tidak ada perubahan tokoh alternatif yang signifikan, maka boleh jadi tidak akan pula terjadi perubahan signifikan pada orientasi bangsa Indonesia kedepan dalam perspektif paradigma dan tatanan kelembagaan membangsa. Pemimpin tua juga sebaiknya tidak menjadikan perdebatan tua-muda sebagai salah satu pelatuk untuk menganalogikan pemimpin dengan menegasikan umur produktif. Juga jangan terlalu under estimate terhadap psikologis pemimpin muda yang progresif, reaksioner, cepat mengambil keputusan sebagai suatu ciri negatif dalam diri kaum muda-sebaliknya ciri-ciri tersebut adalah merupakan ciri positif yang saat ini memang ditunggu aktualisasinya oleh masyarakat kita dalam menghadapi gelombang masalah baik politik, ekonomi, sosial, budaya dan masalah keamanan. Jika hal tersebut tetap dijadikan barometer argumentatif untuk menghadapi determinasi kaum muda. Maka quo vadis kepemimpinan nasional alternatif dengan dominasi kaum muda sebagai fresh generation of country tetap menjadi barometer dan isue aktual kedepan. Bukankah seharusnya kita juga berkaca kepada negara-negara lain yang mampu memimpin negaranya di usia muda, Perdana menteri perancis Sarkozy yang berumur 40 an, kesuksesan Fladimir Putin ketika awal memimpin negerinya di usia 40 an tahun, Tony Blair di Inggris, Mahmoud Ahmadinedjad di Iran, calon Presiden AS saat ini Barack Obama yang mendapat dukungan kuat dari rakyat Amerika dan masih banyak lagi pemimpin-pemimpin dunia yang bisa kita jadikan cermin untuk menempatkan kaum muda pada tempat yang seharusnya sudah mereka pikul. Atau paling tidak berkacalah pada Sukarno, Hatta, Syahrir, Amir Syarifudin dan Suharto yang pernah menjadi pemimpin negeri ini.

Oleh karenanya Pemilu 2009 nanti, saya berharap ada tokoh alternatif dari kaum muda yang memiliki keberanian dan determinasi konstruktif dari segi kepemimpinan, pemikiran, pendidikan dan moral untuk menjadi pemimpin negeri ini. wallahualam bisawab


3 Komentar

  1. nun1k04a mengatakan:

    artikel anda :

    http://politik.infogue.com
    http://politik.infogue.com/kemana_pemimpin_muda_

    promosikan artikel anda di http://www.infogue.com dan jadikan artikel anda yang terbaik dan terpopuler menurut pembaca.salam blogger!!!

  2. Bambang mengatakan:

    Jangan ngawur, Prabowo itu baru 57 tahun

  3. andreas mengatakan:

    Pemimpin seperti apa?

    Sebuah Metafora : Kepemimpinan Yang Jazzy

    Kepemimpinan yang bertumpu pada daya kreasi rakyat atau Kepemimpinan yang tidak melekat pada person tetapi sebuah kolektif kesadaran rakyat untuk menggerakan perubahan

    Berbeda dengan musik klasik, ada dirigen, partitur, pemain musik yang tertib di tempatnya masing, segudang pakem-pakem musik klasik, maka didalam musik jazz kebebasan, kreatifitas, keliaran, kejutan merupakan nafas dan jiwa musiknya. Ada saxophone, flute, drum, perkusi, bass gitar, piano yang masing-masing berdaulat penuh.

    Disatu sisi ada keliaran, tapi segala keliaran tetapmenghasilkan harmoni yang asyik. Kebebasan dan keliaran tiap musisi, patuh pada satu kesepakatan, saling menghargai kebebasan dan keliaran masing-masingmusisi sekaligus menemukan harmoni dan mencapai tujuannya, yakni kepuasan diri musisinya dan kepuasan pendengarnya.

    Jadi selain kebebasan juga ada semangat saling memberi ruang dan kebebasan, saling memberi kesempatan tiap musisi mengembangkan keliarannya (improvisasi) meraih performance terbaik. Keinginan saling mendukung, berdialog, bercumbu bukan saling mendominasi, memarginalisasikan dan mengabaikan.

    Seringkali saat bermusik ada momen-momen ketika seorang musisi diberikan kesempatan untuk tampilkedepan untuk menampilkan performance sehebat-hebatnya, sedangkan musisi lain agakmenurunkan tensi permainannya.

    Tapi anda tentunya tau gitar tetap gitar, tambur tetap tambur, piano tetap piano. Namun demikian dialog antar musisi dilakukan juga dengan cara musisi piano memainkan cengkok saxophone, musisi perkusi memainkan cengkok bass betot. OHOOOOOOOOO guyub dan elok nian.

    Lepas dari jiwa musik jazz yang saya sampaikansebelumnya tetap saja ada juga yang ‘memimpin’, pusatgagasan dan inspirasi tentunya dengan kerelaan memberi tempat kepemimpinan dari semua musisi. Bisa dalam bentuk beberapa person/lembaga maupun kolektifitas.

    Misalnya dalam grup Chakakan bahwa vocalisnya Chahakan adalah inspirator utama grup ini. Apa yang menarikdari vokalis Chahakan ini adalah dia yang menjadi inspirator, penulis lagu dan partitur dasar musiknya,selain itu improvisasi, keliaran dan kekuatan vokalnya menebarkan energi , menyetrum dan meledakkan potensi musisi pendukungnya.

    Model kepemimpinannya bukan seperti dirigen dalam musik klasik yang menjaga kepatuhan dan disiplin tanpa reserve, tetapi lebih menjadi penjaga semangat (nilai-nilai, atau bahkan cita-cita kolektif), memberiruang bagi setiap musisi untuk pengayaan gagasan danproses yang dinamis. Baik ketika mematerialkan gagasan maupun ketika berproses di panggung atau di studio rekaman. Tidak memaksakan pola yang baku dan beku, tetapi sangat dinamis dan fleksibel.

    Setiap penampilan mereka di panggung adalah penemuan cengkok-cengkok baru, nyaris sebenarnya setiap performance selalu baru. Tidak ada penampilan yang persis sama. Tetapi tetap mereka dipandu tujuan yang sama memuaskan kebutuhan masing-masing musisi dan pendengarnya,menggerakan dan merubah.

    Yang menarik juga dari jazz ini adalah sifatnya yangterbuka, open mind, open heart. Waljinah, master penyanyi keroncong dengan lagu walang kekeknya, ataulagu bengawan solonya gesang, atau darah juang lagu perlawanan itu, ravi shankar dengan sitar, rebab dan spirit indianya, atau bahkan internasionale dan maju tak gentar, atau imaginenya john lennon, atau reportoar klasik bach, bahkan dangdut pun, bahkan lagu-lagu spiritual bisa diakomodir oleh musisi jazz dan jadi jazzy.

    Itulah karakter kepemimpinan yang asyik, kepemimpinan yang berkarakter kepemimpinan spiritual, menjaga dan menyalakan spirit/semangat/ nilai-nilai/ garis perjuangan, menyeimbangkan dan mencapai harmoni musik.

    Selain itu kepemimpinan ini harus bisa fleksibel dalam pengayaan pilihan-pilihan pendekatan, bisa menawarkannuansa keroncong, dangdut, gending, samba, regge,rock, gambus, pop, klasik dalam bermusik jazz. Ataumemberi peluang atau kesempatan satu musisi atau alat musik leading, maju kedepan dan yang lainnyamemperkaya di latar belakang. Lepas dari itu bukan berarti saya lebih mencintai jazz, dibanding klasik, new age atau dangdut, tetapiini lebih kepada menemukan analogi dan metafora.

    salam hangat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: