ANDI TRINANDA

Beranda » CONTEMPLATION » Cerpen » Akhirnya Bapakku Berangkat Pergi “Haji” Mendampingiku

Akhirnya Bapakku Berangkat Pergi “Haji” Mendampingiku

Hampir setiap pagi, sebelum tiba di gedung wakil rakyat di Senayan tempatku bekerja sebagai anggota DPR, aku biasanya menyempatkan diri untuk melihat penjual cermin, yang menjajakan cermin-cermin di sepanjang dekat pagar gedung wakil rakyat yang megah ini. Sesekali aku sempatkan sejenak untuk berhenti, sekedar mencari tahu atau melihat sosok penjual cermin itu. Walau tidak turun dari mobil dinas pemberian Negara, karena tiap pagi dan sepanjang hari, jalan itu sangat macet. Aku pasti sempatkan diri melihat sosok tubuh kurus mengenakan kopiah hitam yang biasanya duduk di rerimbunan pohon sambil memegang seuntai tasbih menunggu cermin-cermin itu laku terbeli. Ya ..sosok pria kurus berkopiah hitam yang biasa memegang tasbih sambil berjualan cermin itu adalah bapakku. Pak Imron namanya. Pria yang selalu menghampiri pengendara mobil ketika berhenti di depan cerminnya.

Bukan kalimat “..silahkan pak..cermin pak !?” tapi kalimat pertama yang diucapkannya ketika menghampiri kendaraan yang berhenti adalah “mohon maaf pak..jika cermin-cermin saya ini mengganggu penglihatan bapak karena pantulan sinar matahari ke mobil bapak”. Itulah Bapakku, beliau tidak pernah berubah sikapnya selama hampir 20 tahun berdagang cermin di depan gedung DPR/MPR ini, yang dulu waktu aku kecil sering mengajakku menemaninya menjual cermin di lokasi ini.

Pagi ini, aku memutuskan untuk menemuinya. Perasaan berdosa semenjak malam tadi- ketika Bapakku hadir dalam mimpiku, selalu menghiasi kepalaku hingga pagi ini. Aku cari-cari kemana bapakku, tapi tidak ada.

Kata penjual lain, “Pak Imron tidak ada, mungkin sakit pak ?”. Sekejab seketika itu perasaan berdosaku bertambah besar kepada Bapakku. “terima kasih pak ! ”. Bergegas aku kembali ke mobil dan meluncur ke gedung DPR. Aku memang berniat nanti malam akan mengunjungi Bapak dan keluargaku di Cawang. Karena jadwal agendaku hari ini begitu padat.

Ya, aku bersalah dan berdosa. Karena semenjak aku dilantik menjadi wakil rakyat, tak satu haripun aku sempatkan diri untuk bersilaturahmi dengan keluarga dan adik-adikku. Lebih dari itu, aku melihat ekspresi Bapakku semalam yang seolah-olah mengatakan aku harus secepatnya pulang menengok beliau. Bahkan lebaran kemarin saja aku tak sempatkan pulang dan malah mudik ke tempat istriku di Padang.

Terputusnya silaturahimku dengannya terjadi ketika ia menolak untuk ku suruh berhenti jualan cermin di tempat itu. Jujur saja, aku menghadapi kejutan budaya ketika harus duduk di gedung megah itu. Terus terang aku memang malu jika banyak yang tahu bapakku berjualan cermin di pagar gedung tempatku bekerja, sementara aku menjadi wakil rakyat di gedung megah itu.

Dia begitu marah kepadaku. Dan memutuskan agar aku sebaiknya tidak menemuinya lagi.“Lebih baik kamu tidak usah menemuiku lagi Rusdi. Sudah lupa kah kamu, cermin-cermin ini pernah turut membiayai sekolahmu, walaupun lepas SMA kamu bisa mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi. Tapi usahaku ini setidaknya pernah berjasa pada dirimu,” tegasnya.

Aku begitu tersinggung dengan ucapan Bapakku itu, walaupun sebenarnya aku juga merasakan bahwa Bapak juga tersinggung dengan ucapanku itu. Aku berusaha agar Bapak juga bisa mengerti jabatan dan posisiku saat ini. Akhirnya semenjak itu, kuputuskan untuk sementara menuruti kemauan bapakku agar tidak menemuinya. Dengan harapan ia akan luluh dan mau menuruti permintaanku. Tapi ternyata laki-laki tua itu tak pernah luluh.

Setelah berbagai aktivitas di komisi dan fraksi hari itu, malamnya aku bergegas ke Cawang. Tempat Bapak dan keluargaku tinggal. Dilokasi yang sempit dan jika hujan kerap banjir ini, aku menemui Bapak, Ibu dan adik-adikku. Sepanjang jalan, setiap ada warga yang bertemu, mereka memanggil dan menyalamiku. Mereka keliatan bangga karena ada salah seorang warganya yang menjadi wakil rakyat. Atau aku hanya GR saja menghadapi sikap dan ekspresi mereka. Entahlah.

Ku ketuk rumahku yang sejak 2 tahun lalu aku tak pernah menyentuhnya. “Assalamu’alaikum …?” Pintu terbuka, adikku Asih menyambut. Ia tampak senang karena kakaknya yang sudah lama tak pulang, akhirnya menengoknya.

“Wa’alaikum salam, eh bang Rusdi !”, “Masuk bang, …Pak ..ada bang Rusdi nih..?”. Masuk bang, Bapak ada di kamar tuch, sudah satu minggu ini sakit. “Ibu kemana Sih…?”. Tanyaku. “.. Ibu sama Deny lagi belanja sayur bang di pasar induk, trus biasanya langsung ke pasar Jatinegara, nanti habis shubuh baru pulang dari pasar.

Ibuku memang setiap hari berdagang sayur di pasar Jatinegara. Sudah hampir 25 tahun ibuku bekerja membanting tulang untuk mencukupi keluargaku. Sementara bapakku, disamping berjualan cermin, setiap malam beliau keliling mengajar ngaji privat. Terkadang, murid-muridnya bukan hanya dari kalangan biasa, tapi ada juga dari kalangan pejabat dan pengusaha yang mau belajar ngaji dan agama. Karena cara Bapakku mengajar yang sabar dan mudah dipahami, informasi dari mulut ke mulut mengenai Bapakku itulah yang menyebabkan hampir setiap hari ada saja jadwal bapak mengajar ngaji ke tempat-tempat pejabat dan pengusaha itu. Infak dari mereka untuk mengganti ongkosnya cukup lumayan. Bisa dipakai untuk membantu menyekolahkan adik-adiku.

“Ini untuk tabunganku di akhirat juga Rus, aku tidak pernah menentukan bayarannya,” jelasnya dulu ketika aku memintanya untuk mulai mengurangi waktu mengajar ngaji. Alhamdulillah dari pekerjaan bapak dan ibuku itu kami bisa hidup, serta menyisihkan tabungan.. Bahkan, Asih adikku bisa sekolah hingga sarjana dan saat ini sudah bekerja di salah satu bank swasta.

Sambil lalu, Asih memberitahuku bahwa dia tidak jadi menikah tahun ini. Setelah keluarga calon suaminya bersilaturahmi. Orang tuanya membatalkan rencana pertunangannya. Entah apa alasannya. Apa mungkin karena alasan kondisi rumah dan pekerjaan orang tuaku sebagai penjual cermin itu ? Entahlah. Asih menceritakan bahwa orang tua calon suaminya adalah seorang jaksa terkenal yang kerap menangani kasus-kasus besar di tanah air. Mungkin jika ia menceritakan tentang siapa aku, barangkali ceritanya bisa lain. Kasihan Asih. Tapi adikku itu justru bersyukur kepada Allah SWT, karena ia menjadi tahu lebih awal ketimbang ia tahu sikap mertuanya setelah ia menikah nanti.

Asih menjelaskan, bapak memang melarangnya untuk menceritakan tentang diriku yang berhasil menjadi anggota DPR. Asih lah yang selama ini mengurus keluarga. Sementara aku….?.

Tak berani aku menatap lama wajah adikku itu. Rasa malu ini begitu besar mencabik jiwaku. “..Maafkan kakakmu Sih” Cuma sesal dalam hati yang bisa ku ungkapkan.

Aku masuk ke kamar bapak. Ku lihat ia sedang tidur, tangan kanannya masih menggenggam tasbih. Ku cium tangan Bapakku, aku bisik pelan ditelinganya, “Assalamu’alaikum pak ?”.

”…Wa’alaikum salam…, kamu Rus….? Alhamdulillah kamu masih ingat bapak,” jawabnya dengan nada bening. “Iya…., bapak Sakit…?“ sapaku. “Nggak Rus.. Bapak cuma capek, kamu sudah sholat Isya..?” Itulah bapakku, Ia selalu berusaha tegar, tidak pernah mengeluh dan tidak melupakan kewajibannya sebagai imam keluarga, yang selalu mengingatkan ibadah kepada anak-anaknya.

“Belum pak,.” jawabku. “..Sudah, sholat Isya dulu sana. Iya pak..”.

Aku menuruti Bapak untuk sholat Isya. Ketika sholat, rasa berdosa itu semakin menghujam sanubariku. Seumur hidupku, aku tak pernah sholat sambil menangis sampai terisak seperti ini. Entah mengapa ketika sholat kali ini aku begitu menemukan diriku sehina ini dihadapan Allah dan keluargaku, khususnya bapakku. “Ampuni dosaku ya Allah….” lirih di sela isakku.

Selepas sholat, adikku Asih mengajakku bicara. Katanya Bapak sempat cerita rencana pergi haji di tahun ini. Tapi tertunda, karena dulu uang tabungan hasil beliau mengajar ngaji dan tabungan Ibu selama belasan tahun, dipakai aku untuk membiayai proses pencalonanku menjadi caleg. Aku baru ingat, dulu aku pakai uang Bapak pergi haji untuk mendaftar menjadi caleg, dan keperluan lainnya sampai aku jadi. Aku tertunduk mendengar adikku bercerita. Tak terasa airmata ini deras membasahi wajahku.

“.. tapi bang, abang gak usah sedih gitu, Bapak bukannya gak ikhlas soal uang tabungan pergi Haji Bapak. Bapak cuma rindu ingin berangkat pergi haji. cuma itu. Bapak gak pernah mengungkit-ungkit uang itu kok“.

“..iya Sih, abang tau, Abang tau siapa Bapak kok. Tapi Sih, sebenarnya abang kan tiap bulan kirim uang untuk Bapak ? ”Sebenarnya dari uang kiriman abang itu, Bapak gak cuma bisa pergi Haji Sih, bapak juga bisa merenovasi rumah, bahkan kita bisa pindah dari sini ketempat yang lebih layak”.

“Iya bang, Asih juga pernah bilang gitu ke Bapak, tapi abang lihat, uang abang masih ada di rekening Bapak. Utuh gak pernah dipakai sama sekali. Sampai bapak sakit dan sering berobat pun nggak pakai uang kiriman abang “.Jelasnya sambil menunjukkan buku rekening bank atas nama Pak Imron.

“Kenapa Sih….?’ tanyaku dengan pedih. “Maaf jangan tersinggung ya bang, waktu aku tanya kenapa nggak mau pakai uang itu, bapak cuma diam saja. “Bapak cuma heran, mungkinkah gaji abangmu itu sebesar ini ? Lebih jauh Bapak nggak pernah mau cerita bang, apa yang sedang dan terus difikirkannya itu”.

“Ternyata bapak kita dari dulu tidak pernah berubah Sih, ia selalu teguh memegang prinsip. Tidak silau limpahan materi dan keberhasilanku. Sudahlah, kamu istirahat saja dulu, malam sudah larut, kamu besok harus berangkat kerja pagi-pagi. Biar nanti aku pikirkan jalan keluarnya” Kataku.

Aku merenung sepanjang malam, sebegitu jelekkah jabatan dan profesiku sekarang dimata Bapak, sampai-sampai Bapak tidak mau menyentuh dan memakai uang hasil jerih payahku itu. Padahal aku ingin sekali membahagiakannya. Bukankah harusnya Bapak bangga terhadap anaknya?. Aku merenung ucapan Asih tadi, sambil sesekali melihat bapak masih tertidur. Tak tega aku membangunkannya.

Ribuan konstituen bisa kubius dengan janji-janji muluk mulut manisku. Hingga mereka rela memilih namaku pada kertas suara dan mendudukan diriku di kursi wakil rakyat. Tapi mulut yang sama ini tidak bisa merobohkan keteguhan hati bapakku sendiri.

Sesekali tiga telepon genggamku terus berdering, SMS masuk bahkan YM dan bbm terus saja memanggil-manggilku. Aku lihat sekretaris pribadi Ketua Umum Partai ku meminta ku untuk ketemu malam itu juga. Entah mengapa, malam itu aku berani membangkang untuk bilang, aku tidak bisa menghadiri rapat malam ini karena sedang menunggui Bapakku sakit. Dari jawaban sekretaris ketua Umum itu, tersirat isinya marah dan mengancam akan memberikan sangsi kepadaku karena dianggap tidak loyal terhadap partai di tengah situasi urgen. Tapi bagiku, orang tuaku dan keluargaku saat ini, jauh lebih penting dari semuanya.

Tak terasa suara pengajian jelang subuh berkumandang. Bapakku keluar kamarnya bergegas ke belakang. Sebelum sholat shubuh bapakku memanggilku. Hampir bersamaan dengan itu, emak terdengar pulang. Melihatku ku sedang ngobrol dengan bapak ia tak bisa berkata-kata, hanya tersenyum tulus sambil meneteskan air mata haru anaknya tengah berada di rumah setelah 2 tahun tidak pulang.

Aku mencium tangannya dan ia mengelus kepalaku dengan lembut. Terasa sekali kasihnya yang menembus seluruh nadi dan sanubariku. Lalu emak turut duduk mendengarkan pembicaraanku dengan bapak. Bapak tanya soal pekerjaanku dan berpesan agar aku dapat menjalankan amanah dan jujur dalam bekerja. Aku mengiyakan. Bahkan Bapak mengatakan kepadaku bahwa beliau ikut memanggul beban amanah tentang pekerjaanku dengan berdoa siang dan malam tak kenal henti untuk menjaga pekerjaanku sebagai wakil rakyat. Air mataku tumpah semakin deras dipangkuan emakku. Emak terus menenangkan diriku untuk sabar dan ikhtiar serta merenungi makna dibalik ucapan Bapakku. Emakku bilang biar bagaimanapun sikap anak terhadap orang tua, namun tetap saja orang tua terus berdoa yang terbaik buat anak-anaknya.

“Rus, Bapak ikut memanggul beban amanah terhadap pekerjaanmu ini. Tak pernah bosan Bapak doakan siang dan malam agar kamu bisa menjaga amanah berat yang kau pikul. Bapak teramat sadar, bahwa pekerjaanmu ini memang sangat berat pertanggungjawabannya di mata Allah dan rakyat banyak. Tidak hanya manusia yang bersaksi, tapi seluruh isi bumi ini pun siap bersaksi kelak ketika kau diminta pertanggungjawaban oleh-Nya. Bahkan anggota tubuhmu sendiri pun akan menjadi saksi utama. Jangan pernah permainkan amanah yang kamu pikul itu,” lanjut bapak dengan halus namun penuh ketegasan. Aku mengangguk mengiyakan ucapan Bapakku.

Aku sekarang mengerti mengapa Bapak tidak berani menggunakan uang kirimanku itu untuk berangkat pergi haji.

Aku peluk bapakku dan emakku erat-erat..”Ampuni Rusdi Pak..” “Maafkan Rusdi Mak……” Kata emak kalau bapak rindu, ia sering melihat aku di televisi. Bapak kadang senang dan bangga dengan pendapatku di acara dialog di TV, kadang Bapak juga merasa bapak khawatir dan takut tentang masalah pekerjaanku yang diberitakan di televisi.

Kata Bapak, aku kan sering lihat bapak berjualan cermin di tempat aku bekerja. Bapak cuma pesan, sempatkanlah menengok ke cermin-cermin itu. Anggap saja hati kamu sudah menemui bapak ketika kamu menengok ke cermin-cermin itu. Bahkan Bapak berujar, agar aku juga tidak lupa menempatkan cermin besar di ruang kerjaku. Katanya agar aku bisa setiap saat bisa bercermin, bisa melihat utuh diriku ketika menjalankan amanah dan tugas-tugasku sebagai wakil rakyat. Agar aku menyadari darimana aku berasal dan untuk siapa aku bekerja.

Aku mengangguk, sambil dalam hati merenungi makna filosofis dan bijaksananya kalimat yang terucap dari bibir Bapakku itu. Ekspresi dan raut mukanya seolah-olah menggambarkan akan terjadinya peristiwa besar dalam hidupnya. Aku berjanji kepada Bapakku untuk tidak mengecewakannya lagi.

Satu bulan setelah pertemuanku dengan Bapakku, KPK menyidukku dan menetapkan aku sebagai salah satu tersangka korupsi terkait masalah dugaan suap pencalonan petinggi BUMN. Harta benda ku disita negara, rekeningku juga diperiksa termasuk aliran dana ke rekening Bapakku yang setiap bulan aku kirim.

Bapakku akhirnya juga dipanggil KPK, diperiksa dan dijadikan tersangka sebagai pihak yang terbukti menerima dan menampung aliran dana. Aku begitu terpukul. Lebih-lebih karena masalah ini kemudian menjerat Bapakku yang tidak berdosa sedikitpun atas tindakanku. Tapi itulah hukum positif di republik ini.

Ketika aku dipertemukan oleh Bapakku di sel tahanan Polda Metro Jaya. Bapakku menepuk pundakku dan memeluk hangat diriku yang sudah setengah putus asa menghadapi cobaan ini. Namun Bapakku, walaupun terlihat sedang sakit, ia memberikanku senyum kesejukkan, sehingga hari-hariku mendekam di sel tahanan ini terasa tetap menyejukkan.

Bapakku berujar bahwa “inilah sejatinya Rus, Makna dibalik bapak tidak berangkat pergi Haji, tapi bapak berangkat menemanimu ke sini”. Bapak merasakan kepergian Bapak tidak ke tanah suci, melainkan menemaniku disini jauh lebih berharga dari kepergian Bapak kesana.

“Inilah Rus, pergi ‘Haji’ Bapak sesungguhnya kesini, bukan ke Mekkah. Allah SWT telah menyelamatkan kamu dan Bapak Rus. Mungkin disinilah tempat yang paling khuyuk bagi kamu dan Bapak untuk bertobat”. Saat itu Kupeluk Bapakku erat sekali, enggan rasanya untuk melepas pelukan itu. Bapakku kemudian menitipkan tasbih dan sorban kesayangannya kepadaku, katanya agar aku bisa terus mengingat keluarga. Aku ingat, sorban dan tasbih yang sering dipakai bapakku itu adalah hadiah pemberian kami, anak-anak beliau ketika Bapak berulang tahun 5 tahun yang lalu.

Namun belum sempat Bapakku disidangkan, beliau menghembuskan nafasnya yang terakhir. Beliau dipanggil Allah SWT setelah sholah Subuh. Aku mengetahuinya sesaat setelah aku dikirimi surat dari DPP Partai ku bahwa aku dipecat secara tidak hormat.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: