ANDI TRINANDA

Beranda » ARTIKEL » Anas (bukan) Duplikasi SBY

Anas (bukan) Duplikasi SBY

Perhelatan Kongres II Partai Demokrat yang digelar di Bandung, mencatatkan Anas Urbaningrum sebagai Ketua Umum partai yang baru. Menggantikan Hadi Utomo, Anas akan memimpin Demokrat hingga 2015 mendatang. Kemenangan Anas yang diperoleh melalui persaingan ketat ini sebenarnya di luar prediksi banyak kalangan. Pesaingnya, Andi Mallarangeng, hingga detik-detik akhir sebelum penyelenggaraan Kongres justru disebut-sebut sebagai figur yang berpeluang lebih besar menduduki kursi PD 1.

Agresivitas kampanye politik timses Andi, sempat mengeliminasi pamor dan ketokohan kandidat Ketum lainnya. Apalagi Andi Mallarangeng dianggap memiliki resource yang lebih mumpuni, terutama dilihat dari dukungan finansial maupun kedekatan hubungan dengan SBY sebagai Dewan Pembina partai. Namun fakta di arena pertandingan memunculkan kenyataan yang sebaliknya, Andi Mallarangeng justru kalah jauh dari dua kandidat lainnya, Anas Urbaningrum dan Marzuki Alie. Bahkan dirinya tidak lolos dalam penghitungan suara yang kedua. Anas Urbaningrum-lah yang lebih dipilih oleh konstituen Demokrat untuk memimpin partai lima tahun ke depan.

Ketekunan dan pengalaman Anas melakukan penggalangan di internal partai, menjadi faktor utama dirinya terpilih sebagai Ketum baru Demokrat. Didukung dengan kesantunan etika berpolitiknya, Anas dinilai sebagai figur paling ideal yang mampu merepresentasikan kultur partai Demokrat. Inilah kombinasi kemampuan individual yang melambungkan nama Anas Urbaningrum dalam bursa pemilihan Ketum Demokrat yang baru saja berlalu. Secara umum, strategi berpolitik seorang Anas sangat jauh berbeda dengan apa yang pernah dilakukan oleh seniornya, Presiden SBY.

SBY sangat identik dengan pola pencitraan politik yang sangat kuat. Sementara Anas memperoleh jabatan politik lebih disebabkan karena ekspansi dan penetrasi politiknya yang sangat luas. Justru strategi pencitraan politik SBY lebih banyak diadopsi oleh Andi Mallarangeng. Terbukti strategi politik Andi lebih didominasi oleh branding image melalui virtualisasi iklan politik dengan intensitas yang cukup tinggi. Hasilnya pun terbukti, pencitraan politik semata, ternyata belum mampu meningkatkan akseptabilitas seorang figur di tengah iklim kepartaian yang lebih cenderung konsolidatif tersebut.

Dilihat dari perspektif inilah, Anas Urbaningrum memiliki perbedaan yang cukup signifikan apabila disandingkan dengan patron politiknya, Presiden SBY. Dengan mengedepankan kerja-kerja nyata yang lebih konkrit untuk merangkul semua kalangan, Anas menunjukkan diferensiasi yang cukup nyata dengan strategi politik pencitraan yang telah menjadi fatsoen politik SBY. Meskipun sempat dianggap sebagai duplikasi SBY, Anas telah berani dan mampu  menunjukkan karakter politiknya sendiri.

Sebagai nakhoda baru Demokrat, kecerdasan politik yang dimiliki Anas diprediksi mampu membumikan partai ke seluruh lapisan masyarakat. Itulah tantangan bagi Demokrat ke depan, dituntut untuk dapat menjawab keraguan masyarakat terhadap eksistensi partai yang dicitrakan sedemikian eksklusif dan elitis. Di tangan Anas, Demokrat tidak hanya partai yang santun dan mementingkan nama baik kelompok di tingkatan elit semata, melainkan juga cerdas dan bekerja lebih nyata bagi kepentingan rakyat.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: