ANDI TRINANDA

Beranda » ARTIKEL » Dibalik Pengakuan Susno Duadji Tentang Makelar Kasus di Kepolisian

Dibalik Pengakuan Susno Duadji Tentang Makelar Kasus di Kepolisian

Susno Duadji kembali menjadi Icon headline pemberitaan Nasional. Setelah “sukses” menghebohkan dengan kasus perseteruannya dengan KPK terkait dengan statementnya yakni Cicak dan Buaya. Kemudian masih hangat di ingatan kita tentang bagaimana kesaksian dan sumpah yang bersangkutan atas nama Tuhan pada rapat dengar pendapat dengan Komisi III sambil berurai air mata, bahwa ia tidak menerima satu senpun uang hasil kejahatan suap dari anggoro atas kasus korupsi dana pengadaan alat komunikasi Dephut yang dituduhkan publik kepada dirinya.  

Berikutnya Susno melontarkan kontroversi pernyataannya pasca dilengserkannya ia dari jabatan Kabareskrim, kesaksian “kontroversialnya” di muka pengadilan atas kasus pembunuhan Nasrudin dengan terdakwa Mantan Ketua KPK Antasari Ashar, lantas kesaksian krusialnya di rapat Pansus Century bahwa benar terjadi dugaan kejahatan perbankan dalam penanganan Bailout Century.

Terakhir Mantan Kabareskrim ini menghebohkan publik dengan konferensi persnya tentang dugaan adanya makelar kasus di tubuh Kepolisan terkait dengan skandal kasus penggelapan pajak senilai Rp25 miliar.

Kasus yang melibatkan pegawai Ditjen Pajak, Gayus Tambunan, yang kini berstatus terdakwa dan sedang disidangkan di PN Tangerang. Berdasarkan kesaksisan Susno, dari total dana Rp25 miliar di rekening Gayus, hanya Rp395 juta yang memenuhi unsur pidana. Sisanya yang semula diblokir polisi di kemudian hari dilepas blokirnya juga oleh polisi. Dana itulah yang kabarnya mengalir ke kantong sejumlah petinggi kepolisian dan para penyidik kasus tersebut. Tidak tanggung-tanggung, menurut dugaan Susno, dua perwira tinggi bintang satu turut menikmati uang itu. Mereka adalah Brigjen Edmon Ilyas, yang sekarang menjabat Kapolda Lampung, dan Brigjen Raja Erizman, yang kini menduduki posisi Direktur II Ekonomi dan Khusus Bareskrim Polri.

Terlepas kontroversi dan motif apa yang telah dilakukan Seorang Susno Duadji, maka manuver Susno sebenarnya menarik untuk dicermati sebagai suatu kisah dramatik bagaimana sebuah opini publik seolah-olah mampu dimainkan oleh Susno sedemikian rupa. Seorang Susno Duadji bukan hanya mampu membalikkan image masyarakat tentang dirinya secara drastis, dari seorang pecundang menjadi seorang “pahlawan”.

Susno juga mampu meredam dan menenggelamkan hingar bingar keberhasilan polri dalam menumpas teroris dengan manuver pemberitaannya tentang dugaan kebobrokan institusi tempat beliau mengabdi selama ini. Dalam konteks yang terakhir ini Susno seolah-olah tidak membiarkan kepolisan “menikmati” penghargaan masyarakat atas kinerja investigasinya terkait kasus terorisme. Ia justru mengungkap teror mafia hukum di institusinya sendiri.

Publik berharap bahwa seorang Komisaris Jenderal pastilah memiliki perhitungan matang dan pretensi obyektif dengan pertimbangan benefit & risk yang sangat kuat terhadap pilihan dan tindakannya itu.

Publik berharap bahwa persoalan ini bukan semata-mata atas dasar romantisme psikologi personal dan masalah personal priviladge seorang Susno yang ingin eksistensi dan legitimasinya diakui dan diterima kembali setelah luluh lantak akibat dilengeserkannya beliau dari kursi Kabareskrim, karena sakit hati atas jerih payah dan pengabdiannya membesarkan corps yang selama ini dicintainya, tidak mendapat apresiasi positif lembaganya akibat adanya tekanan politik waktu itu.

Publik berharap kesaksian Susno merupakan momentum obyektifitas pemikiran Susno yang benar-benar mencintai Kepolisian dan untuk menyelamatkan wajah Kepolisian Indonesia. Walaupun sikapnya itu membuat kontraksi besar di tubuh organisasinya serta membuat gamang lebih 360 ribu anggota kepolisian  tanah air dalam melihat quo vadis kepolisian kedepan karena begitu telanjangnya distorsi konflik terbuka diantara pimpinan mereka yang sangat tidak lazim bagi paradigma dan  kultur organisasi mereka.

Publik berharap tindakan Susno didasari atas kecukupan data dan fakta untuk menjadi layak bagi masyarakat memahami kasus ini secara proporsional. Khususnya para penegak hukum untuk bisa melihat wajah institusi penegak hukumnya, dalam hal ini kepolisian terkait dengan apa yang ia sebut sebagai “penyelamatan” bagi orang-orang yang “berkhianat”.

Berkhianat dalam konteks bahwa ia merasa komitment Presiden juga komitment Kapolri untuk menjadikan institusi Polri ini profesional dan memiliki integritas, dicoreng moreng oleh sekelompok markus yang justru berada di pusat kekuasaan Kepolisian. Dalam konteks ini Susno hanya menegaskan opininya siapa sebenarnya yang berkhianat dibalik centang perenangnya birokrasi dan perilaku di jajaran kepolisan.

Oleh karena itu, terlepas materi kasus yang disampaikan Susno, tentunya respons obyektif para penegak hukum seperti Satgas Mafia hukum bentukan Presiden, KPK dan Kejaksaan harus melihat persoalan ini dalam perspektif itu. Perspektif yang menempatkan Susno sebagai pembuka kotak pandora. Informasi yang disampaikannya berhak mendapat respons memadai dari institusi lain jika negeri ini tidak lagi dicap sebagai negeri yang terkenal korup. Dalam konteks itu, persoalan ini semestinya tidak boleh difokuskan kepada sosok Susno dan mencari ‘motifnya’, seperti mengapa baru sekarang dia mengungkapkan makelar kasus di kepolisian.

‘Nyanyian’ Susno itu justru hendaknya menjadi pemicu semua lembaga penegak hukum, termasuk kepolisian, untuk introspeksi dan berbenah diri. Sikap defensif dan perang opini pimpinan Polri di media melalui konferensi pers dan placement media, sejatinya tidak memecahkan persoalan ini pada akar masalahnya. Ia justru hanya menempatkan institusi ini pada titik nadir kepercayaan masyarakat.

Oleh karenanya momentum ini juga sebaiknya dimanfaatkan Kepolisian untuk membuktikan tudingan Susno secara terbuka. Respons positif dan keterbukaan Polri dalam pemberantasan mafia hukum sangat bergantung kepada keberanian Polri untuk mereformasi diri sendiri, termasuk menindak dan membersihkan jajaran mereka. Dan jika itu dilakukan, maka opportunity eksistensi, martabat dan jatidiri pejabat kepolisian di mata masyarakat bisa terselamatkan dan positif tersematkan di dada kepolisan Republik Indonesia. Pada akhirnya kecintaan Susno kepada Polri juga merupakan kecintaan kita semua kepada institusi ini. *) ADT


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: