ANDI TRINANDA

Beranda » ARTIKEL » Mewaspadai Pragmatisme dan Positioning Golkar

Mewaspadai Pragmatisme dan Positioning Golkar

Sikap Pragmatisme Partai Golkar dalam konstelasi politik bangsa ini memang dapat diduga. Setelah berhasil “merebut panggung politik” PDIP di kasus Century, Golkar seolah-olah menjadi partai yang sangat kritis terkait kebijakan pemerintah mengenai Bailout Century. Golkar adalah salah satu partai yang menggadang-gadang agar Century diusut tuntas hingga ke level pejabat birokrat yang bertanggung jawab terhadap kasus tersebut.

Namun setelah Sri Mulyani Hengkang, tabiat politik Golkar mulai tampak jelas. Partai inilah yang berdiri paling depan, agar kasus Century sebaiknya di peti es-kan. Ingatan publik Publik masih terngiang jelas, bagaimana Sri Mulyani, selaku Menteri Keuangan waktu itu bersuara keras tentang group usaha Bakrie terkait masalah pajak perusahaan keluarga tersebut. Dalam konteks ini secara simplitis terdapat benang merah antara kepergian Sri Mulyani dengan target politik Partai Golkar. Terang benderangnya hubungan ini terkait dengan terbukannya pengakuan markus pajak Gayus Tambunan, yang mendapat komisi atas manipulasi pajak perusahaan Bakrie.

Syahdan,Golkar memang berisi politisi lihai dan berpengalaman. Sebagai partai yang tidak memiliki pengalaman oposisi, maka sangat jelas bagaimana target politik partai golkar terhadap bargaining positionnya kepada pemerintahan SBY. Pragmatisme partai golkar kemudian terkristalisasi kedalam bentuk paguyuban koalisi dengan nama Sekber. Keberadaan sekber inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh Partai Golkar untuk mengambil momentum merasionalisasi kepentingan dan dialektika politik di parlemen vis a vis terhadap eksekutif/ pemerintahan SBY agar ‘terkendali” sesuai dengan keinginan Golkar. Banyak pengamat memperkirakan bahwa keberadaan sekber sebagai kartel politik inilah yang kemudian mampu menjinakan SBY yang rentan dan tidak percaya diri terhadap dinamika politik yang mempengaruhi reputasi dan eksistensi kekuasaannya.

Melalui Sekber tersebut, partai Golkar mulai ancang-ancang (sekedar untuk tidak menyebutnya sebagai tes case) terhadap kemauan dan positioningnya di tengah kekuasaan SBY. Salah satunya adalah mengeluarkan opini tentang program atau dana aspirasi berbasis konstituen yang perlu diberikan kepada setiap anggota dewan yang besarnya fantastis, yakni 15 milyar untuk setiap anggota dewan.

Dalam konteks ini partai Golkar telah mengukuhkan dirinya benar-benar sebagai partai yang pragmatis. Tidak ada bulir-bulir idealisme. Sebagai partai dengan penyangga utama para pengusaha, Golkar sepertinya hanya memiliki kalkulator untung dan rugi. Pedagang tentu saja berkehendak mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya. Perkara yang masuk akal. Menjadi persoalan bila keuntungan itu diraih melalui akal-akalan.

Meminjam istilah ekonom senior, Kwik Kian Gie, ide ini merupakan ide konyol yang dikemukakan oleh orang yang tidak memiliki IQ terlebih-lebih moral question. Sebab yang dimiliki hanya upaya untung rugi dengan mengakalinya dengan argumentasi yang seolah-olah rasional. Menurut Kwik Kian Gie, sebaiknya para praktisi, ekonom dan politisi lain, tidak menanggapinya, karena jika ditanggapi, Golkar akan punya banyak amunisi untuk membangun opini publik agar ide tersebut seolah-olah untuk kemaslahatan konstituen, kemaslahatan daerah pemilih.

Itulah yang terjadi ketika Partai Golkar melansir usulan mengenai perlunya dana pembinaan daerah pemilihan untuk setiap anggota DPR sebesar Rp15 miliar. Usul yang dikarang-karang, yang dicari-cari basis legitimasinya, karena itu sangat rapuh. Tatkala usulan itu diserang dan dikritik dari berbagai penjuru mata angin, Golkar pun goyah. Wakil Ketua DPR dari Golkar Priyo Budi Santoso mengatakan ide itu sekadar usulan. Jika dilaksanakan, syukur, bila ditolak pun, tak jadi soal.

Amat kita sayangkan pernyataan tersebut. Pernyataan itu bermakna Golkar sekadar berspekulasi dengan usulan yang jika dilaksanakan akan membobol APBN sebesar Rp8,4 triliun. Suatu angka yang tidak kecil. Ternyata Golkar bermain-main dengan uang yang dipungut dari pajak rakyat. Sebuah ide yang belum diuji kesahihannya langsung dikemas menjadi sebuah usulan resmi fraksi dalam rapat paripurna dewan. Ini sangat naif. Dan ketika dikritik dan diserang, Golkar dengan enteng pula mengatakan itu sekadar usulan yang boleh diterima ataupun ditolak. Pernyataan elite Golkar seperti itu untuk kesekian kalinya memperlihatkan tidak ada tanggung jawab partai tersebut. Partai hanya dijadikan sarana untuk memburu kekuasaan dan uang.

Sebuah gagasan dari sebuah partai sebesar Golkar seharusnya diuji terlebih dahulu kelayakannya. Sebuah usulan harus memiliki basis berpikir yang kuat serta pengalaman empiris yang teruji. Tanpa uji kesahihan, usul tersebut hanya sampah.

walaupun sudah banyak argumentasi yang mematahkan usulan itu, tetapi Golkar memaksakan diri tetap mengajukannya. Bahkan dengan ancaman akan membuat deadlock APBN 2011. Ini sungguh-sungguh mencurigakan. Jangan-jangan Golkar mempunyai agenda terselubung di balik usulan itu. Golkar memang sangat piawai menyelubungkan agenda-agenda mereka, dengan alasan yang bernada populis.

Misalnya, argumentasi bahwa dengan pembagian Rp15 miliar per anggota dewan, akan tercipta pemerataan. Argumentasi itu gugur karena sebagian besar anggota DPR justru terdapat di Jawa. Jatah Rp15 miliar malah semakin menimbulkan kesenjangan karena dana tetap terkonsentrasi di Jawa.

Di negeri asalnya, Amerika Serikat, ide jatah-jatahan bagi anggota parlemen semakin tidak populer. Bahkan, Presiden Barack Obama akan menghapusnya. Alasannya dana tersebut digunakan anggota parlemen untuk mengamankan posisi mereka pada pemilu berikutnya. Artinya, dana aspirasi tersebut tak berbeda dengan money politics. Celakanya, yang jelek dari Amerika Serikat itu justru oleh Golkar hendak diterapkan di negeri ini.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: