ANDI TRINANDA

Beranda » ARTIKEL » BELAJAR DARI DIALOG SYAIDINA UMAR BIN KHATTAB DENGAN KHALID BIN WALID

BELAJAR DARI DIALOG SYAIDINA UMAR BIN KHATTAB DENGAN KHALID BIN WALID

Pasca kepemimpinan Rasullullah Muhammad SAW kepemimpinan Islam silih berganti di pimpin oleh para khalifah sahabat Rasulullah. Salah satu yang menarik dari kepemimpinan khalifah Rasulullah tsb adalah ketika Islam dipimpin oleh sahabat beliau yaitu Syaidina Umar Bin Khattab. Syaidina Umar bin Khattab memiliki panglima perang yang sangat terkenal waktu itu yakni Khalid Bin Walid. Beliau (Khalid Bin Walid) adalah salah satu pejuang Islam yang sangat piawai memimpin perang baik di jaman Rasulullah SAW hingga ia ditunjuk sebagai panglima perang di jaman kepemimpinan Umar. Saking piawainya ia juluki pedangnya Rasulullah.

Suatu ketika Syaidina Umar memerintahkan pasukannya untuk bertempur ke medan perang. Namun pada saat itu Syaidina Umar justru membuat keputusan sangat tegas, yakni mencopot jabatan Khalid Bin Walid sebagai pemimpin panglima perang sekaligus tidak memerintahkan beliau terlibat dalam pertempuran tersebut. Umar menggantikannya dengan panglima baru. Tentu keputusan tersebut membuat semua prajurit dan seluruh elemen kekuasaan Umar Bin Khattab kaget. Namun apa yang terjadi ? Khalid Bin Walid walaupun ia sangat terkejut, namun ia menerima sangat ikhlas keputusan itu. Hanya ia meminta kepada Umar tetap ingin berangkat ke medan perang. Umar menyetujui usulan Khalid. Diperjalanan menuju medan perang, seluruh prajurit sangat heran dan tidak mengerti-mengapa seorang Khalid Bin Walid mau bergabung di tengah prajurit, menjadi prajurit biasa kembali. Bukankah ini menyangkut eksistensi diri dan harga diri seorang Khalid bin walid sendiri selaku mantan panglima perang yang sangat popular sejak zaman Rasulullah, ditakuti para musuh dan memiliki kharisma luar biasa di mata seluruh prajurit. Namun Khalid Bin Walid hanya berucap ia berjuang bukan untuk kekuasaan Umar, ia berjuang untuk Dienul Islam. Islam Dienullah yang sangat ia cintai hingga akhir hayat. Alkisah perang tersebut berhasil dimenangkan oleh pasukan Syaidina Umar Bin Khattab. Khalid Bin Walid kemudian mendatangi lagi umar untuk meminta klarifikasi mengapa ia di copot jabatannya sebagai pemimpin perang kala itu. Umar menyetuji permintaan Khalid dan dijawab ada 3 (tiga) alasan mengapa ia mencopot Khalid. Tiga alasan yang dikemukakan Umar itu adalah : Pertama, ia tidak ingin Khalid menjadi manusia yang sombong, Kedua, beliau tidak ingin pemimpin tidak lebih popular ketimbang bawahannya. (dalam konteks ini kedudukan antara Umar sebagai pemimpin dengan Khalid sebagai pembantu Umar), ketiga, beliau tidak ingin melihat seluruh prajurit mengkultuskan Khalid, sebab dengan begitu akan menumbuh suburkan kemusyrikan baru. Ketiga alasan yang dikemukakan oleh Umar tersebut diterima tanpa reserve oleh Khalid sebagai suatu keputusan yang “menyelamatkannya”. Khalid justru berterima kasih kepada Umar terhadap pencopotan dirinya. Ia menerima dengan ikhlas pencopotan tersebut dan tetap ikhtiar bergabung menjadi prajurit di bawah kepemimpinan baru panglima perang yang di tunjuk oleh Umar. Pelajaran yang bisa kita petik dari dialog antara Syaidina Umar Bin Khattab dengan Khalid Bin Walid di cerita tersebut diatas adalah pertama, sikap acceptance dan interest Khalid terhadap Umar perlu menjadi refleksi kita semua. Yakni sikap menerima secara positif keputusan yang dibuat oleh pemimpin. Sikap positif ini dimiliki oleh Khalid walaupun secara politik dan psikologis keputusan tersebut telah memarginalkan dan mendemarkasikan posisi Khalid Bin Walid yang tidak lebih strategis di kepemimpinan Umar. Sikap positif thinking inilah yang tidak semuanya bisa dimiliki oleh seseorang ketika ia menerima keputusan yang sejatinya “merugikan” eksistensi dirinya. Kedua, sikap Khalid Bin Walid yang menerima keputusan namun tetap menyimpan haknya untuk mempertanyakan alasan Syaidina Umar memecatnya pada waktu dan tempat yang tepat. Pelajaran inilah yang juga jarang kita jumpai saat ini. Ketika kita dihadapkan oleh keputusan pahit, terkadang timbul split personality dalam diri yang tidak lagi bisa melihat urgensi, substansi dan konteks keputusan tersebut. Pilihan khalid yang tetap ikhtiar menerima keputusan menjadi prajurit biasa, dan mempertanyakan haknya setelah kondisinya memungkinkan untuk berdialog dengan umar adalah salah satu contoh luar biasa betapa proporsional dan kharismatiknya kepribadian seorang Khalid Bin Walid. Ketiga, Menerima alasan yang dikemukakan oleh syaidina umar sebagai sesuatu yang memberikan kemaslahatan bagi umat. Khalid Bin Walid menyadari bahwa Umar mengemban amanat yang jauh lebih berat dari dirinya. Dan setiap keputusan yang diambil, Khalid menyadari bahwa itu dilakukan Umar dengan pertimbangan yang sangat obyektif. Alasan agar Khalid tidak menjadi sombong adalah relevan, mengingat otentitas karir kepemimpinan Khalid Bin Walid adalah sangat prestisius. Jika hal tersebut terus di pegang terlalu lama, Umar Khawatir bahwa Khalid akan terjerumus pada suatu sikap yang arogan dan memaksakan kehendak serta yang lebih parah lagi menjadi rezim bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain, mengingat prestasi dan pengalaman Khalid pasti memberikan reward kepada Khalid sendiri baik secara politik maupun sosiologis. Alasan ini diterima Khalid dengan jujur melalui pengembaraan religiusitas yang sangat tinggi tentunya. Tidak banyak orang jaman sekarang yang mau mengakui apa yang dirasakan dirinya dan menjadi kekhawatiran orang lain secara konstruktif. Alasan lain yang dikemukakan Umar agar Khalid jangan sampai melebihi kepopuleran Umar juga diapresiasi sangat positif oleh Khalid. Dalam konteks politik ini bisa kita pahami, betapa ambiguitasnya publik atau rakyat ketika menyadari bahwa sebenarnya opini dan harapan rakyat justru tidak bertumpu pada pemimpinnya. Tentu dalam konteks ini efektifitas kepemimpinan menjadi sangat dispute karena pengaruh yang ditimbulkan oleh individu seseorang yang berada di bawah level pemimpinya. Khalid sangat menyadari ini dan menerima keputusan agar posisi Umar tetap ditempatkan lebih “layak” ketimbang beliau. Khalid juga menerima alasan Umar agar rakyat tidak mengkultuskan dirinya. Prestasi yang sangat membanggakan yang dimiliki Khalid sebagai pejuang Islam dikhawatirkan akan menimbulkan pengkultusan individu. Dalam konteks ideologis tentu ini berbahaya, pengkultusan akan berimplikasi kepada apapun yang dilakukan oleh Pemimpin apakah benar maupun salah, rakyat tetap melihat hal tersebut sebagai suatu kebenaran. Secara sosiologis pengkultusan juga akan membahayakan sebuah komunitas. Rakyat akan memiliki loyalitas buta terhadap pemimpinya, sebaliknya pemimpin akan menjadikan rakyat sebagai obyek yang berposisi subordinat terhadap dirinya. Dalam konteks kekinian sekali lagi kita bisa menelaah dan mengambil pelajaran dari dialog singkat antara Syaidina Umar Bin Khttab dengan Khalid Bin Walid tadi-paling tidak untuk bisa kita refleksikan pada diri dan pemimpin kita saat ini. Siapa yang pantas memiliki keberanian sikap dan prinsip kepemimpinan kuat seperti Umar dan siapa yang memiliki keteguhan sikap dan keihklasan sebesar Khalid Bin Walid. Wallahualam bi Sawab


3 Komentar

  1. pedyanto mengatakan:

    Setuju, kepemimpinan Islam adalah kepemimpinan ideologis, bukan kepemimpinan figuristis.

  2. Seorang prajurit tidak pantas mempertanyakan perintah yang diberikan kepadanya oleh panglima, apalagi perintah tersebut diberikan oleh panglima tertinggi angkatan perang. Itulah yang harus ditunjukan seorang prajurit sebagai wujud profesionalisme.

  3. titoadidewanto2013 mengatakan:

    inspiring article. thanks

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: