ANDI TRINANDA

Beranda » CONTEMPLATION » Cerpen » SUBHANALLAH, Begitu Mulia Wakil Rakyat Kita

SUBHANALLAH, Begitu Mulia Wakil Rakyat Kita

Suparji tampak keliatan lelah, seperangkat alat pembersih masih tergenggam di tangannya. Selepas menunaikan tugasnya pagi itu, di teras gedung wakil rakyat kita nan megah, Suparji celingunkan, melihat kekiri dan kanan. Takut terlihat atasannya. Maklum pagi itu jam masih menunjukkan pukul 10.15, masih terlampau pagi untuk Parji beristirahat. Namun karena hajatan sunatan anaknya semalam, kondisi fisik Parji pagi itu tidak bisa diajak kompromi.

Kemudian tatatapan matanya yang sudah sayu karena capek itu mengarah kepada sebuah pohon besar di pojok belakang gedung. Rimbun dan teduh dengan terpaan semilir angin yang menerpa daun pohon rindang itu.  Perlahan tapi pasti, ia mendekati pohon itu, dan merebahkan badanya yang sudah keliatan renta di atas rumput sebagai alas untuk ia sejenak melepaskan lelahnya.

Sekejab Parji tiba-tiba berada di depan ruang sidang. Ia sangat senang jika ada sidang Komisi maupun sidang-sidang di DPR sekarang kebanyakan bersifat terbuka. Tidak melulu tertutup, sehingga rakyat seperti Parji tau apa yang dilakukan oleh anggota Dewan.

Sidang siang itu tampak begitu dinamis, perdebatan sangat serius, terkadang diselingi senda gurau anggota Dewan. Namun yang paling membuat bangga Parji adalah etika menyampaikan pendapat, perilaku sidang anggota Dewan, semuanya tampak santun. Jauh dari hingar bingar perilaku urakan anggota DPR yang dulu kerap bicara tanpa etika. Suparji juga senang karena ternyata kursi anggota dewan semuanya tampak penuh, tidak ada yang absen. Suparji benar-benar bangga, karena apa yang disampaikan dalam sidang itu, tampak jelas sekali para wakil rakyat bicara tentang masalah rakyatnya.

Setelah mampir sejenak di ruang sidang itu, Parji seperti biasa membersihkan ruangan anggota DPR. Tak sengaja Suparji mendengarkan diskusi beberapa nggota DPR di ruangan itu.

”Tidak..!! kita tidak boleh menerima kiriman ini, jelas ini penyuapan buat kita. Kita di pilih dan dibiyai Rakyat untuk membela kepentingan Rakyat. Bukan kepentingan mereka. Ini namanya penyuapan. Kalo kita menerima ini, sama saja artinya kita mempelacurkan diri sebagai anggota dewan yang dimata rakyat tugas kita sangat terhormat”.

Demikian secuil pembicaraan yang ditangkap Suparji. Subhanallah, rafleks tangan Suparji mengangkat kedua tangannya ke atas, tanda ia bersyukur bahwa para anggota Dewan itu begitu sangat menjaga amanahnya.

Sambil merenungi kebahagiannya itu, Suparjji berjalan menyusuri lorong-lorong di dalam gedung DPR nan megah itu. Tampak suasana yang nyaman dan bersih. Jika dulu asap rokok bertebaran menyesakkan ruangan. Kali ini Suparji merasakan hampir semua ruangan di gedung ini bebas asap rokok. Ternyata himbauan pemerintah agar instansi dan lembaga-lembaga negara menjadi contoh teladan bagi masyarakat terkait kampanye bebas asap rokok, dijalankan sepenuhnya oleh para wakil rakyat. Jika ada yang merokok, Suparji hanya melihat segelintir anggota Dewan saja. Itupun mereka melakukannya di tempat-tempat khusus yang telah disediakan untuk merokok. Sambil memandang sekeliling ruangan gedung, lidah suparjipun bergetar dan mengucap Allahu Akbar. Alhamdulillah para anggota dewan yang terhormat telah menjadi suri tauladan bagi rakyatnya.

Tak terasa suara adzan dzuhur berkumandang. Suparji melihat berbondong-bondong anggota dewan kita keluar dari ruangan kerjanya menuju Mesjid di samping Gedung ini. Karena mereka turun bersamaan dan menjalankan ibadah bersamaan, tampak Mesjid di Gedung ini sesak, layaknya sholat jamaah tarawih di hari pertama. Suparji hampir setiap hari menyaksikan fenomena ini. Tak terasa air mata suparji tumpah menggenagi wajahnya. Setelah sekian lama ia bekerja di gedung DPR ini, ia menyaksikan betapa relijiusnya wakil rakyat kita. Subhanallah. Pantas saja suasana gedung ini sekarang begitu nyaman, benak Suparji.

Gedung DPR hari itu memang tampak tidak berubah, tiap hari ramai, padahal Suparji tahu bahwa saat ini wakil rakyat kita sedang reses alias tidak sedang menjalankan tugasnya. Tapi Suparji menyaksikan betapa anggota DPR kita tetap sibuk membahas undang-undang. Dulu padahal ketika reses, gedung ini tampak kosong melompong, hanya beberapa gelintir saja aktivitas yang dilakukan oleh BURT DPR. Hampir semua anggota dewan sibuk pelesiran ke luar negeri dengan alasan studi banding. Sekarang Suparji begitu bangga, mereka betul-betul menjadi wakil rakyat sejati. Tak sia-sia rakyat memilih mereka. Janji mereka untuk berkomitment memperhatikan rakyat benar-benar dijalankan.

Terbukti ketika mereka sedang reses, kemudian terjadi bencana alam di Sumatra Barat dan Yogya, mereka, tanpa diperintahkan oleh partai dan ketua Komisinya di DPR, dengan penuh kesadaran langsung bekerja. Ada yang kembali ke gedung DPR untuk konsolidasi, ada pula yang langsung mengunjugi korban untuk mengidentifikasi apa yang menjadi kebutuhan mendesak bagi para korban. Para anggota DPR tidak lagi saling tuduh dan menyalahkan pemerintah. Tapi justru membantu pemerintah menangani masalah bersama-sama. Bahkan Suparji melihat kotak amal bencana yang disediakan di gedung DPR ini, begitu hari pertama terjadi bencana, sudah penuh tak tertampung menampung dana sumbangan para wakil rakyat itu. Suparji hanya menyaksikan lembaran uang seratus ribu rupiah menjejali kotak amal itu dan setiap hari dibuka untuk diserahkan, besoknya sekejap terkumpul lagi dan langsung penuh, begitu seterusnya. Suparji hanya berdoa ”Ya Allah berilah rahmat dan Karunia yang luar biasa bagi seluruh anggota DPR ini, mereka memiliki hati yang sangat mulia. Jadikan mereka sebagai hamba-hambamu yang memiliki derajat istimewa di hadapanmu”, begitu doa Suparji kepadanya.

Selepas sholat dzuhur, Suparji beristirahat sambil makan siang yang sudah dibawanya sejak dari rumah oleh istrinya. Ia berkumpul bersama teman-teman seprofesinya. Tampak riang dan tetap semangat menghiasi wajah teman-temannya itu. Walaupun gaji mereka Suparji sangat tahu tak lebih dari Rp. 700.000 sebulan. Sambil makan mereka bercerita tentang aktivitas para anggota dewan, terkadang obrolan kelompok cleaning service ini bak wakil rakyat nomor wahid, segala masalah politik, ekonomi tak luput dari pembahasan. Itulah hiburan Suparji dan kawan-kawan. Walaupun mereka hanya karyawan kecil, mereka sangat melek terhadap masalah-masalaah aktual bangsa ini.

Selepas makan siang dan beristirahat sejenak, Suparji melanjutkan tugasnya. Ketika sedang membersihkan kaca gedung, Suparji melihat serombongan mahasiswa masuk ke gedung DPR. Ya, mahasiswa itu sedang berdemonstrasi. Tapi yang membuat suparji takjub adalah para mahasiswa ini tampak sopan penuh etika mengunjungi gedung wakil rakyat ini. Bukan karena pagar gedung DPR yang tinggi besar itu sekarang sudah dibuka setiap hari, tapi karena memang gedung DPR ini sakarang sudah benar-benar menjadi rumah rakyat.

Rakyat juga akhirnya sadar, jika pintu itu terbuka untuk mereka, mereka akan bersimpati dan penuh etika mengunjungi rumah wakil rakyat ini. Suparji menyaksikan para mahasiswa itu diterima oleh pimpinan DPR dengan sangat ramah. Bahkan Suparji tidak melihat satupun anggota keamanan gedung yang mengawal dan menjaga aktivitas mereka. Sungguh situasi yang sangat kondusif. Suparji mengelus dada tanda bersyukur bahwa demokrasi di Indonesia sudah tampak begitu sangat dewasa.

Sekejab, Suparji sudah berada di ruang kerja anggota Dewan, seperti biasa, Suparji membersihkan ruangan. Suparji melihat ruangan itu hanya diisi oleh Seorang anggota dewan, tidak ada sekretaris dan beberapa staf ahli di dalamnya. Suparji heran, dan tanpa sengaja bertanya kepada anggota dewan tersebut.

”kok sekarang semua ruangan hanya diisi Bapak anggota dewan saja, kemana sekretaris dan para staf ahli pa ?” tanya Suparji. Lantas anggota dewan itu menjawab,

”Itu dulu pak, terkadang satu anggota dewan disi 3 sampai 5 orang staf ahli. sekarang anggota dewan kita memang kualitas dan kemampuannya sudah mumpuni. Karena kita sadar, tugas kita berat, oleh karenanya kemampuan, kompetensi dan integritas adalah nomor satu”. Begitu jawab anggota dewan tersebut. Suparji semakin paham, ternyata para anggota dewan kita sudah tidak lagi membutuhkan staf ahli. Mereka benar-benar orang pilihan. Pantas saja ucapan dan perilaku anggota dewan yang sekarang memang jauh dari anggota dewan sebelumnya. Sudah religius, penuh etika dan kesantunan, ditambah orangnya benar-benar cerdas. Tidak Cuma pandai bicara saja.

Belum selesai Parji berfikir, tiba-tiba suara keras menghentak ketelinga Parji. ”Bangun, hei bangun !!” bentak suara keras itu. Ternyata suara keras itu berasal dari sosok tubuh besar dengan perut buncit menghardik Parji. Parji kaget bukan kepalang. ”baru jam berapa ini, kamu sudah enak-enakan tidur !!” bentak laki-laki gendut itu.

”Maaf Pak, saya ketiduran, saya capek sekali, maaf pak ?” sahut Parji. Parji kemudian bergegas kembali bekerja. Sambil berjalan Parji merenung, ”walau tidur cuma sebentar.. tapi mimpiku begitu indah kurasakan”. Kenang Suparji. Semoga ini menjadi kenyataan. Amin ya rabbal alamin, sambil mengusap wajahnya yang masih tampak kusut karena tidur dan mimpi indahnya itu diganggu laki-laki gendut yang ternyata adalah supervisor nya.


1 Komentar

  1. jontra sihite mengatakan:

    Tapi tdk semua anggota DPR kita cerdas Mas dan mengerti fungsinya,apa pun itu,masih banyak kerjaan rumah yg harus mereka lakukan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: