ANDI TRINANDA

Beranda » ARTIKEL » Artikel Politik » Menimbang Nasib Anas

Menimbang Nasib Anas

Pasca kelanjutan kasus korupsi Wisma Atlet yang melibatkan terdakwa Muhammad Nazarudin, akhirnya benar-benar berimbas kepada nasib partai Demokrat dan terutama sejumlah kadernya yang di duga terlibat, seperti Angelina Sondakh, Mirwan Amir, Andi Malarangeng dan tentu saja sang ketua Umum Anas Urbaningrum mulai terkuak di pengadilan tipikor. Terutama ketika saksi kunci, yakni Yuliani, wakil direktur keuangan Permai Group, milik M. Nazarudin dan Anas Urbaningrum mengungkap sejumlah keterlibatan tokoh-tokoh penting partai demokrat tersebut terkait sejumlah aliran dana, atau yang disebut oleh Yuliani sebagai fee atas proyek wisma Atlet dan Hambalang.

Sejumlah pernyataan yang selama ini diproduksi oleh Muhammad Nazarudin, baik ketika yang bersangkutan “melarikan diri” hingga nyanyiannya ketika ditangkap KPK terkait keterlibatan nama-nama petinggi demokrat tersebut, akhirnya “memaksa” dewan pembina partai demokrat untuk mulai malu-malu mengakui bahwa apa yang dikemukakan Nazarudin memang sulit untuk ditampik lagi melalui berbagai argumentasi logis.

Muhammad Nazarudin sementara ini, berdasarkan kesaksian Yuliani dalam persidangan kasus Suap Wisma Atlet, telah berhasil membuktikan bahwa dirinya tidak sedang berhalusinasi seperti yang selama ini di katakan oleh sejumlah elit Partai demokrat. Bahkan ia membuktikan dirinya bukan penakut, seperti yang dulu pernah di kemukakan Yudhoyono yang hanya berani memfitnah partai demokrat dari ruang kegelapan.

Sekali lagi, pernyataan saksi kunci Yuliani inilah jawaban atas tantangan Yudhoyono dulu, ketika pada waktu itu Presiden RI tersebut menantang orang yang ia sebut bersembunyi di balik kegelapan-untuk secara jantan mengungkapkan berbagai fitnah yang menyerang partai demokrat.

Dan sekarang, “kejantanan“ Yudhoyono balik diuji dan perlu dibuktikan, apakah dewan pembina partai demokrat tersebut mampu pula bertindak untuk mesin politiknya dengan cara yang transparan alias tidak bersembunyi dibalik kegelapan seorang pemimpin yang cuma siap happy dengan hasil yang dicapai oleh para kadernya dalam membesarkan partai, namun tidak memiliki cukup kesiapan untuk menerima resiko atas apa yang juga dilakukan kader partai politiknya yang haus dan serakah terhadap kekuasaan dan nafsu bejatnya sebagai seorang politisi.

Publik saat ini sedang menimbang siapa sosok koruptor yang “ksatria”. Ksatria dalam konteks mengungkapkan kekotoran dirinya di muka publik. Termasuk publik juga tengah menunggu apakah “kejantanan” Yudhoyono mampu dibuktikan kepada publik seperti dulu ia menantang Muhammad Nazarudin untuk bersikap jantan.

Yudhoyono sebagai ketua dewan pembina memang tengah gamang. Ia sadar bahwa quo vadis partai demokrat berepisentrum dari kasus M. Nazarudin ini, dan realita hukumnya juga akan merembet kepada sejumlah kader elit partai, termasuk sang ketua umumnya yang diduga kuat terlibat.

Saat ini, sejumlah kader dan sebagian anggota dewan pembina mulai berancang-ancang untuk mendongkel Anas, termasuk oleh pihak yang merasa belum puas atas kekalahan dalam merebut kursi ketua umum dalam konggres partai. Mendongkel Anas dari kursi ketua umum di alibikan sebagai salah satu solusi agar partai demokrat lebih sedikit keluar dari keteruraian temali politik dan hukum yang terus menggerus citra partai. Namun sayangnya berbagai kegundahan tersebut masih diungkapkan dari ruang kegelapan.

Melihat gelagat tersebut, Anas segera menyambar dengan pernyataan bahwa ketua umum Demokrat hanya satu, “Anas Urbaningrum” dan partainya masih solid, kompak dan waras.

Menimbang pernyataan keras Anas, publik memahami bahwa sejatinya saat ini fakta terjadinya keretakan dan intrik politik di tubuh internal partai demokrat sudah sangat eksplisit dan kian mengental. Pernyataan Anas terkait masih solidnya partai demokrat harus dipahami publik sebagai kesolidan pendukung Anas di berbagai daerah yang siap memback-up yang bersangkutan dalam berbagai kondisi di tubuh partainya.

Dan pernyataan Anas tentang partai demokrat masih waras juga menegaskan bahwa ia tengah memberikan keyakinan kepada pendukungnya terkait tingkat penerimaan dan kelayakan jabatannya secara yuridis formal dalam struktur organisasi. Lebih lanjut istilah “waras” yang dikemukakan Anas juga sejatinya memberikan pesan khusus kepada lawan politiknya, bahwa mendongkelnya dari kursi ketua umum dengan memanfaatkan angle atau momentum peristiwa hukum yang tengah dialaminya adalah jalan ketidakwarasan partai politik itu yang hanya mencoba keluar dari berbagai masalah secara instan, namun tidak mempertimbangkan akan resiko terjadinya saling berhadapan antar loyalis Anas di berbagai daerah dengan pendukung lawan politik Anas. Itulah barangkali yang dimaksud Anas dengan ketidakwarasan elit demokrat apabila membiarkan kader akar rumput partai demokrat saling berhadapan dan saling menghancurkan.

Pesan inilah yang harus ditangkap sang dirijen partai yakni ketua dewan pembina- Yudhoyono, agar tidak terus bersembunyi di ruang kegelapan dengan hanya memproduksi pesan politiknya kepada sejumlah anggota dewan pembina yang dikumpulkannya di Cikeas beberapa waktu lalu tanpa berani bersikap dan terus terang terhadap dirinya. Sebab sebagai pemimpin yang menasbihkan Citra personal kepemimpinannya, Yudhoyono dipastikan akan tetap bersih tangannya dan ucapannya walaupun ia berada ditengah pusaran arus masalah partai demokrat.

Kapasitas seorang Anas Urbaningrum pasti menyadari bahwa menimbang konstruktivitasnya sebagai seorang ketua umum, memang bergantung kepada fatsoen politik kepemimpinannya dimata hukum dan aturan main partai. Dan kasus hukum yang membelitnya sekarang ini memang akan mempengaruhi sejauhmana probabilitas kelanjutan kekuasaannya di partai demokrat.

Sementara bagi ketua dewan pembina, persoalan yang menimpa partai demokrat adalah pukulan telak di sisa terakhir kekuasaan politiknya yang akan berakhir di tahun 2014. Pilihan yang tersedia saat ini hanya soal resultan waktu saja. Baik sekarang atau nanti, peristiwa hukum yang menimpa sejumlah kader partai demokrat, akan dijadikan peluru dan pelatuk bagi partai politik lain untuk terus menggerus eksistensi partai demokrat hingga 2014 mendatang. Apalagi jika Anas Urbaningrum dan sejumlah elit partai demokrat lainnya benar-benar terlibat. Proses hukum terhadap kasus ini akan memakan waktu panjang hingga mereka benar-benar terbukti dan divonis.

Sepanjang peristiwa hukum itulah, sepanjang itu pula partai politiik lain dan lawan politik partai demokrat akan terus memanfaatkan momentum alamiah untuk membangun positioning sambil melakukan alienasi akan eksistensi partai demokrat, baik secara empiris maupun ideologis dalam memory masyarakat tentang eksistensi negatif partai politik yang secara instan besar namun secara instan pula berkuasa dan korup.

Bagi Yudhoyono, situasi seperti ini memang dilematis. Bila dihadapkan pada pilihan apakah menyelamatkan Anas atau Demokrat, yang paling tepat dan realistis bagi kader partai berlambang bintang mercy itu adalah menyelamatkan institusi dari pada mempertahankan pribadi. Dan sudah bisa dipastikan Demokrat akan melepaskan Anas seperti cara Demokrat melepas Muhammad Nazarudin.

Tapi yang pasti, Yudhoyono haruslah jantan mengemukakan realita ini kepada  seluruh kader partai demokrat. Bahwa nasib Anas, memang berada ditangannya. Apakah tetap dipertahankan di tengah sorotan publik atau melepaskannya sementara hingga pemberitaan negatif tentang dirinya berakhir.

Dan kemungkinan jawabannya adalah Yudhoyono tidak akan mengambil keputusan apa-apa. Publik pasti sudah sangat hafal bahwa Yudhoyono tidak sejantan sosoknya. Ia akan menggunakan tangan KPK untuk menimbang posisi Anas Urbaningrum sebagai ketua umum ketika KPK sudah resmi menetapkan statusnya. Dan itu artinya pendulum waktu tentang nasib Demokrat sebenarnya bukan berada ditangan ketua dewan pembina, tapi justru ditangan KPK.

Jika KPK berlama-lama, maka nasib demokrat sebagai partai politik pemenang pemilu akan semakin menjadi bulan-bulanan publik dan media. Dan hal itu tentu saja berdampak negatif bagi nasib partai politik itu kedepan.

Sebaliknya bagi Anas Urbaningrum, karir politiknya akan ditentukan oleh sejauhmana kepamrihan dan komitmen pribadi terkait kerja politik dan pengorbanan dirinya selama ini untuk partai demokrat dalam menghadapi permasalahan ini. Jika motto partai demokrat “Bersama kita bisa, dan lanjutkan “, maka apakah Anas Urbaningrum akan mengambil filosofi itu, yakni “Bersama kita hancur dan lanjutkan kehancuran partai demokrat itu bersama-sama” seperti yang saat ini tengah di lakukan Muhammad Nazarudin.

Asumsi tersebut barangkali sangat rasional karena pubik mengetahui bahwa kemenangan 53 persen suara Anas dalam pemilihan ketua Umum beberapa waktu lalu, sebagian besar disupport oleh pemilih akar rumput di 33 propinsi yang tersebar kedalam DPD dan DPC-DPC. Yudhoyono sadar betul bahwa kekuatan Anas Urbaningrum bukan di pusat, dan dikota besar, tapi di daerah-daerah hingga kepelosok desa. Dan Yudhoyono pastilah paham bahwa dengan melengserkan Anas, maka peluang terpecah dan hancur leburnya partai kian terbuka. Dan tentu saja jika itu terjadi, sokongan “penyelamatan” partai terhadap berakhirnya kekuasaan politik Yudhoyono tidak akan membuat Yudhoyono menjadi merasa aman dan nyaman pasca kepemimpinanya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: