ANDI TRINANDA

Beranda » ARTIKEL » INDONESIA DARURAT PREMAN !!

INDONESIA DARURAT PREMAN !!

Kebebasan berserikat dan berkumpul di Indonesia memang di jamin oleh UUD 45. lebih jauh di era demokrasi ini, apapun aktivitasnya, kebebasan telah menjadi maenstream bagi paradigma sebagian masyarakat kita. Atas nama demokrasi dan kebebasan banyak orang bebas sesukanya hanya untuk menunjukkan eksistensi dan pengakuan orang lain. Padahal sejatinya demokrasi termasuk kebebasan di dalamnya mengandung sejumlah norma dan etika, agar proses kehidupan bermasyarakat dan berbangsa bertalian kelindan dengan terjadinya harmonisasi dan integrasi. Dalam konteks apapun, baik itu konteks politik, ekonomi social budaya dan seterusnya. Norma dan etika sebagai rule of the game harusnya menjadi tolok ukur terjadinya harmonisasi dan integrasi itu. Kita tidak bisa menjustifikasi atas nama demokrasi dan kebebasan semua menjadi bagian dari tujuan dan cita-cita kelompok atau kepentingan kita dengan menegasi norma dan etika itu – termasuk kepentingan yang jauh lebih besar, yaitu kepentingan bangsa dan negara.

Dalam konteks inilah negara harus pandai mengelola sistem demokrasi dengan tatanan di dalamnya melalui koridor kepemimpinan yang tegas dan berwibawa dengan menjujung tinggi aturan main itu. Jika tidak, Negara akan menghadapi banyak problem tata kelola. Termasuk mengelola arogansi sebagian kelompok masyarakat kita yang bernaung dalam sebuah wadah atau komunitas tertentu yang menegasi peran dan fungsi negara sebagai pengatur dan pengelola sebuah bangsa yang sangat pluralis ini.

Saat ini masyarakat sangat prihatin terkait begitu banyaknya komunitas dan kelompok masyarakat yang mengorganisasikan diri, namun cenderung abai pada aspek-aspek tertentu terutama aspek yang terkait dengan persoalan-persoalan pluralisme. Ia menjadi kelompok yang menghegemoni eksistensinya dan cenderung membangun anasirnya sendiri terhadap persoalan-persoalan kultur kemasyarakatan. Atas nama kelompok dan komunitas tertentu mereka “berkuasa” atas suatu lahan, berkuasa atas pusat-pusat bisnis dan perniagaan, bahkan ada yang berkuasa atas nama etnis dan aliran agama tertentu.

Fakta inilah yang kemudian rentan memicu berbagai friksi horizontal di tengah-tengah masyarakat. Senyatanya eksistensi mereka saat ini kebanyakan justru tidak malah menjadikan masyarakat memiliki rasa aman, walaupun mereka berjustifikasi keberadaannya menghadirkan keadaan sebaliknya di tengah masyarakat.

Banyak kasus terjadi mereka bermetamorfosis menjadi preman yang terorganisir dan sejatinya mereka tumbuh dan berkembang karena mereka menempati ruang kosong sistem dan etika demokrasi kita. Ruang kosong itu salah satunya adalah peran negara melalui aparatur negara yang membiarkan eksistensi mereka tumbuh dan berkembang. Negara tidak tegas meredefinisi eksistensi mereka karena takut dengan simbol-simbol komunitas mereka. Termasuk di dalamnya sebab penting terjadinya pembiaran tersebut adalah negara kerap “membutuhkan” mereka ketika menghadapi tensi dinamika masyarakat yang berkembang.

Contoh kasus pembiaran tersebut antara lain, ketika negara membiarkan sekelompok orang atas nama organisasi tertentu mendestrukturisasi kelompok masyarakat lainnya dengan mengatasnamakan agama, pembiaran sekelompok tertentu atas nama suku dan etnis tertentu menguasai areal lahan dan bisnis keamanan perniagaan (padahal sejatinya domain itu harusnya dapat dikelola oleh pemerintah daerah setempat) dan masih banyak lagi kasus-kasus lainnya. Fakta kekuasaan eksistensi aktivitas kelompok inilah yang kemudian melahirkan keinginan yang sama dari kelompok lainnya. Yakni kekuasaan serupa (baik kekuasaan politik berupa posisi tawar terhadap kekuasaan negara, kekuasaan ekonomi berupa penguasaan sentra-sentra bisnis dan lahan bisnis, kekuasaan sosial terkait pengaruh dan otoritarianisme-primordial termasuk juga kekuasaan ideologis dengan “menguasai” ajaran tertentu).  Atas fakta tersebutlah kemudian implikasinya bisa di tebak yakni terjadinya friksi, persaingan dan konflik horizontal di tengah-tengah mereka yang kemudian bereskalasi melibatkan masyarakat.

Kasus konflik antar genk yang kerap menimbulkan korban jiwa, kasus kerusuhan etnis di daerah dan seterusnya yang kerap menimpa bangsa ini adalah satu bukti bahwa negara dan pemerintah abai pada konsep mengelola tatanan kehidupan bermasyarakat dan berbangsa yang berkoridor etika dan aturan main. Mereka berhasil mendudukkan eksistensi karena mereka mampu memberikan bargaining kepada negara melalui aturan main yang mereka buat sendiri. Jadilah kemudian bangsa ini adalah bangsa ibarat hutan belantara. Siapa yang kuat dialah yang menang karena ketidaktegasan negara memarjinalisasi peran mereka. Sejatinya mereka justru menjadi duri dalam tatanan bermasyarakat dan berbangsa kita.

Negara dan pemerintah harus bersikap tegas dengan membubarkan preman-preman terorganisir ini jika pemerintah tidak mau melihat masyarakat dan warga negara seterusnya menjadi korban atas eksistensi mereka. Negara dan pemerintah sudah cukup memiliki banyak pengalaman atas implikasi yang ditimbulkan oleh mereka. Tanpa mengabaikan prinsip-prinsip demokrasi dan kebebasan, pemerintah harusnya bisa melakukan banyak langkah-langkah kongkrit dan konstruktif terkait bagaimana mengelola tatanan hidup bermasyarakat. Inilah kekhawatiran besar sebagian masyarakat kita, bahwa negara telah gagal mengelola demokrasi dengan pilihan reformasi. Demokrasi dan demokratisasi yang tak terkelola pada akhirnya berubah menjadi radikalisasi. Atas nama demokrasi semua bisa melakukan hegemoni eksistensi sesuai selera dan justifikasinya sendiri-sendiri.

Pada akhirnya saat ini kita cuma bisa berharap urgensi  bagaimana sikap pemerintah terhadap mereka ?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: