ANDI TRINANDA

Beranda » ARTIKEL » MENUNGGU KEBERANIAN DAN KEBENARAN

MENUNGGU KEBERANIAN DAN KEBENARAN

Jelang detik-detik terakhir laporan panitia khusus hak angket kasus century, nampaknya sudah hampir kelihatan secara benderang tentang adanya praktek kotor dan konspirasi sistemik kejahatan perbankan yang dilakukan melalui kerja sama apik dan sistemik antara pengelola bank dengan pejabat dan birokrat sebagai pengambil kebijakan terkait pemberian bailout Century ini.  Dikatakan apik karena pansus sendiri menyimpulkan bahwa modus kejahatan ini memang sangat rumit. Yang pada akhirnya sulit untuk melihat ujung dari kemana aliran dana talangan tersebut mengalir.

Pansus hanya bisa mencium bau busuk skandal ini, namun bangkai busuk itu masih belum bisa diungkap dan ditemukan. Sebab begitu banyak tumpukan “sampah” yang menutupi. Cuma bau busuk saja yang semakin semerbak karena ditambah oleh sampah yang menutupi bangkai kejahatan mega skandal itu. Sampah-sampah itulah yang sejatinya menghalangi, mengendurkan syahwat investigasi dan keberanian pansus dan mungkin saja hati nurani politisi kita di Senanyan.

Tumpukan sampah itu berbentuk deal-deal politik menyangkut sharing kekuasaan baru, tukar guling kepentingan kasus – terkait ancaman mempidanakan tokoh-tokoh tertentu. Sebab seperti kita ketahui akhir-akhir ini masyarakat juga kerap disuguhi politik ancam-mengancam yang dilakukan oleh penguasa dengan dalih penegakan hukum. Statement sebagai pengemplang pajak, kasus korupsi yang dilakukan oleh pejabat parpol pada saat menjadi menteri dulu, bahkan kasus suap dan perjalanan dinas anggota DPR yang saat ini menjadi anggota Pansus yang sarat korupsi juga siap dibongkar pemerintah.

Bagi masyarakat, kondisi demikian memang menunjukkan betapa carut marutnya mental pejabat kita. Jika pansus menemukan sejumlah fakta yang mencengangkan dengan mengungkap bahwa ada dana Bank Century mengalir ke rekening tim sukses pasangan calon presiden dan calon wakil presiden tertentu, ya buka saja. Tidak hanya itu. Jika pansus kemudian berkesimpulan bahwa memang terdapat kejahatan perbankan dalam bentuk penggarongan massal, pencucian uang,  konspirasi jahat antara birokrat (BI, LPS KSSK, KK) dengan pengelola bank, termasuk adanya dugaan kuat korupsi, ya buka saja secara telanjang.

Sebaliknya jika pemerintah-melalui lembaga penegak hukum juga menganggap bahwa mereka punya data kuat terkait dugaan kasus pidana pemangkiran/ penggelapan/ manipulasi pajak, kasus korupsi anggota DPR dan mantan pejabat parpol tertentu yang dulu berkuasa, ya buka saja. Biar masyarakat menyaksikan betapa centang perenangnya pengelolaan birokrasi di Indonesia.. Biar masyarakat juga menilai sejauhmana negara kemudian mampu mengatasi masalah ini secara profesional.

Pansus memang bukan lembaga superior, pansus juga perlu melibatkan lembaga lain untuk menindaklanjuti laporan investigasinya. Disisi lain, pemerintah juga jangan menutup mata jika memang hasil investigasi pansus tersebut-setelah diuji secara materil melalui mekanisme hukum dan peraturan perundang-undangan, terbukti mendakwa jajarannya, terutama aliran dana Century ke parpol tertentu. Pemerintah harus legowo dan siap menata ulang tatanan kelembagaan baik secara struktural maupun moral termasuk siap menerima konsekwensi politik, hukum, dan sosial.

Terkait dengan dugaan kuat juga yang dikemukakan pemerintah melalui lembaga aparatur penegak hukum tentang kasus-kasus yang menimpa anggota DPR, mantan pejabat dari parpol tertentu dan sebagainya, walaupun secara politik hal tersebut bertalian kelindan dengan pemanfaatan momentum posisi tawar penguasa terhadap parpol yang diwakili anggotanya di pansus, mereka juga harus siap menghargai proses penegakan supremasi hukum. Bukankah kedua-duanya merupakan konsekwensi para pengelola negara ini yang bekerja secara koruptif dan kemudian menuai hasilnya, terlepas momentum itu sendiri juga hadir seolah-olah sebagai buah ancaman ketika kinerja pada saat ini dikatakan baik.

Biarlah masyarakat yang menilai bahwa sejarah dan perkembangan kejahatan korupsi, manipulasi, kebohongan publik dan sebagainya yang masih subur di tanah air kita ini, memang layak untuk ditulis dalam tinta nasib sebagai bangsa kaya yang kelam, dan dijadikan bahan pelajaran bagi anak cucu kita kelak. Agar generasi kita kedepan berani memutus hubungan darah dengan generasi korup. Intinya saat ini masyarakat tinggal menunggu saja kapan keberanian dan kebenaran itu terkuak…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: