ANDI TRINANDA

Beranda » ARTIKEL » Gedung.. Atau Otak Yang Miring ?

Gedung.. Atau Otak Yang Miring ?

Menarik, ketika kru TV hendak mewancarai salah seorang warga masyarakat yang hendak dimintai komentarnya terkait rencana DPR mengajukan anggaran kepada pemerintah untuk membangun gedung baru seharga  kurang lebih 1, 8 trilyun rupiah. Alasan yang dikemukakan DPR adalah gedung tersebut setiap tahun mengalami kemiriingan sampai 7 hingga 8 derajat, dan pasca gempa september 2009 lalu, kerusakannya bertambah parah dan mengancam keselamatan anggota dewan yang terhormat.

Alasan yang masuk akal dan tentunya sangat urgen. Apalagi DPR merupakan lembaga tinggi negara yang merupakan tiang konstitusi negara, disamping lembaga eksekutif dan lembaga yudikatif. Mereka perlu bekerja nyaman tanpa ketakutan akan keselamatan jiwanya. Masyarakat tentu akan marfum.

Namun jawaban yang dikemukakan warga masyarakat tidak kalah menarik.  “masak sih …. terlalu lebay ah (baca : berlebihan), setahu saya yang miring bukan gedungnya, tapi otak penghuninya itu tuch yang miring”. “Kalo itu saya percaya.”. tapi buru-buru warga masyarakat itu cepat menarik ucapannya dan meminta kru TV tersebut tidak menampilkan statemenya, karena takut jadi masalah terkait ucapannya itu.

Ironis memang, untuk mencari sebuah pembenaran yang rasional DPR memang jagonya, semua yang keliatan biasa-biasa saja, bisa menjadi sangat luar biasa, seolah-olah dengan justifikasi urgensif seperti itu, serta merta besok anggaran pasti akan turun karena prioritas “atas nama keselamatan anggota dewan yang terhormat”.

Untungnya media berperan kritis, melalui konfirmasi cepat ke dinas pekerjaan umum, informasi menyesatkan tersebut segera di tepis. Terlalui dini menyimpulkan sebuah kondisi bangunan dengan semudah itu, Secara struktural jika dilihat dari komposisi dan karakteristik bangunan, apalagi setelah terjadinya gempa, maka dibutuhkan suatu pengkajian mendalam untuk menentukan tingkat kelaikan sebuah gedung. Rekomendasi yang diberikan hanyalah sebuah perbaikan ringan karena terjadi kerusakan permukaan bangunan, dan itu sangat wajar. Tidak ada isi rekomendasi yang terkait dengan ketakutan anggota dewan tersebut.

Pertanyaannya adalah mengapa “syahwat” anggota DPR tinggi sekali, jika menyangkut anggaran? tidak ada sedikitpun pakeweuh dan kesadaran politiknya, padahal bangsa ini secara aktual sedang mengurusi masalah korupsi yang kronis menjangkiti kehidupan berbangsa kita? masyarakat sebenarnya tidak mau berprasangka, namun kecurigaan itu yang sejak dini dibuka oleh anggota dewan sendiri.

Padahal di Indonesia korupsi merupakan penyakit terparah bangsa ini dan telah menjadi wabah di semua institusi negara. Celakanya, parlemen, institusi yang berisi para wakil rakyat yang mengemban aspirasi, di antaranya kebencian publik terhadap korupsi, justru menjadi sarang korupsi.  Dan publik perlu mengingat, bahwa rekor dan skandal anggota dewan yang terhormat ini belum terpecahkan hingga sekarang. Buktinya sudah banyak anggota DPR yang masuk bui karena suap dan manipulasi. Banyak pula anggota dewan aktif yang kini menjadi saksi dan berkelit di persidangan suap tanpa merasa bersalah.

Tidak cuma itu. Survei lembaga Transparency International Indonesia dalam beberapa tahun terakhir masih menempatkan DPR sebagai salah satu lembaga terkorup di negeri ini, bersama kepolisian, kejaksaan, kehakiman, dan partai politik.

Korupsi sudah merusak cara berpikir anggota dewan sedemikian rupa sehingga tega memiringkan yang tegak, menyalahkan yang benar, dan membengkokkan yang lurus. Rencana membangun gedung baru DPR senilai Rp1,8 triliun adalah sebuah contoh tentang kemiringan berpikir itu.

Kalau otak sudah dirasuki syahwat korupsi, nalar pun dikorbankan. Soal kemiringan gedung, misalnya, harus ada orang atau lembaga kompeten yang menentukan. Tidak bisa diputuskan berdasarkan ketakutan para anggota saja terhadap guncangan gempa.

Jangan hanya karena nafsu membelanjakan uang Rp1,8 triliun dan nikmat yang tersembunyi dan terjanjikan di balik belanja itu, kemiringan gedung disepakati dengan cara yang sangat konyol. Apa pun argumennya, soal kemiringan gedung ada pada wilayah kompetensi otoritas sipil, bukan DPR. Tetapi bila penghuni gedung didominasi pikiran miring, bangunan yang tegak pun bisa dibilang miring. Dan, ternyata DPR mengabaikan sama sekali kompetensi dan otoritas sipil ketika telah mengetuk palu bagi pembangunan gedung baru senilai Rp1,8 triliun.

Nurani dan keterkaitan batin di sekitar kemiskinan dan kejujuran ternyata telah terputus antara anggota DPR dan rakyat yang diwakilinya. DPR telah menemukan habitatnya, yaitu sebuah gedung tegak yang memupuk semua pikiran dan selera miring.

Statement warga masyarakat tentang yang harus diperbaiki adalah kemiringan otak anggota DPR itu (bukan halusinasi kemiringan gedung tempat mereka bekerja) tentu ada benarnya. Sayangnya pernyataan tersebut tidak berani diungkap kru TV swasta itu kepada publik. Padahal justru pernyataan itulah yang merepresentasikan pikiran masyarakat yang terwakili melihat perilaku wakil rakyatnya yang terhormat itu.

Salah satu bukti aktualnya adalah ketika rapat dengar pendapat tentang menyoal kinerja KPK. Begitu antusiasnya anggota DPR mengajukan “placement pertanyaan” (pertanyaan titipan dari pejabat/ pengusaha korup) yang justru kentara memihak pengusaha dan pejabat korup, ketimbang mengkritisi dan mensupport memberikan solusi terkait kinerja KPK. KPK di “habisi” dengan argumentasi “kekuatan berlogika” dan silat lidah yang walaupun rasional tapi terkesan menegasikan substansi hukum formal kita yang dianggapnya tidak mampu memberikan ruang produktif bagi KPK. KPK seolah menjadi lembaga yang berisi orang-orang yang baru melek hukum, sementara anggota DPR adalah orang-orang sangat pintar yang paling menguasai hukum. Sampai-sampai disela-sela perdebatan muncul istilah, yang salah aturan hukumnya atau orang-orang hukumnya yang goblok membuat produk hukum kita.

Masyarakat kemudian menjadi terang kecurigaannya. Sebenarnya yang sedang melakukan pelemahan kepada KPK berasal dari mana ? kembali kedalam opini subyektif ini, sekali lagi ini bicara soal “kemiringan”.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: