ANDI TRINANDA

Beranda » ARTIKEL » Artikel Politik » Motivasi Jalinan Asmara Penyidik KPK dengan Pihak Berperkara : Catatan untuk Kasus Angelina Sondakh

Motivasi Jalinan Asmara Penyidik KPK dengan Pihak Berperkara : Catatan untuk Kasus Angelina Sondakh

Pepatah Jawa mengatakan “tresno soko jalaran sokokulino”. Yang artinya cinta bersemi karena sering bertemu. Bagi kebanyakan orang, ungkapan tersebut adalah sebuah keniscayaan atau sebuah kelaziman, bahwa apapun situasi dan kondisinya, dimanapun ia berada, maka sebuah kisah asmara atau percintaan akan lahir, bersemi dan bersemayam di dasar hati dua insan manusia. Ketika rasa itu datang, ia tidak akan mengenal tempat, ruang dan waktu. Semua membatu dan menjadi peristiwa kultural dalam oase kalbu yang bergayut rindu dalam samudera waktu.

Itulah sebuah peristiwa asasi dalam fitrah manusia. Sebuah peristiwa ketika dua insan melakukan proses interaksi dan komunalisme personal. Ketika momentum dan pertautan jiwa menemukan ranahnya untuk menuai kisah integrasi dua perasaan yang saling menemukan pertaliannya.

Dalam keadaan itu, siapapun tak akan bisa melerai dan mengekang terjadinya kristalisasi dua perasaan yang memiliki kesamaan untuk menikmati dan memiliki dermaga hatinya. Tanpa terkecuali, siapapun tak bisa pula memiliki penilaian tentang maksud dan motivasi tersirat kedua insan yang sedang dimabuk kepayang tersebut akan orientasi hubungan yang dilakoninya. Orang lain barangkali hanya sanggup memberikan persepsi dan intepretasi subyektif.

Keunikan berseminya cinta itulah yang membuat peristiwa yang mendampingi atmosfir asmara tersebut menjadi layak untuk di cerna sebagai sebuah sketsa bagi orang lain untuk menilai, tanpa bisa menghakimi. Sebab yang tahu proses dan persemaian motivasi hubungan cinta itu adalah menjadi hak prerogatif dua insan yang menjalaninya.

Sekali lagi apapun peristiwa dan momentumnya. Persoalan cinta memang sulit untuk diintepretasikan. peristiwa apapun baik terduga maupun tak terduga. Ia menjadi hak si pelakon cinta. Termasuk peristiwa hukum dan politik. Ia bisa menjadi latar tumbuhnya aroma cinta itu.

Belum lama ini hembusan aroma cinta datang dari gedung KPK. Gedung yang “menakutkan” bagi para pelaku kourpsi. Ditengah hiruk pikuk skandal besar mega korupsi wisma Atlet yang bersinggungan dengan para tokoh elit partai politik yang diungkap oleh Nazarudin dan Mindo Rosalina Manulang, muncul nama Angelina Sondakh,  Andi Malarangeng, Anas Urbaningrum, Wafid Muharram, dan lain-lain yang diduga terkait masalah-masalah skandal korupsi Wisma Atlet dan Hambalang tersebut.

Aroma cinta berhembus ke publik ketika ketua KPK Busyro Muqodas membenarkan bahwa salah satu pihak terperiksa kasus wisma Atlet, yaitu Angelina Sondakh, sejak dua bulan lalu menjalin hubungan spesial dengan salah satu penyidik KPK berpangkat Kompol, berinisal BS. Pernyataan Busyro tersebut sontak mengagetkan publik. Publik kaget karena peristiwa hukum yang dialami Angelina Sondakh itu, justru “membahagiakan” Angie (sapaan Angelina Sondakh). Karena di KPK itulah ia bertemu dan akhirnya menjalin hubungan “istimewa” dengan seorang penyidik. Cinta memang biasanya hadir ketika kualitas dan kuantitas pertemuan serta komunikasi dilakukan secara intens. Hubungan formal kemudian berubah menjadi hubungan personal dan akhirnya hubungan itu menemukan dinamika-romantikanya bagi Angie dan si Kompol BS.

Bagi publik, skandal percintaan di KPK ini makin melengkapi keterjutan publik akan sepak terjang KPK. Publik bukan hanya terkejut ketika Penyidik KPK mendadak membekuk tersangka kasus dugaan suap di halaman kantor kejaksaan. Publik juga terkejut ketika KPK berhasil menangkap tersangka yang sedang bertransaksi di halaman kantor DPRD. Publik juga terkejut ketika KPK begitu gagah beraninya mengungkap keterlibatan secara massal mantan anggota DPR dalam kasus cek pelawat pemilihan gubernur BI. Bahkan publik juga terkejut ketika KPK bisa menetapkan seseorang menjadi tersangka tanpa terlebih dahulu memeriksanya, seperti dialami anggota DPR Wa Ode Nurhayati.

Skandal percintaan di KPK yang melibatkan penyidik dengan terperiksa adalah sisi lain berbagai keterjutan itu. Hubungan asmara itu tentu bukan sembarangan. KPK bahkan telah memeriksa dan menemukan kebenaran hubungan istimewa tersebut.

Dalam wawancara doorstopnya dengan para wartawan, meski tidak terus terang mengakui hubungan asmara itu, Angelina Sondakh mengakui mempunyai banyak sahabat, termasuk polisi. Berbeda dengan Kompol BS yang telah terus terang mengakui hubungan spesial tersebut di hadapan pimpinan KPK. Karena ketahuan itulah maka sang penyidik buru-buru meminta dirinya dikembalikan ke Mabes Polri, dengan alasan untuk menghindari subyektifitas pemeriksaan terhadap Angelina Sondakh. Walaupun sebenarnya sang penyidik memang tidak diberikan tugas untuk menyidik kasus yang sedang menimpa Angie tersebut.

Sekali lagi, eksistensi cinta memang sah-sah saja berada diranah manapun. Orang lain memang tidak berhak mengintervensi nilai-nilai personalitas kedua insan tersebut.

Namun sah-sah juga publik menganalisa adanya korelasi dan kecurigaan ketika seseorang yang sedang diperiksa, jatuh cinta kepada penyidik dari lembaga yang memeriksanya. Apalagi selama ini publik dibuat gemas oleh sikap KPK yang tidak juga menaikkan status terperiksa yang bersangkutan, meski namanya berkali-kali disebut di sidang pengadilan tindak pidana korupsi, yang terdakwanya Minda Rosalina Manullang maupun Nazarudin.

Berbagai pakar Teknologi Informasi sendiri, termasuk kesaksian Rosa, sampai hari inipun tidak ada yang membantah kebenaran isi percakapan via BBM antara Angie dengan Rosa yang membicarakan pembagian masalah jatah yang dianalogikan dengan sebutan apel. Apel malang untuk analogi rupiah, apel Washington untuk analogi Dollar.

Dalam eksepsi Nazaruddin di pengadilan bahkan menyebutkan Angie menerima dana Rp. 9 miliar dari Menpora Andi Mallarangeng kemudian mendistribusikannya kepada petinggi Demokrat.

Terkait hubungan asamara itu, walaupun Ketua KPK Busyro Muqodas mencoba meyakinkan bahwa pemeriksaan Angie tidak terpengaruh hubungan istimewa penyidik KPK dengan mantan Puteri Indonesia itu karena BR tidak termasuk tim pemeriksa Angie, namun publik kadung sudah percaya bahwa asmara tersebut penuh korelasi dengan kasus Angie.

Sebab meski tidak termasuk tim pemeriksa Angie, sesama penyidik KPK tentu saja bisa bertukar informasi. Solidaritas personal mungkin saja terbentuk dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kedekatan hubungan kerja sesama penyidik. Intinya bisa saja seorang penyidik menitipkan ‘pasiennya’ kepada penyidik lain.

Persoalan asmara inilah yang menjadi salah satu pintu masuk kelemahan KPK. Setelah Independensi KPK teruji disatu sisi, namun disisi lain Angelina Sondakh yang juga artis itu,  sangat cerdas untuk masuk melalui celah yang tak diduga banyak orang. Paras cantik, cerdas dan mapan serta punya eksistensi diri dimata publik, menjadi salah satu potensi sekaligus “keuntungan” yang barangkali mampu menjadi strategi paling jitu untuk motivasi Angie menjalin hubungan dengan penyidik KPK.

Dalam konteks inilah KPK seharusnya sudah menyadari bahwa salah satu kelemahan institusi penegak hukum itu adalah menyangkut masalah rekrutment dan asal usul penyidik. Masalah independensi penyidik KPK dalam kasus “asmara Angie” inilah yang sejatinya menimbulkan sinisme publik terhadap KPK.

Tentu saja persoalan sinisme publik bisa berdampak dan berkembang luas menjadi penilaian negatif lebih lanjut lainnya terhadap KPK. Perlu diingat bahwa penilaian publik saat ini sudah terbentuk, bahwa  Angelina Sondakh sebagai anggota DPR dari partai penguasa itu memperoleh keistimewaan. Keistimewaan tersebut berupa pelindungan maksimal dari partai politiknya.

Sekarang, keistimewaan tersebut bukan cuma berasal dari partai politik penyokongnya, tapi juga berasal dari KPK ? Kelambanan KPK menaikkan status hukum Angelina Sondakh, dimata publik barangkali menemukan alasannya yang paling logis saat ini. Yakni karena alasan asmara itu. Publik akhirnya berspekulasi dan beropini bahwa asmara Angie adalah bentuk lain dari Gratifikasi yang harus di buktikan oleh KPK.

Lebih lanjut, dengan kasus asmara Angie ini, publik juga disadarkan bahwa gratifikasi juga bukan saja berbentuk fisik. Tapi kini asmara juga bisa menjadi bentuk gratifikasi baru bagi mereka yang sedang beperkara. Konteksnya adalah ada yang memberi dan ada yang menerima. Akan tetapi usulan mengkaitkan kasus Angie ini agar kemudian pemerintah dan DPR mendefinisikan ulang kembali gratifikasi dalam UU No 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi adalah sebuah lompatan substansi yang keliru.

Keliru karena bukan saja ranah asmara sulit untuk diintepretasi. Kekeliruan lainnya adalah meletakkan sebuah substansi perkara dengan pihak yang terlibat dalam perkara itu dengan mengkaitkannya dengan substansi lain yang “tidak logis untuk dikorelasikan.

Padahal substansi dari kasus Angie ini adalah persoalan independensi. Dan sejatinya, hal yang paling masuk akal adalah KPK seharusnya melakukan restrukturisasi terkait persoalan reskrutment penyidik dan aturan baku proses penyidikan bagi pihak-pihak yang berperkara. Walaupun langkah KPK sudah benar dengan mengembalikan penyidik ke kesatuan induknya di kepolisian, namun  publik kadung menilai bahwa pengembalian penyidik ke kesatuannya itu adalah karena faktor kekeliruan dan kecerobohan KPK membangun demarkasi untuk melindungi independensinya dimata publik. Untuk kasus Angie ini, publik menunggu keterkejutan lain yang akan di buat KPK. Akankah kotak pandora kasus wisma Atlet akan terbuka lebar, dan apakah benar kesaksian Nazarudin selama ini benar. Kesaksian yang kerap dibantah bertubi-tubi oleh partai demokrat sebagai sebuah kebohongan. Mari kita sama-sama menunggu keterkejutan itu. *) ADT


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: