ANDI TRINANDA

Beranda » ARTIKEL » Artikel Politik » MENELAAH KEMBALI KARAKTERISTIK CALON LEGISLATIF KITA

MENELAAH KEMBALI KARAKTERISTIK CALON LEGISLATIF KITA

Beberapa waktu yang lalu saya terlibat diskusi di komunitas pemberdayaan masyarakat untuk pemilih cerdas. Tema diskursus yang diangkat adalah seputar eksistensi caleg (baca : calon legislatif) baik ditingkat DPR RI maupun DPRD. Lingkup diskusi semakin mengemuka dan menjadi concern untuk lebih di telaah – berkaitan dengan masalah kompetensi dan integritas para caleg. Pokok pangkal tentu saja berangkat dari fakta empiris eksistensi para wakil rakyat kita saat ini dalam mengemban tugas dan fungsi legislasi-termasuk di dalamnya mengenai masalah etika dan tanggung jawab moral mereka. Dalam konteks kekinian – memang tiada jalan yang paling efektif selain merekonstruksi paradigma eksistensi caleg sebagai representasi parpol di dewan perwakilan rakyat maupun daerah yang merujuk pada 3 komponen utama personalitinya, yaitu kompetensi, sikap dan attitude dengan tujuan untuk menghadirkan para wakil rakyat yang memang memiliki kemampuan intelektual sesuai dengan bidangnya-memiliki kinerja baik-punya integritas dan dedikasi terhadap rakyat.
Rekonstruksi eksistensi wakil rakyat tentu harus dimulai dari hasil menganalogikan komposisi wakil rakyat kita saat ini. Dari hasil analogi inilah sejatinya kita bisa membangun komitment das solen tentang eksistensi wakil rakyat kita sesungguhnya. Kalau di telisik menurut saya persebaran komposisi anggota DPR kita dapat dapat dibagi kedalam 3 kualifikasi : pertama, kualifikasi anggota DPR yang memiliki idealisme sangat kuat. Jika dicermati Masyarakat kita sebenarnya bisa menilai dari karakteristik anggota DPR kita ini dengan ciri-ciri sederhana, yaitu berfikir jernih, tulus berpihak pada rakyat dan terutama sekali adalah sangat intelektual, cerdas dan menjunjung aturan main dan etika komunikasi, tipikal sosok yang seperti ini juga terlihat dari sangat baiknya kinerja dan kehadirannya di tugas-tugas legislasi. Kedua, kualifikasi anggota DPR kita yang oppurtunis. Tipikal sosok anggota DPR kita ini sangat kentara terlihat dari tidak konsistensinya paradigma dan perilaku, cenderung mengedepankan kekuatan logika ketimbang obyektifitas dan kejernihan masalah. psudois demokrasi namun sejatinya sangat partisan dan sektarian bahkan keliatan sekali memanfaatkan jabatan hanya untuk kepentingan mengamankan posisi pribadinya, tidak profesional karena banyak proyek yang rangkap dikerjakannya, hanya concern pada tema-tema yang bertitik tolak pada kepentingan pribadi dan golongannya, kutu loncat dan tidak produktif secara intelektual di tugas-tugas legislasinya. Ketiga adalah kualifikasi Tipikal anggota DPR yang didefinisikan sebagai kelompok koboi. Ciri khusus dari kelompok ini kebanyakan dihuni oleh anak-anak muda, atau kelompok orang yang “baru” belajar politik tapi punya kesempatan gampang untuk duduk di DPR. Kita bisa cermati kualifikasi ini telah melahirkan sosok-sosok yang meledak-ledak, berfikir jangka pendek, sangat partisan, cenderung menabrak aturan main dan etika serta tata tertib fungsi kerja legislasi dan yang paling ekstrem adalah kelompok koboi ini sangat ingin secara instan menjadi tokoh nasional walaupun kapasitas dan pengalamannya masih teramat dangkal.
Ketiga kualifikasi tersebut menjadi persebaran yang menarik dalam melihat wajah anggota DPR kita. Pola yang ideal adalah kualifikasi idealisme mendominasi karakter anggota DPR lainnnya. Namun kenyataanya tokoh-tokoh yang memiliki idealisme kuat justru menjadi kelompok yang “kesepian” ditengah dinamika kinerja dan tata laksana aktivitas DPR. Walaupun masyarakat kita tidak bisa serta merta memiliki parameter obyektif tentang ini, namun fakta empiris telah menjadi bagian dari realita memori masyarakat kita tentang kualitas anggota DPR kita.
Saat ini kayaknya tidak ada perubahan yang signifikan terhadap ketiga kualifikasi yang saya sebutkan diatas untuk formasi calon legislatif kita. Salah satu faktor yang sangat mendasar yang memberikan kontribusi terhadap karakter calon legislatif kita adalah tidak berjalan maksimalnya peran partai politik dalam melakukan proses kaderisasi anggota yang akan duduk menjadi anggota DPR. Implikasi dari tidak berjalanya mesin demokrasi dan demokratisiasi di dalam partai inilah yang melahirkan dan membuka kesempatan kepada siapapun untuk bisa berkarir melalui jalur parpol tanpa adanya proses garansi yang memadai bagi tingkat keberpihakan dan loyalitasnya terhadap partai. Idealnya adalah bahwa puncak karir politisi adalah ketika ia sudah mengabdi dan membesarkan partai, maka carrer path-nya adalah kekuasaan baik legislatif maupun eksekutif. Bisa dibayangkan ketika anggota dan pengurus partai yang selama ini berjuang mengabdi dan membesarkan partai, kalah bersaing dengan orang di luar partai hanya karena mereka punya materi, popularitas dan seterusnya. Tanpa garansi yang memadai itulah maka partai politik sangat gambing dan surprised melihat kompetensi, performance dan attitude anggota legislatifnya.
Oleh karenanya, walaupun seakan tidak efektif dan sangat instan, namun rekomendasi ideologis tentang wacana pemberdayaan caleg melalui karantina politik yang sistematis, kontinu dan terpogram secara ademis dan educatif sangat dibutuhkan oleh parpol untuk memberikan elektibilitas calon legislatifnya- untuk paling tidak mendapatkan cek yang tidak kosong yang diberikan calon legislatif terhadap parpol yang diwakilinya. Belum terlambat bagi partai politik melakukan itu. Bukankah pepatah mengatakan ”besi mesti ditempa selagi panas ?”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: