ANDI TRINANDA

Beranda » ARTIKEL » Artikel Politik » Bangsa yang Menyebalkan

Bangsa yang Menyebalkan

Sengaja judul tulisan diatas saya pinjam dari buku Pengamat Politik Eep Saefulloh Fattah yang berjudul Bangsa saya yang menyebalkan : catatan atas kekuasaan yang pongah”,  karena memang dalam konteks-konteks tertentu, judul tersebut barangkali masih relevan dan dapat pula mewakili kegelisahan – bahkan kemarahan kita dalam mencermati sikap dan perilaku kekuasaan yang secara etika dan moral, dalam perspektif sosial maupun politik kerap tidak bisa diterima dengan logika akal sehat.

Malah kadang bertabrakan dengan logika berfikir humanistis kita sebagai manusia yang dibekali Tuhan untuk berfikir, merasakan dan membedakan sesuatu yang baik atau tidak, benar atau salah dan seterusnya. Mungkinkah ini yang dimaksud dengan “kesesatan berfikir” yang oleh para pemuka agama disebut sebagai penyakit kronis yang sedang menimpa bangsa Indonesia.

Kita bisa menelaah panjang ketika banyak fenomena-fenomena sosial maupun politik di tengah masyarakat kita cenderung diwarnai oleh “kesesatan berfikir itu.  Kesesatan berfikir yang justru kebanyakan diproduksi oleh para elit politik kita. Tengok saja misalnya, ketika dulu ada seorang pejabat /pimpinan salah satu BUMN yang tidak menerima gajinya, komentar miring malah tersematkan kepada yang bersangkutan. Pihak yang mencibir kebijakan personal pimpinan BUMN tersebut dianggapnya sebagai cari sensasi dan sedang cari popularitas dan simpati publik, dan seterusnya.

Kemudian ketika ada salah seorang menteri yang baru saja diangkat oleh Presiden hasil reshuffle kabinet kemarin yang menolak menggunakan fasilitas negara, bahkan hidup sederhana dengan penampilan yang apa adanya, statement miring dengan alasan serupa pun muncul dan menyerang balik bahwa pejabat yang demikian itu adalah pejabat yang hanya mementingkan popularitas dengan cara menarik simpati masyarakat dengan gaya dan penampilannya.

Baru-baru ini Ketua KPK, Busro Muqodas juga mengkritik anggota DPR yang kerap bergaya hidup hedonis dam perlente. Dikatakannya pula DPR kerap dihuni pemberhala nafsu dan syahwat politik kekuasaan dengan moralitas rendah yang mengakibatkan berakarnya budaya korupsi. Kalau menurut Ketua MK Mahfud MD, ia menyebut anggota DPR itu kebanyakan orang yang gila hormat.

Menanggapi kritik tersebut, mereka (anggota dewan yang terhormat) cepat memasang demarkasi dan menyebut bahwa sindiran itu merupakan sebagai suatu sikap politik pejabat tersebut terkait kepentingan posisinya dimasa datang, atau mencari simpati dan popularitas publik, atau setidaknya cepat mengklaim bahwa ada upaya untuk melemahkan eksistensi dan kekuasaan DPR. Mereka buru-buru memasang “pagar betis” atas nama penyelamatan nama baik lembaga dari gempuran kritik masyarakat.

Sinyalemen Ketua KPK Busro Muqodas dan Mahfud MD tentang gaya hidup hedonis adalah fakta. Jika kita melihat kenyataan di gedung DPR di Senayan, memang lapangan parkir gedung itu mirip galeri mobil mewah. Sejumlah mobil mewah yang menjadi tunggangan para politikus tersusun rapi di halaman parkir. Mulai jenis Alphard hingga Bentley Continental GT senilai Rp7 miliar ada di sana.

Sebaliknya juga fakta bahwa ruang rapat paripurna DPR sering diisi kursi kosong. Lebih miris lagi, rapat yang dihadiri segelintir wakil rakyat  kadang tetap digelar meski menabrak aturan. Padahal, salah satu kewajiban anggota DPR ialah menghadiri rapat dan harus memenuhi kuorum.

Belum lama ini, yang masih hangat adalah seorang mantan napi kasus pemalsuan dokumen imigrasi yang pernah ditahan di tahun 2008-2009 di rutan Salemba yang bernama Syarifudin, mengekspos perlakuan diskriminatif dan kondisi bobroknya manajemen rutan melalui video.

Video tersebut memberikan informasi kepada masyarakat bahwa uang dan kekuasaan juga berlaku di tahanan. Siapa yang banyak duit dialah yang berkuasa dan bisa menerima berbagai fasilitas, sebaliknya siapa yang miskin maka mereka akan “menikmati” kemiskinannya dengan fasilitas yang  apa adanya, termasuk jatah makan yang jauh dari nilai-nilai kemanusiaan.

Namun apa yang dilakukan Syarifudin tersebut justru menuai sangsi moral dari sang menteri kehakiman. Jika bernasib buruk, Syarifudin bisa akan kembali masuk bui dengan sangsi hukum baru, yaitu pencemaran nama baik karena menyebarkan berita atau informasi bohong kepada masyarakat.

Alih-alih ingin memperoleh respons positif terhadap informasi yang diberikan untuk perbaikan kinerja dan kondisi di Rumah Tahanan, namun yang diperoleh Syarifudin adalah makian dari sang menteri, wakil menteri dan beberapa pihak di jajaran kemenrian kehakiman. Hal tersebut terjadi karena yang bersangkutan justru dianggap memfitnah.

Tudingan fitnah oleh menteri keluar dari mulutnya ketika sang menteri dan beberapa pejabat dikementerian hukum melakukan kunjungan ke rutan (bukan inspeksi mendadak). Dikatakan bukan inspeksi mendadak karena kehadiran rombongan yang relatif lengkap dan besar ke objek yang sedang disorot serta membawa rombongan wartawan, tidak pantas disebut inspeksi mendadak.

Sang menteri memang sudah kehilangan sifat mendasar dari istilah “dadakan” itu sendiri. Yang ada adalah membangun politik pencitraan bahwa seolah-olah pejabat di kementerian hukum itu responsif dalam menanggapi video. Mereka seolah langsung bereaksi dan melihat langsung kondisi yang dimaksud. Tapi ya pasti sudah diduga, sang menteri dan rombongan, termasuk wartawan tidak berhasil menemui kondisi seperti gambar yang ditampilkan dalam video Syarifudin. Dan respons yang dadakan justru meluncur dari mulut sang menteri, bahwa tidak benar ada informasi seperti yang dipublikasi Syarifudin. Syarifudin justru dituduh melakukan fitnah.


1 Komentar

  1. muslimshares mengatakan:

    nice blog gan
    kalo berkenan mampir ke blog ane yuk sekalian tukeran link.

    salam,
    muslimshares
    http://muslimshares.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: