ANDI TRINANDA

Beranda » Publikasi

Publikasi


pramono-anung

Pramono Anung : Politik Bukan Sekedar Bicara

Mencari Pemimpin Masa Depan yang Konsisten Antara Ucapan dan Perbuatan

Setelah kejatuhan Suharto medio Mei 1998 lalu, kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia praktis mengalami perubahan drastis. Banyak pihak menyebut bahwa Indonesia di pasca eforia reformasi saat ini tengah begitu asyik masyuk kedalam zaman demokrasi liberal. Sebuah zaman dimana iklim kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara dilaksanakan dalam spektrum kehidupan yang sangat terbuka sebagai wujud era keterbukaan dalam demokratisasi di berbagai dimensi. Baik dimensi sosial, ekonomi, dimensi hukum, budaya maupun dimensi politik.

Namun demikian banyak pihak juga khawatir bahwa ditengah iklim yang makin terbuka seperti sekarang ini-jika kita tidak mau menyebutnya sangat liberal, maka keniscayaan untuk mewujudkan bangsa dan negara yang demokratis penuh etika, menjadi hal yang barangkali hanya utopia. Sebab saat ini saja begitu banyak dipertontonkan perilaku dan etika para pemimpin dan elit politik, baik yang dilakukan oleh penyelenggara negara hingga elit masyarakat didaerah dan mereka yang memiliki otoritas kekuasaan yang tidak memberikan contoh dan suri tauladan bagi masyarakat, terutama bagi generasi kita dimasa yang akan datang.

Berbagai fakta peristiwa, dari persoalan ekonomi, hukum, politik serta persoalan sosial di masyarakat kerap memberikan kita kecemasan yang luar biasa. Mau dibawa kemana bangsa ini kedepan ketika begitu telanjang dan kasat matanya kita dipertontonkan oleh budaya liberalisme yang tak terkelola dan kental dengan sikap serta perilaku anarkisme intelektual dalam berfikir.

Anarkisme intelektual inilah yang sejatinya memberikan kesan dan pemaknaan yang dalam akan kekhawatiran bagi generasi kita ke depan dalam melihat arah dan perkembangan Indonesia dimasa yang akan datang. Bagaimana mungkin bangsa ini bisa menciptakan sebuah pemimpin atau generasi penerus ketika proses kelahirannya justru di bidani oleh sebuah zaman dimana radikalisme berfikir kerap menjadi panglima dalam setiap upaya pemecahan masalah yang dihadapi bangsa.

Kita bisa tengok, berbagai persoalan bangsa saat ini. Dari persoalan kesenjangan pembangunan ekonomi, persoalan hukum, konflik politik dan sosial hingga persoalan ancaman disintegrasi bangsa akibat konflik horizontal antar kelompok masyarakat di Indonesia. Kesemua itu memberikan kesimpulan bahwasanya inilah dampak negatif dari pengelolaan kehidupan berbangsa dan bernegara yang meletakkan fundamental demokrasi liberal sebagai episentrum pelaksanaan nilai-nilai kehidupan dalam bermasyarakat.

Padahal sejatinya kita sudah memiliki fundamental kuat akan nilai-nilai tata kelola kehidupan berbangsa dan bernegara tersebut, yaitu Pancasila dan UUD 1945. Namun sayang, fundamental tata kelola tersebut hanyalah sebatas slogan kosong yang dimaknai hanya sebatas tekstualitas saja. Tidak secara kontekstual.

Akibat dampak negatif itulah kita harus segera bercermin. Kepada siapa kita bisa menitipkan masa depan bangsa ini ? Sementara etika dan perilaku politik penyelenggara dan pengelola negara kerap tidak memberikan kita keniscayaan dan rasa optimistis yang mendalam bahwa kita akan menjadi bangsa yang besar di kelak kemudian hari. Mengingat potensi konflik sosial, disintegrasi wilayah, potensi konflik politik dan persoalan ekonomi serta hukum yang karut marut masih jauh panggang dari api menuju arah kehidupan dan kesejahteraan bangsa ini secara konstruktif.

Dalam konteks itulah saat ini kita harus bisa menelaah dan mencermati bahwasanya ditengah era demokrasi dan keterbukaan saat ini, kita harus bisa memberikan catatan khusus bagi tokoh dan pemimpin Indonesia ke depan yang masih bisa memberikan kita oase digurun sikap pesimistis akan nasib bangsa ini kearah yang lebih baik.

Intinya kita membutuhkan sosok figur yang masih bisa memberikan kita harapan. Figur yang bisa memberikan cetak biru bagi wajah negara Indonesia kedepan yang demokratis dan menjunjung nilai-nilai keadilan dan kesejahteraan bagi rakyatnya.

Tentu, masih banyak tersedia di negeri ini para pemimpin bangsa yang bisa kita harapkan menjadi pemimpin yang amanah. Dan sudah seharusnya dari sekarang kita harus bisa mengidentifikasi siapa tokoh dan pemimpin itu. Pemimpin yang sejak awal kehadirannya selalu berfikir dan bersikap otentik serta konsisten dengan mind set dan perilaku politiknya yang konstruktif bagi kemaslahatan dan kesejahteraan rakyat.

Lebih lanjut pemimpin yang otentik itu adalah pemimpin yang saat ini mampu adaptif membangun positioning dirinya dengan komitment yang konsisten antara ucapan dan tindakan. Pemimpin yang memiliki kepekaan kuat terhadap berbagai masalah bangsa dan memecahkannya dengan sikap berfikir yang matang dan perilaku politiknya yang santun, namun tegas dan memiliki prinsip keberpihakan kepada rakyat.

Lebih jauh, sebagai masyarakat kita juga harus memberikan catatan tegas sekaligus sikap kritis yang obyektif agar para pemimpin yang saat ini masih konsisten berjuang dan mengabdi kepada rakyat itu, tidak terkontaminasi oleh kultur atau budaya politik saat ini yang cenderung destruktif, korup dan kerap melakukan berbagai cara untuk mencapai tujuan. Paling minim adalah kita sebagai rakyat setidaknya mampu memberikan proses penyadaran revolusioner bagi mereka. Bahwasanya rakyat akan menentukan pilihan politik dan memberikan amanahnya kepada pemimpin yang dikategorikan otentik tadi.

Pramono Anung adalah salah satu dari sekian banyak tokoh dan pemimpin politik itu. Sebagai salah satu politikus paling berpengaruh 2010 (versi Charta Politica), kiprah Pramono Anung memang menjanjikan sebagai salah seorang politikus panutan di negeri ini. Sebelumnya ia juga dinobatkan sebagai pemimpin muda berpengaruh 2008 versi majalah Biografi Politik.

Pramono Anung banyak dinilai publik sebagai politisi  yang berhasil memerankan diri dengan baik sebagai komunikator politik yang santun di antara tokoh politisi partai oposisi pemerintahan lainnya.

Lebih lengkap soal catatan saya mengenai beliau, dapat dilihat link dibawah ini Pramono Anung : Politik Bukan Sekedar Bicara


IMPLEMENTASI PENDIDIKAN PANCASILA SECARA KONSEKWEN DAN KONSISTEN : Sebuah Telaah Kritis dalam Upaya Menyelamatkan Ideologi Pancasila

Indonesia, adalah sebuah bangsa yang memiliki jatidiri dan identitas sebagai bangsa yang kuat, berdaulat dan berkepribadian, karena terbentuk melalui sebuah proses perjuangan panjang yang tumbuh ditengah peraduan kekayaan ragam kultur (budaya) lokal dengan sistem dan budaya kolonialisme dan imperialisme penjajahan bangsa asing. Dan memahami karakteristik, corak kepribadian dan sifat perjuangan atas kondisi obyektif yang dialami bangsa Indonesia itu, menurut Bung Karno (1958) merupakan jalan filosofis bagi sebuah bangsa untuk senantiasa berkontemplasi menyadari dan merenung mengambil pelajaran dari pengalaman sejarah.

Bung Karno mengingatkan bahwa corak kepribadian, kultur dan semangat nasionalisme yang sangat kuat melekat dalam bangsa Indonesia itu sudah tertuang dan berhasil dirumuskan, disaripatikan kedalam Pancasila sebagai filsafat kebangsaan, pandangan hidup, alat pemersatu dan cita-cita luhur perjuangan bangsa Indonesia. Itulah alasan mengapa falsafah dan nilai-nilai Pancasila sebagai pemersatu bangsa harus terus dikaji, dikembangkan dan dilestarikan. Sebab kedepan, menurut Bung Karno bangsa Indonesia akan menghadapi kondisi obyektif yang makin sulit. Bukan saja karena adanya ancaman imperialisme politik, ekonomi dan budaya Amerika, Belanda ataupun Inggirs, tapi ancaman yang jauh lebih besar, yakni imperalisme internasional.

Dalam konteks dan upaya agar Pancasila tetap dapat memiliki fokus perhatian oleh negara untuk dilestarikan, maka implementasi nilai-nilai Pancasila harus diletakkan secara ideologis dalam mind set kehidupan berbangsa dan bernegara. Dan untuk meletakkan Pancasila dalam mindset ideologis tersebut, jalan elementer yang paling rasional adalah dengan menimbang dan mengkonstruksi nilai falsafah Pancasila itu secara edukatif dalam bentuk formal – dialogis secara kritis dan ilmiah berdasarkan perspektif empiris, sosiologis dan yuridis. Tiga perspektif pendekatan kajian tentang nilai falsafah Pancasila melalui medium pendidikan – untuk membangun paradigma kritis tentang Pancasila yang ilmiah dan obyektif itulah yang menjadi konstruksi pembahasan dalam makalah ini.

Berdasarkan analisis penulis terdapat fakta kemunduran yang patut menjadi concern bagi masyarakat Indonesia. Yakni makin lemahnya paradigma berfikir masyarakat dalam memahami ideologi bangsanya sendiri. Yakni ideologi Pancasila sebagai dasar filsafat negara (sebagai landasan idiil, konstitusionil dan operasionil) dan sebagai alat pemersatu bangsa. Implikasi dari lemahnya paradigma tentang ideologi bangsanya sendiri itu tercermin dari iklim demokrasi yang sedang kita jalankan saat ini yang cenderung bergerak tanpa nilai. Ia tumbuh dan berkembang diatas paham egosentrisme, keterbukaan dan liberalisme berfikir yang pada akhirnya mereduksi konstruksi kepribadian dan jati diri bangsa. Dalam konteks ini Pancasila sebagai ideologi bangsa seolah tenggelam ditengah gelombang kedigdayaan demokrasi liberal yang berisi didalamnya masyarakat techno struktur yang kapitalis dan chaovinis akan kebebasan dan iberalisme berfikirnya.

Dalam upaya untuk melestarikan dan menyelamatkan ideologi Pancasila, berdasarkan hasil analisis dan beberapa solusi yang penulis sarankan dalam makalah ini, Penulis akhirnya dapat memberikan kongklusi bahwa salah satu sebab terjadinya proses pendegradasian pemahaman masyarakat tentang nilai-nilai ideologis Pancasila berpangkal tolak dari realitas pendidikan Pancasila diberbagai tingkatan maupun strata yang mengalami distorsi dalam tataran konsep, metodologi maupun implementasi.

Berangkat dari apa yang penulis analisis tetang peran pendidikan Pancasila, penulis meyakini bahwa upaya untuk mengkonstruksi dan melestarikan Pancasila adalah dengan cara membuka ruang yang seluas-luasnya kepada institusi atau lembaga pendidikan untuk melakukan perubahan yang revolusioner, baik dalam tataran konsepsi, metodologi pembelajaran dan indokrinasi, maupun dalam tararan implementasi. Sebab institusi atau lembaga pendidikan merupakan episentrum untuk memproduksi berbagai gagasan dan pemikiran ilmiah sekaligus kreatif dalam upaya mensosialisasikan, mengkaji dan menelaah kontekstualisasi dan relevansi nilai-nilai Pancasila, baik sebagai dasar dan filsafat negara, sebagai pandangan hidup maupun sebagai sumber dari segala sumber hukum konstitusi Indonesia.

Jalan elementer melalui pendidikan inilah yang sejatinya menurut penulis akan membuka jalan bagi institusi maupun komunitas lainnya untuk kemudian bersama-sama secara sinergis dan kolaboratif melakukan upaya kampanye yang sistematis, ilmiah dan rasional dalam rangka menempatkan Pancasila secara layak dan obyektif sebagai ideologi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Lebih lengkap artikel tersebut klik :   IMPLEMENTASI PENDIDIKAN PANCASILA SECARA KONSEKWEN DAN KONSISTEN


Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: