ANDI TRINANDA

Beranda » ARTIKEL » JIWA BESAR… TAK SEMUDAH MENGATAKANNYA

JIWA BESAR… TAK SEMUDAH MENGATAKANNYA

imagesTerminologi jiwa besar secara sederhana dapat didefinisikan sebagai suatu bentuk penerimaan diri seseorang terhadap sesuatu yang berangkat dari penilaian cara pandang orang lain terhadap sesuatu yang kita persepsikan. Orang yang memiliki jiwa besar adalah orang yang serta merta dirinya menyadari bahwa tidak semua domain pemikiran kita memiliki ruang yang sama dengan orang lain. Oleh karenannya kebesaran jiwa tumbuh ketika kita sebenarnya menyadari kontekstualisasi pemikiran kita tidak sepenuhnya memenuhi ruang pemikiran orang lain. Oleh karenanya dalam ruang pemikiran, diskusi, penilaian dan persepsi, pasti ada penerimaan dan penolakan, persetujuan dan ketidaksetujuan, apapun perspektifnya. Dalam konteks politik, ekonomi, social bahkan ideology sekalipun. Namun demikian jiwa besar memang tidak semudah mengatakannya. Butuh keikhlasan, kesabaran dan kontemplasi yang memadai dari tiap orang. Oleh karenanya, jalan mudah memahami apakah seseorang itu memiliki kebesaran jiwa atau tidak adalah ketika seseorang itu mampu menemukan konstruktivitas hasil introspeksi dirinya secara maksimal pasca melakukan kontemplasi ketika harus memutuskan atau menerima keputusan terkait dengan aspek personalitinya. Kebesaran jiwa tidak bertalian kelindan dengan derajat, profesi dan status sosial seseorang. Ia hadir dalam mentalitas jati diri seseorang yang telah berpengalaman hidup dalam komunitas yang memiliki heterogenitas karakteristik dan sifat manusia. Kita bisa menilai tingkat pendewasaan diri seseorang ketika jiwa besarnya teruji dalam menelaah peristiwa hidup dan kehidupan yang dialaminya. Sejatinya jika kita melihat ada orang yang justru menyadari kekurangannya ketika dirinya kalah bertanding, ketika dirinya tidak lagi menjadi perhatian publik, ketika dirinya tidak lagi populer, ketika pendapat dirinya tidak lagi menjadi referensi yang memadai bagi pola pikir masyarakat dan sebagainya, disitulah esensi atau letak kebesaran jiwa seseorang. Sebaliknya jika kita melihat ketidakmampuan seseorang menerima kondisi yang kontradiktif dengan apa yang dipahami dan dipikirkannya, sementara kita sangat sadar bahwa kita sebagai makhluk zon politicon, maka sejatinya yang tampak adalah bukan kebesaran jiwa, tapi kekerdilan jiwa. Itulah penyakit jiwa yang dialami seseorang. Dengan kata lain, kebesaran jiwa dan tingkat pendewasaan diri seseorang tidak diukur dari jabatan seseorang, baik di kantor, di tengah masyarakat, jabatan politik, birokrasi maupun presiden sekalipun.


1 Komentar

  1. Zhoya mengatakan:

    Yup… tak mudah🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: