ANDI TRINANDA

Beranda » ARTIKEL » Education Wisdom » Belajar dari Kisah Aisyah

Belajar dari Kisah Aisyah

Suatu ketika saya menyaksikan berita di televisi swasta. Dalam salah satu segmen, berita itu mengangkat perjuangan seorang anak kecil usia sekitar 8 tahun-an yang setiap hari menggowes sepeda yang dimodifikasi (disebut gerobak becak) untuk membawa ayahnya yang tergolek sakit tak berdaya. Ia bernama Aisyah (Siti Aisyah Pulungan) yang dengan telaten mengurus ayahnya dari suatu tempat ke tempat lain karena sudah tidak mampu lagi tinggal di sebuah rumah. Ayahnya (M Nawawi Pulungan, 56) yang dulu berprofesi sebagai sopir itu, sudah tidak mampu lagi bangun, apalagi bekerja untuk menafkahi hidupnya dan anaknya, Aisyah.

Liputan pemberitaan tersebut membuat saya miris, sekaligus malu terhadap diri saya sendiri. Miris karena menyaksikan bagaimana bocah delapan tahun yang sudah ditinggal Ibunya karena bercerai dengan ayahnya selama 7 tahun itu, seolah-olah hidup di negara antah berantah. Tak berpenduduk dan tak bertuan. Bayangkan, selama lebih setahun lebih Aisyah merawat ayahnya wara-wiri di kota besar, apapun ia lakukan, untuk sekedar makan agar bisa hidup. Jika ada uang lebih ia akan membeli obat untuk ayahnya.

Ia melakukannya dengan semangat walaupun kemiskinan papa menggelayut dalam hidupnya. Pertanyaanya adalah apakah tidak ada satu orang-pun yang iba menyaksikan keseharian bocah perempuan ini membawa-bawa ayahnya melewati keramaian kota Medan ? Apakah sudah tidak ada naluri kemanusiaan bagi masyarakat yang melihatnya ? Apakah tidak ada aparat atau petugas se-antero kota Medan yang menyaksikan kisah tragis tersebut ? Pertanyaan-pertanyaan itu, kontan menggentayangi fikiran saya.

Beruntung media menangkap dan menggugat aksi Aisyah tersebut kepada publik, yang kemudian baru setelah itu respons positif atas pemberitaan tentang Aisyah mengalir deras dari pejabat walikota Medan. Apapun motifnya, saya berfikir positif dan mengapresiasi tindakan Plt Wali Kota Medan Dzulmi Eldin, yang membawa Nawawi dan Aisyah ke RSU Pirngadi Medan, Rabu (19/3) malam, begitu kasus Aisyah diberitakan di media massa. Walaupun sejatinya adalah sangat elok dan bijaksana apabila kepedulian dan pertolongan kepada Aisyah itu seharusnya diberikan sebelum ia ditemukan media. Saya membayangkan lama dan menderitanya Aisyah hidup dalam ketidakpedulian orang-orang disekitarnya. Setahun lebih bocah sekecil itu berkelahi dengan waktu menggenjot becak gerobak, sebelum akhirnya ia “ditemukan” media.

Pemberitaan tersebut membuat saya sendiri juga malu. Saya menyaksikan betapa anak seusianya, tetap semangat dan tak ada ekspresi mengeluh merawat dan menjadi tulang punggung keluarga. Ketika ditanya wartawan, apa harapannya kedepan, Aisyah hanya menjawab bahwa dirinya hanya mau sekolah lagi dan bisa melihat ayahnya sembuh. Sungguh permintaan yang tulus. Aisyah menjawab lantang, tak ada sedikitpun ekspresi ia memelas dan meminta belas kasihan.

Aisyah kini bisa tersenyum bahagia setelah perjuangannya diliput media, saat ini banyak bantuan dan donatur mengalir kepadanya. Ia sekarang sudah bisa sekolah kembali, perawatan atas sakit ayahnya juga dibantu sepenuhnya oleh pemerintah daerah.  Semoga dengan apa telah Aisyah perjuangkan ini, harapan dan masa depannya akan kembali cerah.

Jujur saja, apa yang Aisyah lakukan itu, terus terang membuat saya malu dan teringat kedua orang tua saya. Bahwa walaupun saya tidak bernasib mengenaskan seperti Aisyah, saya merasa  belum ada apa-apanya jika dibandingkan dengan pengabdian dan perjuangan Aisyah yang bisa merawat dan menjaga orang tuanya.

Kisah Aisyah semoga juga menampar, sekaligus menginspirasi banyak orang. Termasuk menyadarkan negara yang diamanahkan oleh undang-undang untuk menjaga dan memelihara fakir miskin dan anak-anak terlantar. Aisyah adalah contoh salah satu kasus bahwa selama ini negara memang abai terhadap amanah undang-undang dasar 45  tersebut.

Kita miris, bahkan teramat miris, menyaksikan kehidupan Aisyah dan ayahnya. Yang lebih membuat kita miris, Aisyah hanyalah satu dari begitu banyak fakir miskin dan anak telantar yang semestinya dipelihara negara. Data statistik terakhir menunjukkan sedikitnya 5 juta anak masih hidup telantar di negeri ini.

Kisah yang dialami Aisyah menunjukkan kepada kita kondisi paling nyata dari derita anak-anak telantar dan fakir miskin yang ada di Indonesia. Kasus Aisyah juga menunjukkan kepada kita sisi kualitatif dari jutaan angka bisu kemiskinan dan ketelantaran. Pasti banyak anak telantar dan fakir miskin yang kondisinya lebih parah daripada Aisyah yang belum terungkap.

Sekali lagi, kasus Aisyah harus membuat seluruh penyelenggara negara diberikan kesadaran kembali, bahwa ada  perintah Pasal 34 ayat (1) UUD 1945 untuk memelihara fakir miskin dan anak-anak telantar. Perintah itu tegas dan jelas. Pengabaian dan pembiaran terhadap fakir miskin dan anak telantar bisa dikategorikan sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: