ANDI TRINANDA

Beranda » ARTIKEL » George Soros, Budiono, Gita Wirjawan dan Peta Agenda Ekonomi Kedepan

George Soros, Budiono, Gita Wirjawan dan Peta Agenda Ekonomi Kedepan

Belum lama ini pemilik Open Society Institute, George Soros  datang kembali ke Indonesia dalam rangka menemui Boediono dan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Gita Wirjawan.

kedatangan kampiun bisnis ini cukup menarik perhatian berbagai kalangan terutama pemerhati masalah ekonomi dan kebijakan public mengingat  George Soros merupakan salah seorang tokoh fenomenal terkait dengan berbagai spekulasi yang dilakukannnya terhadap perekonomian Indonesia.

Jika dianalisis, kedatangan George Soros  ini ada korelasinya dengan rencana kedatangan Presiden Amerika Serikat Barack Obama dalam waktu dekat ke Indonesia. Kebijakan politik luar negeri Amerika telah menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan posisi strategis kepentingan mereka. Dalam konteks itulah tentu salah satu agenda pembahasan pertemuan presiden Amerika Serikat dengan pemerintah Indonesia tersebut sangat terkait dengan sejumlah agenda bilateral kedua negara di berbagai bidang. Salah satu bidang yang akan menjadi mainstream baru itu adalah peta hubungan ekonomi Indonesia-Amerika dalam rangka menghadapi liberalisasi perdagangan dan investasi kedua negara termasuk agenda-agenda politik, hukum dan masalah-masalah lainnya, walaupun media kerap memahami perjalanan Barack Obama sebagai perjalanan romantisme memorial masa kecil Obama.

Pertemuan George Soros dengan Kepala BKPM, Gita Wiryawan yang sudah kesekian kalinya itu telah mengawali penegasan isu tersebut. Sebab seperti diketahui keberadan Gita Wiryawan dalam Kabinet SBY merupakan salah satu upaya bagaimana peran Indonesia di kancah aktivitas perekonomian dunia mampu memberikan posisi tawar memadai, sehingga secara konstruktif dan kompetitif Indonesia diharapkan mampu memberikan kontribusi bagi peran dan pengaruh eksistensi ekonomi asing di Indonesia.

Apapun kepentingan tersebut, sangatlah menarik untuk dicermati mengingat posisi tawar Indonesia dalam percaturan kegiatan ekonomi global berada dalam spectrum persaingan besar pengaruh kepentingan Ekonomi Amerika dan pengaruh Ekonomi China yang saat ini begitu sangat dominan mendeterminasi kebijakan ekonomi Indonesia. Apalagi saat ini Indonesia – China tengah menjalin kerjasama perdagangan bebas kedua negara yang diwadahi dalam bentuk kerjasama multilateral CAFTA.

Tarik menarik dan pertarungan kepentingan ekonomi inilah yang mengindikasikan kemungkinan bahwa Indonesia sebenarnya bukan berada pada subyek dalam posisi tawar persaingan kedua negara tersebut (baca : Amerika dengan China), namun bisa saja justru Indonesia berada dalam posisi sebagai obyek yang menjadi bagian dari kepentingan kedua negara. Dalam konteks itulah barangkali pertemuan George Soros dengan Budiono dan Gita Wirjawan diarahkan sejatinya dalam upaya mempengaruhi peran Amerika dalam menghadapi posisi strategis China dalam peta ekonomi global.

Dalam perspektif itu, tentu saja pengaruh George Soros akan linier dengan upaya pemerintah Amerika memberikan sejumlah kesempatan dan kerjasama yang dianggap menguntungkan Indonesia sebagai kompensasi langsung maupun tidak langsung dalam memberikan ruang bagi pengaruh kepentingan Asing terutama Amerika tetap masuk dalam skala prioritas kebijakan ekonomi-terutama investasi kelompok negara-negara sekutu Amerika di Indonesia.

Melalui lobi kepada Budiono dan Gita Wirjawan, pemerintah Indonesia diharapkan mengikuti pola dan strategi pertumbuhan liberalisasi perdagangan dan investasi menurut kaca mata mereka. Pertanyaannya, mampukah pemerintah Indonesia memberikan demarkasi kedaulatan ekonomi, dalam bentuk regulasi dan deregulasi kebijakan perdagangan dan investasi dibalik pengaruh dan tekanan pemerintah Amerika Serikat di sektor-sektor lain diluar sektor ekonomi yang secara impulsif kerap disandingkan dengan paradigma pertumbuhan demokrasi dan demokratisasi yang di justifikasi sebagai kontribusi peran dan pengaruh ideologisasi kepentingan Pemerintah Amerika.

Dalam konteks ketergantungan Indonesia terkait dengan sektor-sektor diluar kepentingan ekonomi itulah yang sejatinya telah membuat bangsa Indonesia tidak memiliki independensi dan kedaulatan ekonomi dan kedaulatan politik di mata mereka.

Sebagai wakil presiden yang sangat mengerti masalah ekonomi, tentu diharapkan kehadiran Goerge Soros mampu mereduksi peta sekaligus geopolitik ekonomi baru hubungan multilateral kita dengan bangsa lain. Indonesia sebenarnya mampu memberikan posisi tawar yg strategis bagi kepentingan mereka (baik Amerika maupun China) jika apartur birokrat kita memiliki ketegasan sekaligus keberanian dalam melihat dan memaknai potensi sumber daya ekonomi yang dimiliki bangsa ini. Kekhawatiran kedatangan George Soros sebagai representasi kepentingan pengaruh pemerintah Amerika untuk membuka peta baru hubungan ekonomi Indonesia – Amerika, sejatinya juga diartikan sebagai bentuk sikap nasionalisme yang lebih baik untuk menempatkan bangsa Indonesia sebagai bangsa yang bermartabat. Hegemoni asing di Indonesia dalam kerangka ini mesti teralienasi oleh semangat meminimalisir kepentingan dan pengaruh mereka. Mungkinkah Budiono dan Gita Wiryawan mau menempatkan Indonesia dalam perspektif itu, sementara keduanya dikenal publik merupakan tokoh-tokoh neoliberalisme yang berpihak pada kepentingan mereka ? Oleh karenanya, bagi komunitas pelaku dan pengamat ekonomi yang memiliki paradigma ekonomi kerakyatan yang nasionalis, perlu dengan tegas melakukan positioning sekaligus memberikan warning krusial untuk menekan pemerintah agar Indonesia tidak terjebak ke dalam dua kutup pengaruh kedua negara tersebut (Amerika dan China) yang hanya mensubordinasi sekaligus menempatkan bangsa ini semakin tak berdaya terhadap kekuasaan mereka. ADT


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: