ANDI TRINANDA

Beranda » ARTIKEL » Hot Money dan Kewaspadaan SBY

Hot Money dan Kewaspadaan SBY

Headline dibeberapa media surat kabar 25/3, salah satunya mengulas tentang pernyataan SBY mengenai perlunya para menteri, khususnya di jajaran ekonomi untuk mewaspadai kecenderungan laju masuknya investasi asing ke bursa saham Indonesia saat ini.

Dana asing keluar masuk Indonesia terasa begitu sangat deras. Kecenderungan pola para pelaku ekonomi dan praktisi pasar uang terkait laju eksekusi investasinya di Indonesia menyebabkan pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dollar ini terasa sangat cepat dan fluktuatif. Kondisi tersebut kemudian memicu kecurigaan SBY, tentang adanya motif-motif tertentu yang dimainkan oleh para pelaku pasar di pusat transaksi spot antar bank dan di bursa indeks harga saham gabungan. SBY mencurigai kondisi ini sebagai ”hot money” yang perlu diwaspadai.

Kewaspadaan SBY terkait dengan nilai tukar rupiah terhadap dollar ini sangat beralasan. Saat ini memang faktanya investor giat menanamkan investasinya di Indonesia di pasar uang, sehingga rupiah cenderung menguat. Untuk tanggal 25/03 ini saja rupiah ditutup menguat sebesar Rp. 9100/ dollar Amerika. Namun SBY tidak sepenuhnya mempercayai faktor tertariknya investor tersebut berkorelasi dengan iklim ekonomi Indonesia yang kian kondusif. Sebab di bulan sebelumnya justru Investor ramai-ramai keluar dari zona ekonomi investasi Indonesia. Padahal sejak awal tahun ini fundamental ekonomi di paruh kedua pemerintahan SBY kerap dipengaruhi dengan issue-issue politik yang langsung maupun tidak langsung berimplikasi kepada tingkat kepercayaan pelaku pasar. Khususnya investor luar terhadap konstruksi performance perekonomian nasional. Intinya dengan kondisi dan konstelasi iklim dan dinamika serta resistensi politik yang sama, tapi  sikap investor cenderung paradoks dengan kondisi makro tersebut.

Dengan tingkat spekulasi yang begitu tinggi tersebut, kecederungan ”hot money” yang di waspadai pemerintah sebenarnya relevan untuk dianalisis lebih jauh. Hal tersebut dapat dilihat pada arah pergerakan nilai tukar rupiah diawal tahun ini. Seperti diketahui tren hengkangnya dana asing mulai terlihat sejak akhir bulan lalu padahal bursa saham Indonesia sempat merasakan derasnya aliran masuk dana asing pada pekan pertama Januari 2010, saat asing mencatatkan pembelian bersih (net buy) senilai Rp 2,3 triliun. Jika menghitung sejak awal tahun ini sampai kemarin, investor asing sudah membukukan net sell senilai Rp 569,57 miliar.

Kondisi tersebut menjadi indikasi investor asing mulai ragu menanamkan modal di Indonesia. Apalagi, belakangan ini kondisi pasar saham finansial di Amerika Serikat (AS) perlahan-lahan tampak cerah. Sehingga, para investor tertarik membenamkan asetnya di sana. Dengan kondisi semakin membaiknya perekonomian Amerika, nilai tukar dollar AS terhadap mata uang utama dunia cenderung menguat. Ini memicu investor ramai-ramai menjual aset non-dollar AS dan beralih ke mata uang itu.

Pesona dollar semakin terlihat ketika aura negatif juga membayangi pasar Eropa. Negara seperti Yunani, tengah diguncang problem defisit anggaran sehingga menyeret nilai tukar euro. Keterpurukan IHSG semakin lengkap tatkala nilai tukar rupiah terus melemah. Merujuk kurs tengah Bank Indonesia, akhir bulan Februari rupiah turun 0,21 persen menuju Rp 9.413 per dollar AS.

Walaupun sejatinya keluar masuknya dana asing adalah hal yang lumrah terjadi di bursa pasar saham. Sebagai investasi jangka pendek, pihak investor asing akan melakukan profit taking, Apalagi, tidak ada larangan asing untuk keluar-masuk pasar saham Indonesia dan hal tersebut biasanya tidak akan berlangsung lama.

Dan terbukti hal tersebut terjadi di minggu ketiga bulan Maret 2010 ini. Ketidak percayaan SBY terhadap fundamental ekonomi pemerintahannya sebenarnya tidak berarti SBY pesimis. Jika mengacu kepada fenomena dan pengalaman yang selama ini terjadi, wajar saja pemerintah memilliki kekhawatiran yang demikian itu. Karena faktanya memang sebagian besar konstruksi perekonomian Indonesia secara makro masih dikuasai oleh keterlibatan asing sebagai pelaku utama ekonomi nasional.

Mereka itu adalah investor kelas kakap dari berbagai negara, para spekulan, bahkan bisa siapa saja termasuk bandar judi, koruptor dan mafia yang sedang melakukan kegiatan money laundringnya di Indonesia. Semua pemilik uang panas ini tidak secara langsung menginvestasikan uangnya tapi menggunakan jasa lembaga keuangan atau fund manager. Mereka memanfaatkan kebijakan stimulus fiskal yang dibuat pemerintah untuk tujuan menggenjot cadangan anggaran bagi APBN. Jika uang panas itu bisa dipindahkan ke negara lain dalam sekejap mata. Maka konsekwensinya investasi mereka juga akan berpindah ke negara lain. Konsewensinya pula maka cadangan devisa akan menurun. Kalau cadangan devisa turun, maka BI akan kesulitan melakukan intervensi agar kurs rupiah tidak mengalami depresiasi. Dan dalam kondisi tersebut, tentu saja akan membahayakan kapabilitas keuangan negara.

Menyikapi pernyataan SBY agar semua menteri waspada terhadap masuknya ”hot money ini”, sejatinya harus segera direspons oleh para menteri untuk mengambil langkah-langkah konstruktif terkait implikasi aliran masuknya ”hot money” ini. Sebab walaupun menurut Boediono hot money merupakan ‘pelumas’ kegiatan ekonomi, namun beberapa pengamat ekonomi menyatakan, aliran dana “hot money” justru membahayakan bagi perekonomian Indonesia. Misalnya membuat nilai tukar rupiah ”sakit jantung” dan terus bergejolak. karena kita tidak tahu mereka kapan keluar. Kalau mereka keluar dari Indonesia secara bergerombol maka akan langsung membuat nilai tukar rupiah kita ambrol. Disamping itu “Hot money” jelas membahayakan ekonomi kita, sebab investor ke sini bukan untuk mendorong perekonomian, mereka ke sini hanya untuk menikmati keuntungan, keluar masuk seenaknya, sementara nilai tukar kita dibuat jebol.

Oleh karenanya sebaiknya pemerintah tidak perlu mempertahankan kebijakan yang sangat terbuka terhadap ”hot money” ini. Sebab uang tidak mengenal nasionalisme. ‘hot money’ harus dibatasi, misalnya investor yang masuk kesini, minimal harus setahun disini, baru bisa dipindahkan. Dan lebih baik mendorong investasi asing secara langsung ke sektor riil.

Dengan demikian diharapkan kebijakan tersebut akan menggerakkan pertumbuhan ekonomi secara nyata. Misalanya lapangan kerja dapat dibuat, dan masyarakat dapat penghasilan. Kalau cuma masuk ke pasar saham, kontribusinya tidak terlalu signifikan. Mereka hanya menikmati keuntungan, sementara tidak memberi manfaat nyata bagi masyarakat. Dalam konteks itulah seyogiaya para menteri SBY memahami kondisi tersebut dalam perspektif komitment SBY dalam membangun dan mengembangkan kebijakan ekonomi pro rakyat yang menjadi jargon pemerintahannya. *) ADT


1 Komentar

  1. firdausfarisqi mengatakan:

    Rakyat butuh lapangan kerja dan makan, rakyat gak butuh kertas yang bernama saham.. hanya bikin pusing kepala

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: