ANDI TRINANDA

Beranda » ARTIKEL » Artikel Politik » DISKURSUS IKLAN PKS DAN KOMUNIKASI POLITIK

DISKURSUS IKLAN PKS DAN KOMUNIKASI POLITIK

(Sebuah Rekomendasi epilogis tentang eksistensi PKS)

Sampai hari ini masih saya temukan diberbagai media diskusi tentang iklan Partai Keadilan Sejahtera dalam rangka memperingati hari pahlawan. Silang sengketa diskusi terus bereskalasi dari masalah intepretasi tentang pemaknaan substansi pesan iklan secara tekstual dengan melibatkan tokoh-tokoh Pahlawan Nasional dan tokoh Nasional-sampai masalah intepretasi kontekstual pemaknaan iklan dalam perspektif menakar eksistensi peran partai dalam medium interaksinya secara sosial kepada konstituen. Apapun dan bagaimanapun diskursus yang berkembang-sejatinya saya pikir itu adalah bagian dari dinamika spektrum cakrawala kita tentang berdayanya tingkat sensitifitas politik massa. Sebagai suatu sensitifitas politik saya pikir hal tersebut adalah merupakan dinamika yang konstruktif yang perlu terus dipelihara. Namun demikian amatlah naïf apabila kita hanya melihat sebuah iklan hanya dalam spektrum sempit jangka pendek karena faktor kecemburuan akibat ketidakmengakuan kita dalam melihat proses progresifnya creative thingking, creative breeff, dan cerdasnya pesan persuafif iklan yang dilakukan oleh PKS. Dua konteks yang saya maksudnya diatas juga sejatinya jangan kita pisahkan begitu saja dalam kerangka memahami esensi pesan kreatif iklan yang berdampak dan berdimensi politis. Walaupun saya bukan orang PKS-namun paling tidak saya berusaha memahami bahwa masalah publikasi tema iklan PKS pasti menimbulkan semangat defensifikasi sekaligus ofensifikasi justifikasi anggota, dan simpatisan partai. Melihat diskursus yang berkembang itu saya memberikan catatan dalam 3 analisa sekaligus yang saling bertalian kelindan dalam melihat iklan sebagai sebuah pesan publik yang memiliki kaidah yakni mengandung nilai infomasi dan persuasi (baca: mengajak atau mempengaruhi publik )

Pertama, analisa konteks. Iklan yang ditampilkan oleh PKS termasuk sudah memenuhi esensi standar time utility yakni memenuhi kaidah nilai guna waktu. karena momentum hari pahlawan 10 November yang digunakan adalah relevan dan obyektif untuk kita telaah  secara empiris konstalasi dinamika sejarah bangsa dengan memaknai jasa para pahlawan dan tokoh-tokoh nasional yang memiliki kontribusi besar mempengaruhi bangsa ini. Dalam analisis konteks, pesan informatifnya mengena  dan pesan persuasifnya juga mengena walau agak sedikit indokrinatif karena menegasikan (atau) tidak membuat kanalisasi tokoh sehingga mengundang intepretasi public tentang kejejajaran secara kualitatif, tingkat ke-otentik-an tokoh dan sebagainya-terutama tokoh yang bukan pahlawan seperti Gus Dur dan mantan Presiden Suharto. Namun secara umum dari segi etika periklanan pesan dalam analisa konteks ini sudah sesuai porsinya.

 

Jadi menurut saya perdebatan tentang dipakainya tokoh Pahlawan KH. Ahmad Dahlan dan KH. Hasyim Ashari, tokoh bangsa Gus Dur dan mantan Presiden Suharto dalam konteks komunikasi politik adalah hanya berkaitan dengan persoalan chaovinisme politik yang sangat primordial. Adapun tentang mantan presiden Suharto yang telah mengaburkan peran PKS sebagai partai reformis adalah sangat keliru dan terlalu instant menjustifikasi eksistensi partai, karena dalam konteks ini pihak yang menentang hanya melihat satu dari sekian banyak perspektif tentang kontribusi dan peran mantan presiden Suharto.(untuk masalah ini diskusi kita bisa lebih jauh amat panjang ).

 

Kedua, Analisa content. Dalam terminologi dunia periklanan. Analisa content digunakan untuk mengukur sejauhmana pesan kreatif iklan mampu menembus proses keyakinan public sehingga tujuan iklan yaitu merubah dan mempengaruhi tingkah laku public tercapai. Untuk itu maka kita harus melihatnya dalam 3 pendekatan sekaligus yaitu positiong, branding dan differentiation (baca : PDB). Dalam komunikasi politik saya kira iklan PKS–walaupun menurut saya sangat biasa dan standar, namun dalam jangka pendek sangat berhasil mendudukkan peran partai sesuai dengan target politik yang  dicapai-walaupun dalam jangka panjang hal tersebut sangat ditentukan oleh banyak factor, misalnya kontinuitas iklan, jam tayang iklan dan sebagainya. Dan barangkali yang membuat “cemburu” partai lain adalah semangat inovatif  dan cepatnya PKS mengemas gagasan momentum tersebut ketimbang partai-partai lain. Secara simplistis sebenarnya gerundelan oleh partai lain timbul karena mereka sejatinya hanya kalah cepat saja dengan PKS. Dan jika kita perhatikan secara seksama, maka kemasan iklan yang ditampilkan PKS sejatinya inheren dengan iklan Sutrisno Bachir yang mengedukasi semangat kemandirian dan intepreneurship melalui sekuel keberhasilan anggota masyarakat yang mampu membangun semangat kemandirian. Bedanya dalam iklan PKS sekuel yang ditampilkan adalah tokoh pahlawan dan tokoh politik yang otentitasnya sudah terekam dalam stigma masyarakat. PDB yang hendak dibangun oleh PKS tidak bisa dilakukan secara instan, karena pembentukan PDB haruslah melewati sebuah proses komunikasi publik yang memberikan persepsi, knowledge, image, awarness dan equity publik. dalam konteks ini maka keyakinan publik bisa muncul berdasarkan sudah sejauhmana organizasion life cycle sudah berada ditahap maturity. dalam konteks ini kita bisa memberikan terminologi tentang sudah sejauhmana eksistensi PKS di mata publik. Namun demikian PKS sejatinya telahberhasil menanamkan persepsi dan knwoledge kepada publik tentang eksistensi partrai, terutama tentang “fiqih politik” yang ditawarkan dan di “jual” kepada publik, yakni menjadikan partai ini lebih ingklusif ketimbang sebelumnya dengan memberikan sebuah proses rekonstruksi paradigma publik tentang bagaimana menilai, mencermati dn mengambil ikhtiar dari dinamika sejarah yang berkembang di Indonesia. dan tokoh-tokoh yang diiklankan tersebut telah dianggap mewakili simbol-simbol dinamika tersebut.

 

Ketiga, analisa performance. Penampilan iklan PKS jika dilihat dari segi estetika (padu padan warna, desain cover dan sebagainya termasuk efek suara yang ditampilkan sudah sangat baik. secara substansial penampilan iklan PKS juga telah mendorong terjadinya perubahan penampilan secara eksistensial partai dimata publik. dengan performa iklan yang ditampilkan PKS, maka sejatinya PKS telah memberikan persuasi kepada publik bahwa kedepan PKS sudah tidak lagi ekslusif dengan ciri “partai dakwah” dan sarat simbol menjadi partai yang lebih progresif dan terbukaperforma iklan PKS menunjukkan sudah mulai adanya intensifikasi, ekstensifikasi dan diversifikasi peran partai politik. persoalannya adalah apakah kebijakan performa iklan inheren dengan performa eksistensi dan peran PKS terebut, atau malah jangan-jangan internal PKS sendiri tidk berfikir sejauh itu. sebab implikasi performa iklan ibarat dua buah keping mata uang. ia bisa berakhir konstruktif juga bisa berakhir destruktif terhadap eksistensi partai. karena jika kita bicara iklan sejatinya adalah kita teah masuk kepada upaya mengideologisasikan sebuiah product di mata konsumen. Ketika partai politik beriklan maka sejatinya  telah menawarkan proses ideologisasinya itu kepada publik. perlu diingat bahwa para analis iklan telah memprediksi bahwa iklan sutrisno bachir yang cenderug mempersonlisasikan dirinya dengan ideologisasi “hidup adalah perbuatan” aan berakhir dengan agak “sinis” nya publik menilai tokoh ini. “hidup adalah perbuatan” yang mengutip syair Chairil Anwar  pada akhirnya tidak melegitimasikan eksistensi partai- sebab publik belum penah melihat “apa yang pernah diperbbuat sutrisno bachir”. barangkali persepsi, kwnolede publik bahkan image dan awarness publik menjadi konstruktif manakala yang tampil adalah Amin Rais. Publik jelas lebih bisa mencerna dan mengetahui apa yang telah diperbuat Amin Rais. dalam kontek ini yang mau saya sampaikan adalah performa iklan sangat mempengaruhi, sikap opini dan tingkah laku publik. oleh karena itu maka PKS harus siap menghadapi segala bentuk konsewensi logis sikap, opini dan tingkah laku publik terhadap substansi dan performa iklan yang telah ditampilkan.

Ketiga analisa yang saya paparkan tersebut diatas hanyalah sebuah catatan yang barangkali bisa kita telaah untuk memberikan semacam wacana kepada kita terhadap nilai dari wacana itu sendiri. Pada ghalibnya terserah anda, saya juga berhak menuai gagasan dan merenda tulisan tapi saya sangat yakin, “keberhasilan” iklan PKS ini akan banyak diikuti oleh partai-partai lain, yang barangkali “telah menyadari” bahwa iklan di televisi adalah salah satu jalan eelementer  yang paling efektif sebagai alternatif kampanye politik yang mengundang massa.

 

 

 

 

%d blogger menyukai ini: