ANDI TRINANDA

Beranda » ARTIKEL » KADO TERINDAH DEMOKRASI UNTUK HUT RI KE-64

KADO TERINDAH DEMOKRASI UNTUK HUT RI KE-64

arti_demokrasi1Mahkamah Konstitusi (MK) menolak permohonan perselisihan hasil pemilihan umum (PHPU) nomor perkara 108-109/PHPU.B-VIII/2009 yang diajukan oleh pasangan Capres JK-WIN dan Mega-Prabowo, Rabu (12/8) di ruang sidang Pleno MK. Dengan demikian, pemilihan umum presiden/wakil presiden yang menghasilkan pasangan SBY-Boediono sebagai pemenang, sah menurut hukum. Dalam persidangan, terungkap bahwa data-data yang diajukan oleh para Pemohon banyak yang hanya berupa asumsi semata. “Mahkamah berpendapat bahwa dalil-dalil yang hanya berupa angka-angka tanpa diiringi oleh alat bukti yuridis tidak dapat menjadi landasan Mahkamah untuk mengabulkan permohonan para Pemohon,” kata hakim konstitusi, Maruarar Siahaan.

Terlepas dari dalil-dalil yang diajukan oleh pemohon dan hasil yang telah disampaikan oleh MK. Ada baiknya kita semua bisa mengambil pelajaran tentang prosesi demokrasi yang semakin dewasa yang tengah tumbuh di ranah bangsa ini. Penerimaan publik terhadap silang sengketa hasil pemilu sekali lagi menunjukkan tingkat pendewasaan kita berdemokrasi. Alangkah baiknya momentum dan semangat ini perlu dilestarikan. Namun demikian pepatah mengatakan “besi mesti ditempa selagi panas”. Silang sengketa ini sebaiknya menjadikan kita semua, baik elemen masyarakat, peserta pemilu terlebih-lebih penyelenggara pemilu semakin sadar. Ibarat sebuah pertandingan, maka pasti ada yang menang dan ada yang kalah. Namun sebelum pertandingan, ada baiknya semua element masyarakat (peserta pemilu) terlebih-lebih penyelenggara pemilu, bersama-sama membangun sinergitas dan kolaborasi konstruktif dalam memainkan perannya masing-masing. Hal ini penting untuk memberikan ruang bagi masyarakat untuk tidak bersikap diametral dalam menelaah setiap bentuk dinamika dan masalah yang muncul berkaitan dengan pesta demokrasi yang tengah kita pupuk dan suburkan bersama-sama ini. Sikap Jusuf Kala yang sangat legowo menjadi contoh, betapa sikap kenegarawanan saat ini begitu penting mengeliminir tingkat distorsi dan pemahaman kita tentang proses demokratisasi dalam membangun paradigma politik dan paradigma demokrasi di Indonesia. Meminjam istilah Eep saefulloh fattah, inilah yang kita sebut sebagai politik waktu. Sebuah keniscayaan tentang memahami demokrasi dan demokratisasi dalam perspektif tingkat penerimaan dan persepsi publik terhadap proses yang secara konstruktif di dijalankan. Tinggal masalahnya adalah apakah kita senantiasa menilai substansi paradigma berdemokrasi dan demokratisasi kita sesuai dengan nilai ke-Indonesiaan kita. Substansi paradigma demokrasi dan demokratisasi inilah yang sedang kita pahami, yaitu tingkat pendewasaan diri dalam memahami rule of the game dari apa yang sudah kita sepakati bersama. Ibarat kado istimewa, maka keputusan MK korelasinya dengan tingkat penerimaan publik dan kebesaran jiwa pemimpin negeri ini terhadap keputusan tersebut, sejatinya merupakan kado terindah di hari ulang kemerdekaan RI yang ke-64. Semoga ini menjadi cermin konstruktif bagi dunia Internasional dalam memandang Indonesia.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: