ANDI TRINANDA

Beranda » ARTIKEL » Menilik Sisi Lain dari Kasus Video Porno (Mirip) Artis

Menilik Sisi Lain dari Kasus Video Porno (Mirip) Artis

Guru bangsa kita, Gus Dur pernah bercerita, ada salah seorang Kyai yang mengharamkan musik. Musik (khususnya lagu-lagu berasal atau yang diproduksi di negara Barat), diibaratkan sama dengan sebuah produk haram yang bisa merusak moral para santri. Jadi santri dilarang mendengarkan, apalagi mendendangkan musik tersebut.

Suatu ketika hasrat para santri sudah tidak mampu terbendung lagi. Hasrat kodrati manusia yang melekatkan otak kanan sebagai afeksi untuk menikmati setiap bentuk keindahan dan rasa yang terserap dari panca indera. Akhirnya , singkat cerita, para santri tersebut nekat memainkan musik sambil mendendangkan lagu-lagu populer pada saat itu. Sontak kegiatan menyanyi tersebut didengar oleh Kyai, walaupun ia mendengar dari dalam ruang kantornya yang pada saat itu sedang rapat dan dihadiri oleh hampir seluruh para guru dan pengajar.

Apa yang terjadi ?, Para guru dan pengajar di pondok pesantren tersebut menyaksikan bagaimana Kyai tersebut memaki-maki musik yang didendangkan para santri tersebut, namun tak terduga, tak dinyana, para guru juga menyaksikan bagaimana Kyai tersebut juga menggerak-gerakkan kakinya sesuai dengan irama lagu yang diperdendangkan santrinya.

Para guru akhirnya marfum, mereka tidak memprotes apa yang menjadi kebijakan Kyai tersebut, mereka hanya lebih meyakini apa yang diperlihatkan dari anggukan kaki sang Kyai.

Cerita tersebut merupakan salah satu gambaran ekslusifitas masyarakat kita yang kental akan ketidakkonsistenan antara sikap dan perbuatan. Banyak hal yang bisa kita petik dari kisah cerita Gus Dur tersebut.

Terkait dengan cerita GusDur itu, apa yang saya kemukakan ini memang tidak sepenuhnya bisa dianalogikan secara komprehensif. Karena saya menyadari bahwa episentrum dalam tulisan ini begitu sensitif menembus egosentrisme hak dan kekayaan moralitas kita sebagai individu dan manusia beragama. Jadi saya hanya mendudukkan sebuah fenomena dari satu sudut pandang yang teramat dangkal dan barangkali juga sering kita abaikan.

Di Bulan Juni 2010 ini Indonesia dihebohkan dengan beredarnya video mesum yang diduga diperankan artis Ariel Peterpan, Luna Maya dan Cut Tari. Sebuah Video yang “tidak pantas” dipertontonkan secara terbuka kepada public ini begitu menyita banyak perhatian. Dari pejabat pemerintah, politisi, tokoh masyarakat dan terutama masyarakat Indonesia secara umum. Bahkan masyarakat Internasional. Sebab Jika di tilik, video tersebut merupakan video pertama dengan kualitas adegan paling “berani” dilakukan oleh artis Indonesia. Terkecuali itu, masyarakat Internasional menilainya karena tidak menyangka Indonesia sebagai masyarakat bernegara muslim terbesar di dunia, terbelit kasus seperti ini. Oleh karenanya kehebohan dan keresahan terhadap beredarnya video tersebut, sampai menembus perhatian dunia.

Sebagai salah seorang yang penasaran dan jujur ikut serta “menikmati tontonan” apa yang diperlihatkan dalam video tersebut,  menurut saya yang sangat menarik dan perlu mendapat atensi besar dari implikasi beredarnya video tersebut adalah bagaimana public kemudian merespons dan bereaksi serta mengembangkan opininya terkait peristiwa asusila tersebut. Secara positif respons dan berbagai reaksi masyarakat terhadap fenomena ini menunjukkan bahwa sejatinya masyarakat kita belum sepenuhnya apatis terkait masalah asusila ini. Ini membuktikan bahwa nilai “keindonesiaan” kita masih belum lekang ditelan badai dekadensi moral seiring gegap gempitanya era keterbukaan dan kemajuan zaman di bidang informasi dan teknologi.

Apapun reaksi masyarakat, sejatinya ia harus diapresiasi sebagai sebuah cermin, sekaligus pelajaran tentang bagaimana kemudian negara mampu menelaah kasus ini secara obyektif. Telaah obyektif ini terkait dengan pertimbangan mendasar negara melakukan pendekatan proporsionalitas kasus ini dalam berbagai perspektif. Ketegasan dan sikap negara terkait masalah asusila inilah yang kemudian menjadi telaah nilai bagi masyarakat tentang perilaku dan etika susila tanpa warna “kemunafikan” yang justru kerap tampil menghiasi wajah opini masyarakat kita akhir-akhir ini.

Kita sama-sama mencerca habis tindakan pelaku asusila tersebut, tanpa kita abai menyaksikan adegan yang mereka lakukan. Ironis, namun inilah fakta yang tak terbantahkan. Mengingat pasti terdapat justifikasi yang melegitimasi hak prerogatif kepenasaran kita tentang apa yang terdapat dalam isi video tersebut, sehingga memberikan kita justifikasi pula terkait opini yang kita buat bagi si pelaku maupun si pengedar video tersebut. Secara sosiologis inilah yang menjadi alasan si pelaku mengapa wilayah privatnya kemudian bisa masuk ke wilayah publik.

Dalam konteks itulah mereka kemudian mendefinisikan posisinya terkait dengan peristiwa tersebut sebagai korban yang teraniaya. Sebab “nilai kemaluannya” telah dihakimi oleh masyarakat luas. Sementara dilain pihak, kita sebagai makhluk zon politicon (makhluk sosial) yang melekatkan sifat dasar manusia sebagai makhluk yang memiliki keingintahuan besar, kita juga melakukan penilaian terhadap “nilai kemaluan” kita sendiri dengan menonton atau menyaksikan video tersebut, termasuk “menikmatinya” dengan berbagai pretensi (wallahualam).

Inilah salah satu yang saya maksud bahwa kita punya warna keindonesiaan yang kental dengan tingkat “kemunafikan”  yang personalisasinya mampu menembus maksud yang tersirat dalam sebuah realitas sosial terkait adanya penyimpangan aktivitas dalam tata nilai bermasyarakat. Sampai kemudian aparat penegak hukum, dalam kasus ini sendiri tidak mampu merincinya sebagai sebuah demarkasi jelas, cuma himbauan kalau kita mengerti hukum, jangan sampai ketahuan saja kita juga menyimpan dan mengedarkan video tersebut (Tito Sumardi, Kabareskrim Polri-dalam teleconference di acara Jakarta Lawyer club- TV One, 15 Juni 2010).

Bukan cuma terkait kasus asusila semata, dibanyak aspek juga terjadi di negeri ini, apakah hal tersebut terkait kasus hukum, politik, ekonomi dan sebagainya.

Saat ini semua pihak gandrung bicara aspek hukum terkait masalah ini. Hukum positif kita bagi sebagian pihak memang belum maksimal mengakomodasi delik kasus seperti ini. Walaupun sudah ada UU pornografi-pornoaksi, UU tentang ITE, dan delik pidana yang terdapat di KUHP. Namun demikian saya berharap, bahwa aparat penegak hukum, tidak hanya melihatnya kedalam satu aspek, yaitu aspek yuridis saja,  ada aspek lain yang perlu menjadi terobosan hakim dalam memutuskan kasus ini, yakni aspek sosiologis dan filosofis.

Disamping itu, saya masih percaya bahwa realitas keinginan masyarakat masih rasional, bahwa siapapun yang terlibat, baik pelaku video mesum, maupun pihak-pihak yang menyebarkan video tersebut harus bertanggung jawab. Khususnya pelaku video mesum, jika pada akhirnya hukum kita tidak mampu menjerat mereka. Itulah sejatinya sangsi moral masyarakat yang diharapkan mampu membuat efek jera bagi pelakunya dan sangsi atau hukuman masyarakat tersebut akan lebih memiliki implikasi yang luar biasa bagi kita semua untuk mengambil proses ikhtiar dan pembelajaran dari sebuah perilaku yang abai pada budaya dan tata nilai kesusilaan di masyarakat.  Contoh yang bisa kita jadikan rujukan dalam konteks ini adalah Sikap walikota Bandung yang tegas mencekal eksistensi berkesenian mereka (Ariel, Luna Maya dan Cut Tari) apabila mereka terbukti merupakan pelaku Video porno tersebut), begitu juga beberapa pemerintah daerah propinsi lainnya yang memiliki sikap serupa.

Persoalannya adalah apakah kita mampu secara jujur menginterelasikan komitment moral kita tanpa menafikan ” keindahan” video tersebut? tanyakan pada diri kita. begitu banyak tayangan di televisi yang mengulas kasus ini. Dari acara infotainment, News, diskusi dalam ragam persepektif dan sebagainya. Namun apa yang kita saksikan dari sejumlah tayangan tersebut. sebagian kita berteriak lantang soal perilaku demoralisasi dalam Video tersebut, namun kita memperbincangkannya dengan kejanggalan ekspresi .

Secara analogis barangkali sikap kita sama dengan orang tua yang sedang memarahi anaknya, tapi tidak bisa menghilangkah sedikitpun kasih sayang orang tua tersebut kepada anaknya. Kita kerap mampu mendefinisikan  secara tegas sikap kita terkait masalah ini, setegas juga (baik terang-terangan maupun diam-diam) sangat menikmati adegan dalam video tersebut.

Seperti yang diceritakan Gus Dur diawal tulisan ini, apakah kita mempercayai apa yang kita ucapkan, ataukah kita meyakini apa yang kita lakukan. Seperti halnya anggukan kaki sang Kyai, jangan-jangan kita semua secara lisan mencerca, tapi hasrat dan keingintauan, serta kenikmatan kita melihat video tersebut, jauh melebhi hasrat kita mengutuk aksi perbuatan asusila tersebut.

Pada akhirnya, sebaiknya polemik mengenai hal ini harus segara diakhiri, Ariel, Luna dan Cut Tari, baik merasa benar maupun salah, harus segera meminta maaf pada masyarakat terkait ulah perilaku asusilanya, sambil proses hukum tetap berjalan dan sangsi moral dimasyarakat juga berlaku secara tegas.

Kedepan pemerintah, aparat penegak hukum dan masyarakat harus mengambil pelajaran serius tentang efek massif dari kasus ini. Tindakan preventif untuk melindungi generasi kita, terlebih-lebih untuk meredam tingkat kemunafikan kita, adalah jalan yang paling tepat agar kedepan paling tidak pelaku tindak asusila berfikir untuk tidak sembarangan melakukan perbuatan tersebut.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: